TERITORIAL.COM, JAKARTA – Pemerintah Taiwan telah mengumumkan rencana besar, yakni membangun sistem pertahanan udara canggih bernama T-Dome, yang diproyeksikan bisa menjadi alat pengaman nasional di tengah meningkatnya tekanan militer dari China.
Dalam pidato pada perayaan Hari Nasional 10 Oktober 2025, Presiden Lai Ching-te berkata, “Kami akan mempercepat pembangunan T-Dome, membangun sistem pertahanan udara yang tangguh di Taiwan dengan pertahanan berlapis, deteksi tingkat tinggi, dan intersepsi yang efektif, serta membangun jaring pengaman bagi Taiwan untuk melindungi nyawa dan harta benda warga negara.”
Sebagai bagian dari langkah ini, Taiwan mengajukan anggaran tambahan senilai 40 miliar dollar AS (sekitar Rp 666 triliun) untuk mendanai T-Dome beserta peningkatan militer lainnya.
“Ancaman dari China terhadap Taiwan dan kawasan ini semakin intensif,” ujar Lai, dikutip dari kantor berita AFP, sambil menegaskan pentingnya memperkuat pertahanan pulau demokrasi tersebut.
Apa Itu T-Dome dan Mengapa Dibandingkan dengan Iron Dome
T-Dome didesain sebagai sistem pertahanan udara berlapis (multi-layered air defence network), bukan sekadar sistem tunggal dan berfungsi untuk menghadapi serangan kompleks, mulai dari drone, rudal jelajah, rudal balistik, hingga serangan udara militer.
Sementara Iron Dome lebih fokus ke ancaman jarak pendek seperti roket/rudal ringan. T-Dome dirancang untuk menghadapi ancaman yang jauh lebih luas dan beragam.
T-Dome bukan sekadar satu sistem, melainkan gabungan berbagai unsur, seperti radar & sensor deteksi canggih, sistem komando-kendali terpadu, dan beragam pencegat (interceptor) dari beragam jarak dan jenis.
Dengan kata lain, T-Dome lebih menyerupai payung besar pertahanan udara nasional ketimbang alat tunggal. T-Dome hampir seperti benteng langit berlapis daripada sekadar tameng kecil.
Struktur & Komponen Sistem
Menurut penjelasan dari pihak militer Taiwan, termasuk Menteri Pertahanan Wellington Koo,T-Dome akan menggabungkan berbagai sistem yang sudah dimiliki Taiwan serta teknologi baru, radar dan sensor deteksi, dan sistem komando-kendali terpadu.
Dilansir dari Army Recognition, struktur pertahanan di bawah T-Dome akan terdiri dari beberapa lapisan.
Lapisan atas untuk menghadapi ancaman rudal balistik dan jelajah jarak jauh, dengan interceptor berenergi tinggi dan radar canggih.
Lapisan pertahanan tingkat menengah memakai sistem seperti NASAMS, yaitu sistem rudal yang bisa dipindah-pindahkan dan cepat ditempatkan di lokasi mana pun sesuai kebutuhan.
Sistem ini menembakkan rudal AMRAAM-ER, yang dirancang untuk menjatuhkan pesawat, helikopter, atau drone pada jarak menengah. Jadi, ini berfungsi sebagai penjaga langit fleksibel yang bisa melindungi area luas dari ancaman udara sebelum musuh mendekat terlalu jauh.
Yang terakhir, lapisan pertahanan jarak pendek dan anti-drone/anti-rudal ringan, yang menggunakan rudal jarak pendek, sistem senjata ringan, dan artileri anti-udara yang berfungsi untuk melindungi wilayah perkotaan, infrastruktur vital, pangkalan militer, serta fasilitas penting.
Mengapa Taiwan Mendesak Pengembangan T-Dome Sekarang
Tekanan militer dan politik dari China meningkat. Beijing sering mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, dan Taiwan menghadapi ancaman serangan udara, rudal, serta kemungkinan perang terbuka.
Dengan demikian, Taiwan ingin memperkuat daya tangkal (deterrence), agar potensi invasi atau agresi disikapi dengan kesiapan nyata, bukan hanya diplomasi atau sekadar ancaman balik.
Dalam pidatonya, Presiden Lai menyebut bahwa peningkatan anggaran pertahanan dan pembangunan T-Dome dianggap penting demi melindungi warga dan menjaga stabilitas, bukan sebagai bentuk provokasi, tapi sebagai upaya mempertahankan perdamaian dan kedaulatan.
Namun, sampai saat ini, belum ada detail teknis lengkap mengenai kapan T-Dome akan beroperasional penuh. Pemerintah sendiri belum menetapkan tanggal pasti dan efektivitasnya sangat tergantung pada jumlah pencegat, penyebaran sistem, serta kesiapan operasional.

