TERITORIAL.COM, JAKARTA – Fenomena flexing, memamerkan kekayaan, gaya hidup mewah, atau pencapaian fantastis di media sosial bukan lagi hal baru.
Seringkali, tindakan ini dipandang negatif sebagai bentuk kesombongan atau pamer yang berlebihan.
Namun, jika ditelusuri lebih dalam, psikologi di balik flexing jauh lebih kompleks daripada sekadar ingin pamer.
Lantas, apa saja alasan utama yang mendorong seseorang untuk melakukan flexing? Ternyata, dorongan utamanya seringkali berasal dari kebutuhan mendasar manusia akan pengakuan, penerimaan, dan validasi.
1. Mencari Validasi dan Pengakuan Sosial
Ini adalah salah satu motif paling kuat. Di dunia nyata, pengakuan bisa memakan waktu untuk didapatkan.
Di media sosial, pengakuan bisa didapat secara instan melalui jumlah Likes, komentar, dan followers.
Ketika seseorang memposting barang mahal atau liburan mewah, ia secara tidak langsung mencari persetujuan dari lingkungannya bahwa ia telah “berhasil” dan hidupnya “patut dicontoh.”
Flexing menjadi cara pintas untuk mendapatkan status sosial dan rasa hormaT yang mungkin terasa kurang di kehidupan sehari-hari.
2. Peningkatan Self-Esteem dan Rasa Percaya Diri
Bagi sebagian orang, flexing adalah upaya untuk menutupi rasa tidak aman (*insecurity*) atau rendah diri.
Memamerkan kepemilikan atau pencapaian tertentu dapat memberikan dorongan sementara pada harga diri (self-esteem).
Mereka merasa lebih berharga dan kuat ketika melihat respons positif dari orang lain terhadap apa yang mereka pamerkan.
Intinya, pameran materi atau kesuksesan berfungsi sebagai perisai atau topeng untuk mengatasi kerentanan emosional pribadi.
3. Pembentukan Citra Diri (Self-Image)
Media sosial adalah panggung tempat kita membangun dan menampilkan identitas yang kita inginkan.
Orang yang flexing berupaya keras untuk membentuk citra diri sebagai pribadi yang **sukses, bahagia, dan memiliki segalanya.
Citra ini penting, terutama bagi mereka yang menggunakan media sosial sebagai platform profesional (seperti influencer atau pebisnis) di mana penampilan luar dapat memengaruhi peluang dan kredibilitas.
Mereka ingin publik melihat versi terbaiK dan termewah dari diri mereka.
4. Tekanan Sosial dan Perbandingan (Fear of Missing Out)
Dalam budaya media sosial, setiap orang seolah berlomba memamerkan kehidupan terbaik.
Fenomena ini menciptakan tekanan sosial untuk ikut menunjukkan kesuksesan agar tidak tertinggal.
Ketika seseorang terus-menerus melihat teman atau kenalan memamerkan aset baru, secara tidak sadar muncul dorongan untuk melakukan hal serupa.
Perasaan “harus terlihat berhasil” ini didorong oleh psikologi perbandingan sosial, di mana nilai diri sering diukur berdasarkan bagaimana kita dibandingkan dengan orang lain.
5. Menarik Perhatian dan Popularitas
Tidak dipungkiri, konten yang melibatkan kemewahan, uang, atau gaya hidup ekstrem cenderung lebih menarik perhatian dan berpotensi viral.
Bagi mereka yang ingin meningkatkan popularitas atau memperluas jangkauan (*each) di media sosial, flexing adalah strategi yang efektif.
Semakin banyak perhatian yang didapatkan, semakin besar pula popularitas dan potensi keuntungan (terutama bagi content creator atau figur publik).
Meskipun flexing dapat memberikan kepuasan instan, para ahli psikologi sering mengingatkan bahwa kebahagiaan yang didasarkan pada validasi eksternal biasanya bersifat sementara.
Ketergantungan pada ‘Likes’ dan komentar untuk merasa baik tentang diri sendiri dapat menciptakan kesenjangan yang berbahaya antara realitas hidup seseorang dengan citra yang ditampilkan di media sosial.
Pada akhirnya, flexing adalah cerminan dari kebutuhan manusia untuk diakui dan diterima.
Bukan selalu tentang pamer, melainkan seringkali tentang upaya mencari makna dan meningkatkan nilai diri dalam lanskap digital yang penuh persaingan.
(*)

