TERITORIAL.COM, JAKARTA – Densus 88 Antiteror Polri bersama Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkap fenomena mengkhawatirkan: sedikitnya 70 anak di 19 provinsi terpapar konten kekerasan ekstrem melalui Komunitas True Crime atau True Crime Community (TCC). Puluhan anak tersebut berusia antara 11 hingga 18 tahun, rentan terhadap pengaruh ideologi kekerasan.
Menurut Densus 88, TCC bukan organisasi formal, tetapi komunitas online yang tumbuh secara organik. Kontennya berupa kisah kriminal, sensasi kekerasan, dan narasi ekstrem yang dapat memengaruhi psikologis anak. Karena sifatnya terbuka, anak-anak mudah tergoda bergabung, terutama mereka yang mencari kelompok sosial atau pengakuan.
“Fenomena ini sangat berbahaya karena anak-anak belum memiliki kemampuan kritis untuk menyaring konten negatif. Mereka bisa menjadi korban sebelum sempat memahami bahayanya,” ujar juru bicara Densus 88, Rabu (8/1).
Puluhan anak yang teridentifikasi tersebar di 19 provinsi, dengan konsentrasi tertinggi di DKI Jakarta (17 anak), Jawa Barat (15 anak), dan Jawa Timur (12 anak). Densus 88 mencatat faktor utama yang membuat anak-anak bergabung antara lain: pengalaman perundungan (bullying) di sekolah, kurangnya pengawasan orang tua, dan rasa diterima dalam komunitas online.
KPAI menegaskan bahwa anak-anak ini lebih tepat dianggap korban daripada pelaku. Ketua KPAI, Susanto, mengatakan, “Anak yang terpapar konten kekerasan ekstrem membutuhkan pendampingan psikologis dan edukasi digital. Mereka masih rentan dan mudah terpengaruh narasi kekerasan.”
Tanda-tanda anak yang terpapar kekerasan ekstrem antara lain: menyimpan simbol kekerasan, menghabiskan waktu berlebihan di konten kekerasan, menarik diri dari teman sebaya, hingga membawa replika senjata atau benda tajam ke sekolah. Puluhan anak telah mendapatkan intervensi berupa asesmen risiko, pemetaan psikologis, dan konseling dari Densus 88 dan KPAI.
Selain penanganan individu, Densus 88 dan KPAI mendorong orang tua dan sekolah untuk meningkatkan edukasi digital. Anak-anak perlu dibekali kemampuan menilai konten online agar tidak terjerumus ke kelompok ekstrem di internet. Simak juga cara aman orang tua memantau konten anak di internet
agar generasi muda terlindungi dari pengaruh negatif.
Fenomena TCC ini menunjukkan bahwa konten kekerasan di dunia maya bukan sekadar hiburan, melainkan potensi bahaya nyata bagi generasi muda. Intervensi cepat dan pengawasan ketat menjadi kunci agar anak-anak tetap aman dan berkembang sehat.

