Terlambat Bangun Kilang Minyak, Indonesia Merugi 14 Triliun Tiap Tahun

0

Jakarta, Teritorial.Com – Pembangunan dan peningkatan kapasitas kilang bisa jadi solusi untuk menekan defisit neraca perdagangan Indonesia. Saat ini setidaknya sedang dikebut pembangunan 6 kilang, baik proyek baru (grass root refinery/GRR) maupun pengembangan (RDMP) yang jika ditotal bisa mendongkrak kapasitas kilang di Indonesia menjadi 2 juta barel sehari.

Namun, perkembangannya saat ini masih maju mundur. Kilang Cilacap, Tuban, dan Balikpapan masuk dalam antrian garapan.

Melansir CNBC Indonesia, kapasitas kilang Balikpapan akan naik sekitar 38% dengan adanya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) yang akan rampung pada 2023. Menurut Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Ignatius Tallulembang, kilang Balikpapan yang saat ini berkapasitas 260 MBSPD akan ditingkatkan menjadi 360 MBSPD.

Dengan adanya peningkatan ini, maka volume produk yang dihasilkan pun bertambah. Seperti produksi gasoline sebanyak 100 ribu barel per hari, diesel sebanyak 30 ribu barel per hari, LPG sebanyak 1.500 ton per hari dan produk propylene sebanyak 230 ribu ton per tahun.

“Peningkatan produk hasil dari Kilang Balikpapan ini tentunya akan menambah ketahanan dalam mencukupi kebutuhan energi nasional. Bukan hanya itu, tentunya juga akan berdampak pada penguatan devisa negara dan GDP Nasional,” ujar Tallulembang melalui keterangan resminya, Selasa (23/7/2019).

Nasib berbeda dialami oleh proyek Kilang Cilacap yang masih negosiasi alot dengan Saudi Aramco soal investasi, dan Kilang Tuban yang sempat terganjal soal lahan.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengatakan keberadaan kilang sangat signifikan untuk menekan defisit mengingat konsumsi BBM lebih tinggi ketimbang produksi.

“Konsumsi kita 1,4 juta barel sehari. Kilang hanya mampu mengolah maksimal 800 ribu sehari, sisanya harus diimpor baik impor bbm maupun minyak mentah,” kata dia di Cilacap, akhir pekan lalu.

Jika dihitung secara kasar saja, harga minyak dunia di level US$ 65 per barel dikali dengan 600 ribu maka sehari dibutuhkan hingga US$ 40 juta untuk impor.

“Setahun itu bisa US$ 14 miliar. Merujuk ke 2017-2018, setiap US$ 1 yang kita impor jika dibikin kilang maka ada penghematan 5 sen dari US$ 1 tersebut. Jadi setiap terlambat bangun kilang, ada opportunity lost senilai US$ 1 miliar atau Rp 14 triliun. Makanya kita dorong proyek RDMP.”

Share.

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: