Purnomo Yusgiantoro: Pertahanan Negara Kuat Ditopang Dengan Ketahanan Energi

0

Jakarta, Teritorial.Com – Energi sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Masyarakat luas lebih condong memandang energi pada definisi ekonomis. Padahal energi juga erat kaitannya dari sudut pandang pertahanan. Untuk itulah dalam kesempatannya menjadi dosen tamu di Universitas Pertamina Prof. Ir Purnomo Yusgiantoro, M.Sc., M.A., Ph.D menekankan pada pembahasan kebijakan energi pertahanan untuk Indonesia.

Dalam kuliah umum bertajuk “Memahami Energi Pertahanan untuk Studi Hubungan International” pada tanggal 30 Oktober 2019 di Auditorium Griya Legitan lt.3 Universitas Pertamina, mantan Menteri Pertahanan periode 2009-2014 Prof Purnomo sapaan akrab beliau menegaskan bahwa perhatian Universitas Pertamina yang memiliki visi menjadi kampus energi di masa mendatang. Sebagai salah satu pelopor berdirinya Universitas Pertahanan Indonesia, Prof. Purnomo membagikan pengalamannya selama menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (tahun 2000-2009), Menteri Pertahanan Republik Indonesia (tahun 2009-2014), Presiden Opec (2004).

Kuliah umum diawali dengan pembahasan prinsip dasar hubungan internasional dari perspektif pertahanan yaitu kedaulatan, dilanjut dengan kepentingan pemenuhan akan energi bagi strategis pertahanan negara, serta stabilitas regional dan perdamaian dunia. Baginya pertahanan perlu ditunjang oleh energi dan kehadiran energi juga perlu ditunjang oleh pertahanan.  Terutama di daerah perbatasan yang memiliki isu sensitif sehingga energi dan pertahanan dapat saling menguatkan dengan bersinergi. Misalnya dengan melibatkan dua kebijakan strategis yaitu kebijakan energi nasional dan pertahanan negara.

Sejarah membuktikan bahwa energi menjadi salah satu penyebab konflik hingga perang antar negara. Di era perang dunia pertama dan ke dua, energi menjadi sesuatu hal yang sangat diperebutkan oleh hampir seluruh negara-negara di dunia yang terlibat dalam perang. Sejarah panjang perang dunia hingga Perang Dingin yang menyeret dunia menjadi dua kutub yang saling bersebrangan tidak lain karena dipengaruh oleh perebutan sumber daya alam berupa minyak dan gas saat itu.

Di era modern, perebutan sumber daya energi yang menyebabkan antar negara berkepanjangan saat ini tengah berlangsung di Laut China Selatan. Tidak hanya letaknya yang sangat strategis bagi geopolitik kawasan konflik LCS yang didalamnya sangat kental dengan muatan polemik perdebatan atas kepemilikan serta pengelolahan sumber dayan energi di LCS membuat kini hampir seluruh negara claiment state mengupayakan arah geostratgi untuk dapat bertarung dalam konstelasi politik yang tengah berlangsung.

“Hubungan Internasional adalah salah satu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kita. Apalagi dalam situasi sekarang dimana proses globalisasi terus berlangsung dari waktu ke waktu. Dengan demikian, saya ingin mendorong mahasiswa di program studi hubungan internasional akan terus menekuni ilmunya dan mengembangkannya di masa yang akan datang. Apalagi kalau itu dikaitkan dengan hal-hal yang berkait dengan energi. Saya kira itu sangat baik sekali,” pungkasnya.

Share.

Comments are closed.