TERITORIAL.COM, JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto mulai memetakan strategi besar untuk memutus rantai ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar minyak (BBM) impor. Salah satu langkah strategis yang dibidik adalah mengoptimalkan potensi alam di berbagai daerah, termasuk menjadikan Papua sebagai pusat pengembangan komoditas energi seperti kelapa sawit dan tebu.
Ketergantungan pada energi asing selama ini menjadi beban berat bagi anggaran negara. Prabowo mengungkapkan bahwa Indonesia merogoh kocek hingga Rp 520 triliun setiap tahun hanya untuk mengimpor BBM.
“Jika kita mampu memangkas setengah saja dari angka impor tersebut, negara bisa menghemat Rp 250 triliun. Bayangkan penghematan yang bisa dilakukan jika kita memaksimalkan potensi sawit, singkong, tebu, hingga energi surya dan air kita sendiri,” ujar Presiden dalam keterangannya, Rabu (17/12).
Pemerintah tidak hanya melempar wacana, namun telah menetapkan target konkret. Indonesia diproyeksikan berhenti mengimpor solar pada tahun 2026. Selain solar, target serupa juga disiapkan untuk komoditas bensin melalui pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT).
Prabowo menekankan bahwa kunci dari kedaulatan energi adalah pemberdayaan potensi daerah masing-masing. Beberapa poin utama dalam strategi ini meliputi:
- Optimalisasi Papua: Mendorong penanaman kelapa sawit untuk biodiesel dan tebu untuk bioetanol agar Papua bisa memproduksi bahan bakarnya sendiri.
- Energi Murah untuk Daerah Terpencil: Pemanfaatan teknologi panel surya yang kini semakin terjangkau serta pembangunan pembangkit listrik tenaga mikro-hidro untuk menjangkau pelosok.
- Efisiensi Logistik: Dengan memproduksi energi secara mandiri di tiap daerah, pemerintah tidak perlu lagi mengirimkan BBM dengan biaya distribusi yang mahal ke wilayah terpencil.
Melalui pengembangan bioenergi dan EBT ini, Presiden berharap daerah penghasil energi dapat merasakan langsung manfaat ekonomi dan ketersediaan pasokan, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional secara keseluruhan.
(*)

