Dunia

Topan Ditwah Picu Banjir Bandang hingga Menewaskan Ratusan Jiwa

Orang-orang menerobos jalan yang tergenang banjir setelah Topan Ditwah melanda Kelaniya, Sri Lanka, pada 30 November 2025. (Sumber: REUTERS/Thilina Kaluthotage)

TERITORIAL.COM, JAKARTA — Sri Lanka kini menghadapi perjuangan berat melawan bencana alam terburuk dalam dua dekade terakhirr, usai Topan Ditwah mengakibatkan banjir bandang dan tanah longsor mematikan pada akhir November 2025.

Tim penyelamat terus menggali reruntuhan dan mencari korban di tengah lumpur tebal dan puing-puing. 

Meskipun laporan awal pada 30 November mencatat 212 korban tewas dan 218 orang hilang, Pusat Manajemen Bencana (DMC) secara cepat mengonfirmasi bahwa jumlah korban jiwa telah melampaui 334 orang. Selain itu, lebih dari 370 orang masih dinyatakan hilang.

Curah hujan yang memecahkan rekor, yang mana di beberapa wilayah mencapai hingga 400mm, menyebabkan tanah longsor di wilayah perbukitan tengah.

Selanjutnya, banjir besar melumpuhkan daerah dataran rendah, termasuk pinggiran kota Kelaniya di ibu kota komersial, Kolombo. Bencana ini total telah berdampak pada hampir satu juta orang di seluruh negeri. 

Oleh karena itu, sekitar 200.000 warga terpaksa mencari perlindungan di lebih dari 1.200 pusat penampungan darurat setelah rumah mereka hancur. Distrik Badulla dan Kandy menanggung dampak terberat dari segi korban jiwa.

Kesaksian Korban

Kehancuran Topan Ditwah meninggalkan kisah-kisah mengerikan tentang mereka yang terperangkap oleh air bah. 

“Saya dan saudara perempuan saya terjebak di lantai atas rumah kami bersama keempat anak kami selama dua hari. Makanan kami perlahan habis. Kami hanya punya biskuit dan air untuk mereka tadi malam,” ungkap Sunethra Priyadarshani.

“Kami hanya memiliki pakaian yang kami kenakan. Kami akan tinggal di rumah bibi untuk saat ini. Namun, kami benar-benar membutuhkan bantuan,” lanjutnya.

Sementara itu, Departemen Irigasi memperkirakan bahwa ketinggian air banjir diharapkan akan berangsur-angsur surut selama tiga hari ke depan, seiring topan bergerak menuju India selatan.

Kerusakan Infrastruktur Akibat Topan Ditwah

Kerusakan infrastruktur secara efektif melumpuhkan operasi di beberapa wilayah. Air banjir yang dahsyat menjebol bendungan penting Waduk Mavil Aru di timur, mengharuskan operasi penyelamatan berskala besar. 

Topan itu sendiri menyebabkan pemadaman listrik di hampir sepertiga wilayah Sri Lanka, yang mengakibatkan dua pembangkit listrik tenaga air utama, Kotmale dan Rantambe, menghentikan operasinya. 

Di samping itu, tanah longsor dan genangan air memutuskan jalur transportasi utama, termasuk jalan raya Kolombo-Kandy dan jalur kereta api vital, menghambat upaya bantuan.

Respons Cepat Pemerintah

Menanggapi krisis, pemerintah Sri Lanka mengumumkan status keadaan darurat. Lebih dari 24.000 personel militer dan kepolisian dikerahkan untuk misi pencarian dan penyelamatan. 

Angkatan Udara Sri Lanka melakukan operasi angkut udara yang berani, menyelamatkan ratusan korban yang terjebak. Sementara itu, bantuan internasional segera tiba. India, misalnya, secara cepat meluncurkan “Operasi Sagar Bandhu,” mengirimkan tim dan pasokan bantuan.

Pukulan Ekonomi Sri Lanka Akibat Topan DItwah

Dampak ekonomi Topan Ditwah memberikan pukulan telak bagi sektor pertanian, terutama industri teh. Industri teh, yang merupakan sumber devisa utama, menderita kerugian besar yang diperkirakan melampaui $1 miliar. Di sisi lain, pihak berwenang mengeluarkan peringatan tentang risiko lanjutan tanah longsor akibat lereng gunung yang jenuh air, mendesak masyarakat untuk terus waspada.

kaylalayalia

About Author

You may also like

Dunia

Menteri pertahanan Indonesia dan Amerika Serikat kembali bertemu

Jakarta teritorial.com – Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, kembali bertemu dengan koleganya, Menteri Pertahanan Amerikat Serikat, James Mattis, di akhir acara
Dunia

Arab Saudi Gagalkan Serangan Rudal yang Targetkan Bandara

Jakarta territorial.com- Pasukan pertahanan Arab Saudi berhasil menggagalkan serangan rudal yang diluncurkan dari wilayah konflik di Yaman, Sabtu (4/11/2017) malam