Kisah Cinta Raja Mataram Dibalik Ritual Labuhan Merapi

0

Magelang, Teritorial.Com – Tradisi Labuhan Merapi yang digelar, Minggu (7/4/2019), menyedot ribuan orang untuk ikut serta dalam ritual. Mereka berharap selalu mendapatkan keselamatan dan ketenteraman jiwa. Ritual yang digelar dalam rangka Tingalan Jumenengan Ndalem (ulang tahun kenaikan tahta) Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X tersebut dimulai tepat pukul 07.00 WIB.

Juru Kunci Gunung Merapi, Mas Kliwon Surakso Harga atau biasa disapa Mas Asih mengawali ritual Labuhan Merapi dengan memanjatkan doa di petilasan kediaman Mbah Maridjan di Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. Selesai berdoa, Mas Asih memimpin arak-arakan abdu dalem dan masyarakat dengan membawa ube rampe dari Keraton Yogyakarta menuju tempat labuhan di Sri Manganti di kaki Gunung Merapi. Butuh waktu 1,5 jam untuk sampai ke lokasi dengan berjalan kaki.

Sesampai di Sri Manganti, ube rampe yang berada di dalam kotak kayu lalu dikeluarkan. Ada 11 jenis uba rampe, masing-masing sinjang cangkring, sinjang kawung kemplang, semekan gadhung, semekan gadhung mlathi, semekan bangun tulak, kampuh poleng ciut, dhestar dara muluk, dan paningset udaraga, masing-masing berjumlah satu lembar.

Kemudian sela (kemenyan), ratus (taburan menyan) dan liyah konyoh (minyak wangi), yatra tindhih (uang tindih) satu amplop serta ses wangen (rokok harum) satu contong dan kambil wathangan. Seluruh uba rampe itu digelar di atas altar labuhan. Prosesi labuhan dilanjutkan dengan membakar sela ratus atau kemenyan. Ritual ini sebagai awal menghaturkan barang labuhan kepada Tuhan, melalui penjaga Gunung Merapi, yaitu Empu Rama, Empu Ramadi, Gusti Panembahan Prabu Jagad (Sapujagad), Krincing Wesi, Branjang Kawat, Sapu Angin, Mbok Ageng Lambang Sari, Mbok Nyai Gadhung Mlati dan Kyai Megantoto.

Setelah itu, pembacaan doa yang dipimpin oleh pemuka agama. Seusai memanjatkan doa untuk memohon keselamatan, keamanan, kesejahteraan dan ketentraman wilayah DIY. Prosesi labuhan diakhiri dengan dengan pembagian nasi berkat, lauk, dan jajanan pasar kepada abdi dalem dan masyarakat yang mengikuti prosesi itu.

Sejarah Labuhan Merapi

Menurut cerita rakyat yang diungkap Lucas Sasongko Triyoga dalam bukunya Manusia Jawa dan Gunung Merapi (Gadjah Mada University Press, 1991), sewaktu Pulau Jawa diciptakan para desa, keadaannya tidak seimbang. Miring ke barat karena di terdapat Gunung Jamurdipo di ujung barat.

Dewa Krincingwesi lalu merekomendasikan Gunung Jamurdipo ke bagian tengah. Di saat bersamaan di bagian tengah Pulau Jawa terdapat dua empu kakak beradik, yakni Empu Rama dan Permadi. Keduanya yang sedang membuat keris pusaka Tanah Jawa lalu diminta untuk memindahkan aktivitasnya. Namun lantaran kedua empu tidak mau pindah, Dewa Krincingwesi murka. Dia mengangkat Gunung Jamurdipo lalu menjatuhkannya tepat di lokasi kedua empu membuat keris. Empu Rama dan Permadi akhirnya meninggal terkubur hidup-hidup.

Untuk memperingati peristiwa itu, Gunung Jamurdipo kemudian diubah menjadi Gunung Merapi. Artinya, tempat perapian Empu Rama dan Empu Permadi. Roh kedua empu itu kemudian menguasai dan menjadi raja dari segala mahluk halus yang menempati Gunung Merapi.

Labuhan Merapi, Tanda Cinta Raja Mataram kepada Penghuni Merapi

Gunung Merapi dalam perkembangannya lalu memiliki hubungan erat dengan Danang Sutawijaya atau lebih populer disebut Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram. Dalam peperangan melawan Kerajaan Pajang, Panembahan Senopati dengan bantuan penguasa Merapi, akhirnya memperoleh kemenangan. Gunung Merapi meletus hingga menewaskan pasukan tentara Pajang, sisanya lari pontang-panting ketakutan.

Dalam kepercayaan masyarakat, di Puncak Merapi ada sebuah keraton yang mirip dengan Keraton Mataram. Keraton ini diperintah oleh Empu Rama dan Empu Permadi. Selayaknya, organisasi pemerintahan, keduanya juga memiliki pembantu yang memiliki tugas berbeda-beda. Misalnya, Kyai Sapu Jagad bertugas mengatur alam Gunung Merapi, Nyai Gadung Melati bertugas memelihara kehijauan Merapi, Kartadimeja bertugas memelihara ternak keraton dan komandan pasukan mahluk halus. Lalu ada pula Kyai Petruk yang dikenal sebagai salah satu prajurit Merapi.

Atas jasa-jasa yang diberikan para penghuni Gunung Merapi, masyarakat yang dikoordinasi oleh Panembahan Senopati lalu memberikan semacam upeti dalam bentuk upacara-upacara ritual keagamaan. Selain bentuk ucapan terima kasih, upeti juga diberikan sebagai wujud cinta kepada Gunung Merapi.

Tradisi ini kemudian dilanjutkan oleh raja-raja Mataram, anak keturunan Panembahan Senopati hingga saat ini. Upacara ini digelar rutin setiap tahun pada 30 Rajab penanggalan Jawa. Upacara Labuhan Merapi dipimpin oleh juru kunci Merapi yang kini menjadi tanggung jawab Mas Kliwon Surakso Harga atau biasa disapa Mas Asih, anak turunan Mbah Maridjan yang kesohor itu.

Share.

Leave A Reply

%d blogger menyukai ini: