Warisan Syiar Islam Sunan Nyamplungan di Pulau Karimunjawa

0

Semarang, Teritorial.Com – Aktifitas syiar agama Islam di Pulau Jawa, ternyata menyebar hingga kawasan kepulauan yang jauh dari daratan. Seperti yang dilakukan Syekh Amir Hasan di Kepulauan Karimunjawa, wilayah Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Di kepulauan yang ada di Laut Jawa ini, Sunan Nyamplungan (nama panggilan Syekh Amir Hasan) mewariskan nilai-nilai kerukunan dan keharmonisan antarsuku yang lestari hingga sekarang.

Sayup-sayup terdengar bacaan tahlil dari puncak bukit yang masuk wilayah Dukuh Nyamplungan, Desa Karimunjawa. Ada puluhan anak tangga yang harus ditapaki satu persatu agar bisa sampai di pemakaman yang dikepung pepohonan kawasan Balai Taman Nasional (BTN) Karimunjawa tersebut. Sekilas, makam tersebut lebih panjang dari ukuran lazimnya. Biasanya makam warga hanya sepanjang 2 meteran. Namun makam ini panjangnya sekitar 4 meter dengan lebar 2,5 meter.

Juru kunci makam tersebut, Marukan (67) mengatakan “penghuni” kuburan tersebut adalah Syekh Amir Hasan. Banyak versi terkait jati diri Syekh Amir Hasan. Namun menurut cerita turun-temurun yang berkembang di Karimunjawa, Syekh Amir Hasan adalah keturunan Sunan Muria-salah seorang penyebar Islam di Pulau Jawa yang terkenal dengan sebutan Walisongo.

Berdasar cerita leluhur, kata Marukan, akivitas syiar Syekh Amir Hasan dilakukan dengan damai dan teduh sehingga menarik minat warga untuk masuk Islam. Dan hasilnya, penduduk Karimunjawa era abad 15 atau 16 hingga sekarang secara turun-temurun juga beragama Islam. “Sunan Nyamplungan jadi tokoh panutan warga. Hingga sekarang kalau warga mau punya hajat pasti ziarah ke makam. Mendoakan dan istilahnya juga “minta restu” karena Sunan Nyamplungan memang dianggap tokoh masyarakat,” kata Marukan dilansri dari Koran Sindo setahun yang lalu.

Ada enam suku yang menghuni Kepulauan Karimunjawa. Yakni Suku Bugis, Madura, Jawa, Buton, Bajo dan Mandar. Mereka mengelompok di berbagai titik yang berbeda. Seperti Suku Bugis dengan rumah panggungnya di Batulawang, Suku Madura tinggal di kawasan Legon Bajak Kemojan, lalu Suku Buton di Desa Karimunjawa dan lain sebagainya.

Sekretaris Yayasan Safinatul Huda Karimunjawa, Hisyam Zamroni mengatakan berdasar catatan penjelajah Belanda, sekitar abad 15 wilayah Karimunjawa sudah ramai. Sebab kawasan tersebut menjadi lokasi transit kapal dari berbagai wilayah yang melintas di pesisir utara Pulau Jawa. Waktu itu, Karimunjawa yang dikenal dengan nama Pulau Pawinihan dihuni oleh banyak suku. Bahkan lebih banyak dibanding saat ini.

Syekh Amir Hasan, kata Hisyam, memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat. Saat itu, Pulau Pawinihan merupakan tanah perdikan dan Syekh Amir Hasan yang menjadi “penguasa”. Ia sangat bijak saat mengatur masyarakat, sehingga tidak muncul konflik baik antarsuku maupun antarpribadi di Karimunjawa.
“Dan warisan itu lestari hingga sekarang. Tidak ada konflik di Karimunjawa sampai hari ini. Kalau tak percaya coba saja cek langsung ke lapangan,” katanya.

Salah satu upaya yang dilakukan Syekh Amir Hasan untuk mempersatukan berbagai suku di Karimunjawa lewat jalan dakwah bil hikmah. Syekh Amir Hasan adalah seorang mursyid thoriqoh. Dan hal ini terkonfirmasi dengan ‘kesaksian” berbagai tokoh Karimunjawa seperti Mbah Ali Jangguk asal suku Bugis yang hidup sebelum Indonesia merdeka. Thoriqoh yang dilakukan sama dengan Syekh Yusuf Al Maqossory, Sulawesi. “Makanya Islam di Karimunjawa sangat santun karena ada thoriqoh. Dakwahnya simpel tapi mengena sesuai karakter masyarakat,” kata Wakil Ketua PCNU Jepara ini.

Saat berdakwah, Syekh Amir Hasan menggunakan berbagai piranti lokal. Nama berbagai jenis kayu yang hingga kini digunakan warga Karimunjawa untuk berbagai kepentingan mulai dari bahan bangunan, perabot rumah hingga suvenir merupakan hasil penamaan oleh Syekh Amir Hasan. Seperti kayu Stigi, Dewadaru dan Kalimasada. Nama-nama tersebut tentu saja mengandung nilai filosofis yang sangat tinggi dan berhubungan dengan Sang Pencipta. “Terlepas dari khasiat kayu itu, tapi memang ada makna di balik namanya. Semisal Kalimosodo itu maksudnya kalimat syahadat yang tujuannya mengakui Keesaan Allah SWT. Itu sangat dasar sekali,” papar Hisyam.

Sektor pariwisata Karimunjawa yang terus menggeliat bahkan hingga mancanegara, menurut Hisyam, menjadi tantangan tersendiri bagi eksistensi “warisan” Syekh Amir Hasan. Hisyam berharap sektor pariwisata yang dibarengi masuknya beragam budaya asing tak merongrong kearifan lokal warga Karimunjawa yang relijius. Ia juga berharap pemerintah berperan aktif dalam upaya tersebut. Semisal dengan membuat peraturan yang berisi zonasi kawasan wisata, pemukiman masyarakat dan lainnya. “Kita tidak ingin seperti Bali. Dimana turis dengan bikini dengan bebasnya berjalan di pemukiman warga. Ini tak baik untuk generasi muda Karimunjawa. Biarlah mereka tetap melanjutkan warisan Syekh Amir Hasan,” katanya.

Dikutip Dari Berbagai Sumber 

Share.

Leave A Reply

%d blogger menyukai ini: