TERITORIAL.COM, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan komitmennya untuk tetap menempuh jalur diplomasi dengan Iran, meskipun Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mendorong pendekatan yang lebih keras terhadap Teheran. Pernyataan tersebut disampaikan Trump usai pertemuan tertutup selama sekitar tiga jam dengan Netanyahu di Gedung Putih, Washington, Rabu (11/2).
Pertemuan itu berlangsung di tengah kembali dibukanya pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran terkait program nuklir Teheran. Netanyahu disebut datang ke Washington untuk menyampaikan laporan intelijen terbaru mengenai kemampuan militer Iran, sekaligus mendorong agar AS mempertimbangkan opsi tindakan militer.
“TIDAK ada kesepakatan pasti yang dicapai selain saya bersikeras bahwa negosiasi dengan Iran harus dilanjutkan untuk melihat apakah kesepakatan dapat dicapai atau tidak,” tulis Trump dalam unggahan di media sosialnya usai pertemuan tersebut.
Trump menegaskan bahwa diplomasi masih menjadi prioritas utama pemerintahannya. Namun, ia tidak menutup kemungkinan adanya langkah lain jika perundingan gagal menghasilkan kesepakatan.
Sikap Amerika Serikat yang berada di antara jalur diplomasi dan ancaman militer terhadap Iran menunjukkan dinamika geopolitik global yang kian kompleks. Dalam konteks tersebut, posisi negara-negara lain, termasuk Indonesia, juga ikut terdampak oleh pergeseran kekuatan dunia yang semakin multipolar.
“Jika bisa, saya memberi tahu Perdana Menteri bahwa itu akan menjadi pilihan. Jika tidak, kita hanya perlu melihat apa hasilnya,” kata Trump, seraya menyinggung serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun lalu.
Israel Tekankan Kepentingan Keamanan
Kunjungan Netanyahu ke Washington ini merupakan pertemuan ketujuh dengan Trump sejak sang presiden kembali menjabat. Kantor Netanyahu menyebutkan bahwa PM Israel itu menekankan pentingnya memasukkan kepentingan keamanan Israel dalam setiap kesepakatan dengan Iran.
“Saya akan menyampaikan kepada presiden pandangan kami mengenai prinsip-prinsip untuk negosiasi,” ujar Netanyahu sebelum bertolak ke Amerika Serikat.
Israel selama ini menyuarakan kekhawatiran terhadap Iran yang dinilai berupaya membangun kembali kekuatan nuklir dan militernya. Netanyahu mendorong agar isu program rudal balistik Iran serta dukungan Teheran terhadap kelompok proksi turut dibahas.
Sementara itu, Iran menegaskan pembicaraan dengan AS hanya akan difokuskan pada program nuklir. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menolak tuntutan di luar agenda tersebut.
“Kami tidak akan menyerah pada tuntutan yang berlebihan,” kata Pezeshkian, sembari menegaskan bahwa Iran “tidak berupaya untuk memperoleh senjata nuklir.”

