Abdulrachman Saleh, Sosok Pahlawan Bangsa yang Melekat Dalam Sejarah TNI AU

0

Malang, Teritorial.Com – Kembali pada sejarah perjuangan bangsa, TNI AU perkenalkan kembali sosok Abdulrachman Saleh lebih dikenal sebagai nama lanud dan bandara di Malang. Pahlawan yang dihormati oleh TNI AU itu ternyata merupakan perintis Radio Republik Indonesia (RRI). Semangat kepahlawanan itulah yang dibangun melalui dialog yang digelar oleh LPP RRI Malang bekerjasama dengan Lanud Abd Saleh di hanggar Skuadron 32, Selasa (3/9/2019).

Hadir sebagai pembicara dalam dialog bertemakan ‘Membangun Semangat Kepahlawanan Abdulrachman Saleh Sebagai Perintis RRI dan Pejuang TNI AU’ ini, yakni Danlanud Abd Saleh Marsma TNI TNI Hesly Paat, Ketua Dewan Pengawas LPP RRI Mistam, serta sejarawan Universitas Negeri Malang Dewa Agung Gede Agung.

Dalanud Abd Saleh Malang, Marsma TNI Hesly Paat mengungkapkan, ada semangat Abdulrachman Saleh Malang yang kini harus dimiliki oleh taruna TNI AU, diantaranya inovatif, kreatif, serta multi talenta.
“Semangat yang dimiliki Abdulrachman Saleh semoga dapat diturunkan ke taruna akademi AU, sehingga taruna ini mahir dan terampil di tugasnya masing-masing,” katanya.

Menurutnya, pahlawan yang dijuluki ‘Karbol’ ini merupalkan sosok yang multi talenta. Tak hanya mahir di bidang penerbangan, namun juga ahli di bidang kedokteran, serta dunia penyiaran. “Beliau penerbang yang tangguh, perintis sekolah penerbang, dan sekolah radio. Untuk menghormati kepahlawanannya itulah, nama lanud di Malang menggunakan Abdulrachman Saleh,” tutur Danlanud.

Sejarawan Universitas Negeri Malang, Gede Agung mengungkapkan, meski wafat di usia 38 tahun, namun Abdulrachman Saleh telah berhasil mencatatkan namanya dalam sejarah perjuangan Indonesia. “Abdulrachman Saleh wafat di usia 38 tahun, tetapi pengabdiannya terhadap bangsa luar biasa. Beliau antariksawan, angkasawan RRI, cendikiawan, sekaligus negarawan. itu terbukti dengan jenjang pendidikan yang ditemupah serta organisasi yang diikutinya,” ungkap Gede.

Semangat kepahlawanan itu, sambung Gede Agung, tak hanya harus dimiliki oleh TNI AU, namun juga angkasawan RRI. “Untuk meneruskan perjuangan Abdulrachman Saleh, angkasan RRI harus ikut berkontribusi menanamkan nilai kebangsaan, serta menggelorakan kehidupan toleransi dan empati menerima perbedaan, bukan sekedar mengakui perbedaan. Semangat itulah yang harus ada di materi-materi siaran RRI,” ujarnya.

Senada dengan sejarawan, Ketua Dewan Pengawas LPP RRI, Mistam menegaskan, jika di era kemerdekaan, RRI bertugas menyiarkan berita kemerdekaan. Namun saat ini, output siaran RRI harus mempu membangun konektivitas greogafis, suku bangsa, dan agama demi keutuhan NKRI. “Meneladani pahlawan Abdulrachman Saleh sebagai perintis RRI, karakter disipilin, toleransi, cinta tanah air, dan semangat gotong royong RRI harus dimiliki angkasawan,” tandas.

Share.

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: