Diskusi Warung Kopi, Alumni UNHAN Bahas Proyeksi Bela Negara

0

Jakarta, Teritorial.Com – Pembahasan mengenai Bela Negara urgensitas tersendiri bagi keberlangsung kehidupan berbangsa dan bernegara ditengah maraknya berbagai bentuk tantangan dan acanaman terhadap upaya-upaya yang hendak memecah-belah kesatuan dan persatuan bangsa. Berkumpul dalam satu ruang diskusi sejumlah alumni Universitas Pertahanan Indonesia (Unhan) lintas generasi atau biasa disebut Cohort sepakat membahas mengenai keberlangsung dari proyeksi masa depan Bela Negara.

Dengan latar belakang serta profesi yang beragam mulai dari TNI/Polri, ASN Kementerian, Karyawan Swasta, Konsultan Publik, Jurnalis Media, hingga analis senior intelijen, diharapkan alumni Unhan sebagai kader intelektual Bela Negara mampu untuk menjawab atau setidaknya berperan serta dalam merumuskan berbagai konsep tentang perkembangan kemajuan seni ilmu pertahanan melalui wujud aktualisasi Bela Negara dalam menjawab ancaman serta tantangan yang muncul belakangan ini mulai dari saparatisme, radikalisme, terorisme hingga rasisme yang belakangan ini marak terjadi di sejumlah wilayah dengan tingkat kerawanan konflik horizontal yang sangat tinggi.

Memimpin “Diskusi Warung Kopi” disalah satu kafe bilangan Jakarta Pusat, Senin Malam (9/9/2019), Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama TNI Fajar Adriyanto, M.Si. (Han) yang juga merupakan alumni dari program studi (prodi) Manajemen Bencana menyoriti sejumlah tema yang akan dibahas mulai dari persoalan mendasar terkait dengan Bela Negara, landasan hukum, definisi, sinergitas dari semua pihak Kementerian/Lembaga, leading sector, serta aktualisasi Bela Negara.

Dalam tataran normatif Marsma Fajar melihat bahwa masih belum jelasnya definisi mengenai Bela Negara menyebabkan semua pihak (baik Kementerian/Lembaga dan masyarakat) memiliki persepsi yang berbeda mengenai Bela Negara. Selanjutnya, perbedaan persepsi tersebut menyebabkan masing-masing pihak memiliki strategi yang berbeda dan tidak bersinergi. Dengan demikian, diperlukan sebuah definisi yang seragam (bersifat nasional) mengenai Bela Negara agar semua pihak memiliki visi misi yang sama dan kemudian diimplementasikan dalam strategi Bela Negara yang saling bersinergi.

Polemik Definisi Bela Negara, Pemahaman, Hingga Aktualisasi

Analis Senior Bidang Intelijen dan Kajian Stratejik Andrea Abdul Rahman M.Si (Han), yang merupakan alumni prodi Manajemen Pertahanan meriview sejumlah hal penting yang perlu mendapatkan perhatian khusus oleh negara terkait implementasi Bela Negara secara luas. “Selain definisi, target/indikator keberhasilan Bela Negara juga harus diperjelas agar dapat diketahui seberapa jauh tujuan Bela Negara yang sudah tercapai. Selain itu, diperlukan juga prioritas aksi dalam implementasi program Bela Negara,” jelas Andrea.

Andera menambahkan bahwa sejauh ini tidak efektifnya sinergitas di antara Kementerian/Lembaga untuk melakukan Bela Negara pada akhirnya membuat masing-masing Kementerian/Lembaga memiliki strategi yang berbeda. Hal tersebut kemudian diperburuk dengan tidak adanya panduan bagi Kementerian/Lembaga dalam menjalankan program Bela Negara atau laporan implementasi Bela Negara dari masing-masing Kementerian/Lembaga. Masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa Bela Negara hanya dilakukan oleh TNI-Polri atau konsep pemikiran bahwa Bela Negara dilakukan dengan cara angkat senjata. Konsep berfikir seperti itu pada akhirnya membuat masyarakat tidak memahami bahwa setiap warga negara dapat mewujudkan sikap Bela Negara mereka melalui profesi masing-masing.

Adapun sejauh ini berbagai program yang telah dijalankan oleh berbagai Kementerian/Lembaga sudah hampir sepenuhnya mengarah pada pokok permasalahan yang dituju oleh Bela Negara. Namun panduan bagi Kementerian/Lembaga dalam menjalankan program Bela Negara atau laporan implementasi Bela Negara dari masing-masing Kementerian/Lembaga ternyata masih perlu untuk dilakukan agar menghindari adanya kesenjangan serta gesekan kepentingan yang pada akhirnya berujung pada ego sektoral masing-masing.

Banyak pihak masih belum menyadari bahwa energi yang dibahwa daripada platform Bela Negara memiliki dampak yang luas dan positif. Konstruksi pemikiran yang dibangun dengan jiwa nasionalisme kebangsaan justru seringkali menjadi hal yang terlupakan dalam aktualisasi Bela Negara. Pada praktiknya Bela Negara sendiri sudah menjadi hal yang melekat dalam kehidupan bernegara setiap masyarakat dimanapun berada. Bahkan dalam hal ini, warga negara dengan profesi hanya sebagai tukang sapu jalan sekalipun juga berperan sebagai unsur penting dalam Bela Negara. Seseorang yang berprofesi sebagai guru yang berada jauh dari bilangan Ibu Kota serta bekerja dengan dedikasi tinggi dan tanggungjawab profesi sebagai pengajar dalam mencerdaskan kehidupan anak bangsa juga masuk dalam unsur nyata Bela Negara.

Menanggapi hal tersebut, Kang Jajang sapaan akrab salah seorang alumni Unhan prodi Ekonomi Pertahanan yang kini berprofesi sebagai staf ahli untuk salah satu parpol di DPR RI sekaligus peneliti di Universitas Indonesia mengingatkan perlu adanya kajian khusus mengenai sinergitas Kementerian/Lembaga termasuk di dalamnya TNI-Polri. Hal ini untuk menghindari adanya gesekan kepentingan yang terjadi antara Kementerian/Lembaga terkait aktualisasi Bela Negara.

Adapun tahap awal yang harus dipenuhi adalah fungsional, peran dan tugas masing-masing lembaga. Sebagaimana contoh Wantanas dalam hal ini sebagai think-tank pemerintah untuk memuluskan jalannya platform Bela Negara, Kementerian Pertahanan sebagai Leading Sector dalam hal materi-materi khusus terkait pendalaman Pancasila, UUD serta regulasi yang nantinya akan dipertanggungjawabkan kepada pemerintah. Kang Jajang selanjutya juga menyadari bahwa tidak menutup kemungkinan bahwa di dalam kasus-kasus tertentu bisa saja Kemhan tidak menjadi leading sector-nya, memainkan Kementerian lain yang memang memiliki spesifikasi khusus untuk menyelesaikan atau mengatasu tantangan dan ancaman yang tengah dihadapi negara.

Bela Negara Sama Dengan Paramiliter, Latsarmil, Wajib Militer ?

Kadispenau mengarisbawahi bahwa proses yang terjadi saat ini adalah masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa Bela Negara hanya dilakukan oleh TNI-Polri atau konsep pemikiran bahwa Bela Negara dilakukan dengan cara angkat senjata. Konsep berfikir seperti itu pada akhirnya membuat masyarakat tidak memahami bahwa setiap warga negara dapat mewujudkan sikap Bela Negara mereka melalui profesi masing-masing.

Rendahnya rasa Bela Negara ditengah masyarakat salah satunya ditengarai karna masih ada kesenjangan sosial ekonomi. Salah satu pandangan menarik terkait Bela Negara lainnya dikemukan oleh Iqbal salah satu perserta diskusi yang berasal dari prodi Ketahanan Energi Cohort 2 yang saat ini tengah menempuh pendidikan di Lemhanas, mengatakan selain konstruksi pemikiran, pembahasan Bela Negara juga merupakan landasan energi yang dimiliki tiap-tiap individu.

“Jika energi dikelola dengan baik, maka hal tersebut dapat memberikan efek domino untuk sektor lainnya. Dampak positif tersebut dapat membantu pemerintah dalam berbagai sektor seperti pendidikan atau ekonomi. Jika terlaksana dengan baik, maka kesenjangan ekonomi dan sosial dapat terselesaikan. Selanjutnya, hal tersebut dapat membantu pemerintah untuk mengimplementasikan program Bela Negara dengan efektif, karena masyarakat sudah merasa sejahtera”,tegas Iqbal.

Adapun dari sudut pandang yang lebih kekinian alumni prodi Diplomasi Pertahanan yang juga mantan Ketua Pewarta Foto Indonesia Septiawan menambahkan bahwa sosialiasasi Bela Negara kepada masyarakat dapat dilakukan melalui media sosial. Masifnya penggunaan media sosial di tengah masyarakat membuat media sosial menjadi sebuah media sosialisasi Bela Negara digital yang dinilai cukup efektif. Pemerintah perlu menjalin kerjasama dengan pihak swasta melalui Corporate Social Responsibility (CSR) untuk mensosialisasikan Bela Negara di tengah masyarakat, dengan cara mengintegrasikan program yang dimiliki oleh CSR dengan Bela Negara.

Mengiatkan sosialisasi kepada masyarakat bahwa mereka dapat mewujudkan sikap Bela Negara melalui profesi mereka masing-masing, karena Bela Negara tidak selalu berhubungan dengan militer. Dengan demikian maka aktualisasi Bela Negara sejatinya dapat menyedot berbagai bentuk sumber dan kekuatan yang ada untuk terjun dan berpartisipasi didalamnya. Hal tersebut tentunya akan menjadi terobosan yang cukup menarik, dimana langkah ini akan membuktikan dan membuka peluang bagi para perusahaan-perusahaan swasta untuk turut memenuhi unsur standar terpenting dalam melakukan Bela Negara.

Share.

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: