Kultura

Melawan Zaman di Rimba Jambi: Potret Kehidupan, Tradisi Unik, dan Asal-Usul Suku Anak Dalam

Melawan Zaman di Rimba Jambi: Potret Kehidupan, Tradisi Unik, dan Asal-Usul Suku Anak Dalam

TERITORIAL.COM, JAKARTA – Suku Anak Dalam (SAD) belakangan ini kerap disorot usai terseret kasus penculikan balita korban praktik perdagangan anak lintas provinsi.

Korban ditemukan selamat pada Sabtu (08/11/2025) malam di pemukiman warga Suku Anak Dalam di SPE Gading Jaya, Kecamatan Tabir Selatan, Kabupaten Merangin, Jambi.

Seperti berita yang beredar, Suku Anak Dalam mengaku tidak mengetahui bahwa ia adalah korban penculikan.

Peristiwa tersebut kembali menjadi sorotan dalam kehidupan komunitas adat terpenci tersebut yang tinggal di wilayah pedalaman Jambi.

Suku Anak Dalam dikenal sebagai kelompok masyarakat yang masih percaya dan memegang teguh tradisi nenek moyang dan hidup berpindah di pedalaman hutan Jambi.

Walaupun kini sebagian dari merekan sudah mulai beradaptasi dengan kehidupan modern, banyak di antara mereka yang tetap mempertahankan adat istiadat dan cara hidup tradisional.

Seperti yang dilansir dari Kementerian Pendidikan Dasa dan Menengah (Kemendikdasmen) RI, Suku Anak Dalam merupakan satu suku asli yang menetap di wilayah pedalaman pulau Sumatera.

Mereka pun jadi sebagai salah satu suku terasing sekaligus suku minoritas yang menetap di wilayah Provinsi Jambi dan Provinsi Sumatera Selatan.

Ada beberapa sebutan lain bagi Suku Anak Dalam, mulai dari Suku Kubu, Orang Rimba, atau Orang Ulu. 

Sebagai Orang Rimba, mereka dikenal sebagai penghuni hutan yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD) dan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT).

Suku Anak Dalam tersebar di enam kabupaten, yaitu Kabupaten Bungo, Kabupaten Tebo, Kabupaten Sarolangun, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, dan Kabupaten Batanghari. 

Dalam tradisi lisan dijelaskan bahwa asal-usul nenek moyang Suku Anak Dalam berasal dari Maalau Sesat. 

Nenek moyang mereka melakukan pelarian ke hutan rimba di Air Hitam, Taman Nasional Bukit 12. 

Orang Maalau Sesat yang lari tersebut kemudian disebut Moyang Segayo.

Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa bahwa Suku Anak Dalam berasal dari Pagaruyung yang mengungsi ke Jambi.

Pendapat tersebut diperkuat dengan kesamaan bahasa dan tradisi antara Suku Anak Dalam dengan Minangkabau, seperti sistem kekerabatan matrilineal yang ternyata juga dianut oleh suku ini. 

Masyarakat adat ini dikenal primitif karena sebagian masih bertahan dengan tradisi lama, walaupun saat ini sebagian masyarakatnya telah tersentuh teknologi.

Mereka juga hidup secara berpindah-pindah atau nomaden di kawasan hutan-hutan belantara tersebut. 

Kehidupan sehari-harinya diatur dengan aturan, norma, dan adat istiadat yang berlaku sesuai dengan budaya mereka.

Tak hanya itu, mereka memiliki sistem kepemimpinan yang berjenjang, mulai dari Temenggung, Depati, Mangku, Menti, dan Jenang. 

Suku Anak Dalam menggunakan beberapa kosakata sebagai cara untuk bertutur.

Kosakata yang digunakan berupa kosakata tradisi, kosakata pengambilan makanan, kosakata azimat, dan kearifan lokal. 

Suku Anak Dalam juga dikenal menganut kepercayaan animisme, walau ada juga yang telah memeluk agama Islam.

Msyarakat Suku Anak Dalam hidup di dalam sudung-sudung, yaitu sebuah pondok dengan alasan pelepah sawit dan terpal plastik. 

Keseharian mereka sangat bergantung pada alam, dengan berburu hewan liar di hutan, mencari buah-buahan seperti buah rotan, jernang, damar, manau, jelutung, sialang, hingga jenis-jenis makanan dan hasil hutan lainnya.

(*)

Dinda Tiara

About Author

You may also like

Kultura

Teori Denny JA tentang Agama di Era AI Mulai Diajarkan di Kampus

Jakarta, 15 Februari 2025 — Mulai semester genap tahun 2025, pemikiran Denny JA mengenai agama dan spiritualitas di era Artificial
Kultura

Teori Denny JA Melengkapi Sosiologi Agama

Jakarta, 16 Februari 2025 – Revolusi Artificial Intelligence (AI) telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia, termasuk cara kita memahami dan beragama.