TERITORIAL.COM, JAKARTA – Gunung Semeru yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik pada Kamis (19/2). Dalam rentang waktu pagi hari, gunung tertinggi di Pulau Jawa itu tercatat mengalami tiga kali letusan dengan ketinggian kolom abu bervariasi.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, menyampaikan bahwa erupsi terakhir terjadi pada pukul 08.00 WIB dengan kolom letusan mencapai sekitar 800 meter dari puncak. Ketinggian tersebut setara dengan 4.476 meter di atas permukaan laut (mdpl).
“Terjadi erupsi Gunung Semeru pada pukul 08.00 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 800 meter di atas puncak atau 4.476 meter di atas permukaan laut (mdpl),” kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian.
Ia menjelaskan bahwa kolom abu tampak berwarna putih hingga kelabu dengan kepadatan cukup tebal mengarah ke timur laut. Aktivitas vulkanik itu juga terekam pada alat seismograf dengan amplitudo maksimum 22 milimeter dan berlangsung selama 101 detik.
Rangkaian Letusan Sejak Dini Hari
Berdasarkan catatan pengamatan, erupsi pertama terjadi pada pukul 04.32 WIB. Saat itu, tinggi kolom abu terpantau sekitar 500 meter di atas puncak atau setara 4.176 mdpl. Abu vulkanik terlihat berwarna kelabu pekat dan bergerak ke arah timur laut.
“Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah timur laut. Erupsi itu terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 106 detik,” tuturnya.
Letusan kedua menyusul pada pukul 07.24 WIB dengan tinggi kolom abu juga sekitar 500 meter dari puncak. Aktivitas tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 15 milimeter dan berdurasi 92 detik. Sementara letusan ketiga yang terjadi pukul 08.00 WIB menghasilkan kolom abu lebih tinggi, yakni sekitar 800 meter.
Status Siaga dan Rekomendasi PVMBG
Saat ini, Gunung Semeru berada pada status Level III atau Siaga. Status tersebut ditetapkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik.
PVMBG mengeluarkan sejumlah rekomendasi untuk masyarakat sekitar. Warga dilarang melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak sebagai pusat erupsi. Area tersebut dinilai berpotensi terdampak awan panas dan aliran material vulkanik.
Selain itu, masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Hal ini karena potensi perluasan awan panas dan aliran lahar dapat mencapai jarak hingga 17 kilometer dari puncak gunung.
“Masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru, karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar),” katanya.
Warga juga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya awan panas guguran, aliran lava, serta banjir lahar, terutama di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru. Wilayah yang perlu diwaspadai meliputi Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, termasuk anak-anak sungai yang terhubung dengan Besuk Kobokan.
Pihak berwenang terus memantau aktivitas gunung dan mengimbau masyarakat agar mematuhi seluruh rekomendasi yang telah dikeluarkan demi keselamatan bersama.

