TERITORIAL.COM, JAKARTA – Dalam Sidang Majelis Umum PBB pada Senin (22/9/2025), Konferensi Tingkat Tinggi resmi menyatakan dukungan terhadap pengakuan Palestina dan mendorong penerapan solusi dua negara,
Sidang puncak Majelis Umum PBB ini menandai titik penting bagi diplomasi Palestina, di mana sejumlah negara memberikan pengakuan resmi atas Palestina sebagai negara merdeka.
Gelombang Pengakuan Baru
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menegaskan langkah tersebut sebagai strategi untuk menghidupkan kembali solusi dua negara atau two-state solution.
Negara-negara Eropa kecil seperti Andorra, Belgia, Luksemburg, Malta, dan Monako turut menegaskan pengakuan serupa.
Selain itu, pada hari sebelumnya, Inggris, Australia, Kanada, dan Portugal juga mengumumkan pengakuan mereka.
Dengan tambahan ini, jumlah negara anggota PBB yang mengakui Palestina naik menjadi 156 dari 193 negara.
Tekanan Diplomatik Global
Pengakuan baru itu juga meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Israel, dengan Belgia dan Italia yang sama-sama mensyaratkan pembebasan sandera serta keluarnya Hamas dari pemerintahan Palestina.
Sebagai respons atas dinamika tersebut, muncul perbedaan sikap dari para pemimpin dunia terkait konsekuensi politik dan keamanan dari pengakuan Palestina.
Presiden AS Donald Trump menyebut pengakuan Palestina hanya akan memperdalam konflik, sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan akan terus melanjutkan operasi militer di Gaza.
Indonesia Tegaskan Komitmen
Di antara berbagai tanggapan dari negara-negara lain, Indonesia tetap menunjukkan ketegasan dalam memberi dukungan bagi Palestina.
Presiden Prabowo Subianto menyatakan pengakuan internasional terhadap Palestina merupakan “tanggung jawab moral dan historis.”
Selain itu, Prabowo juga menegaskan Indonesia hanya akan mempertimbangkan pengakuan terhadap Israel jika negara tersebut lebih dulu mengakui Palestina secara resmi.
Dukungan Vokal dari Amerika Latin
Tak hanya dari Eropa dan Asia, dukungan paling lantang justru datang dari kawasan Amerika Latin.
Sejumlah pidato para pemimpin Amerika Latin tampil paling vokal dalam menyuarakan dukungan bagi Palestina.
Brazil menegaskan pengakuan Palestina sebagai wujud keadilan dan bukti solidaritas Global South, sekaligus menarik duta besarnya dari Israel sebagai bentuk protes.
Selain pernyataan dari Brazil, Meksiko juga turut mengakui Palestina dan memperkuat hubungan bilateral dengan menerima duta besar Palestina.
Presiden Claudia Sheinbaum menyebut langkah itu sebagai komitmen pada keadilan internasional.
Sementara itu, Bolivia, Venezuela, Kuba, dan Nikaragua terus menyerukan solidaritas terhadap Palestina di forum bilateral maupun regional, menempatkan Palestina sebagai simbol perjuangan antikolonialisme.
Di sisi lain, Presiden Gustavo Petro memimpin langkah berani Kolombia dalam mendukung Palestina dengan membuka kedutaan besar di Ramallah sebagai pengakuan resmi sekaligus penguatan hubungan bilateral.
Ia juga menarik duta besar Kolombia dari Israel untuk memprotes kebijakan dan operasi militer Israel di Gaza yang dinilai melanggar nilai kemanusiaan.
Dengan kebijakan ini, Kolombia menegaskan posisinya di garis depan solidaritas Global South dalam memperjuangkan keadilan bagi Palestina.
Tantangan ke Depan
Dukungan internasional terhadap Palestina semakin menguat, namun dampaknya di lapangan masih terbatas karena Israel tetap menolak perubahan status quo dan konflik di Gaza serta Tepi Barat terus berlanjut. .
Meski begitu, gelombang pengakuan baru memberi Palestina peluang memperkuat posisi diplomatik di forum global, memperluas legitimasi hukum, dan menekan Israel melalui jalur multilateral.

