Headline Nasional

Prabowo Kaji WFH untuk Hemat BBM di Tengah Konflik Global

Prabowo berencana melakukan penghematan menyusul konflik yang terjadi di Timur Tengah. Prabowo merinci, sejumlah langkah yang dapat dilakukan adalah memberlakukan work from home atau bekerja dari rumah, melakukan efisiensi, hingga menghemat BBM dalam jumlah yang sangat besar. (Doc. Tangkapan Layar Instagram @presidenrepublikindonesia)

TERITORIAL.COM, JAKARTA – Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (Bappisus), Aris Marsudiyanto, memberikan tanggapan terkait rencana penerapan kebijakan Work From Home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) maupun pekerja swasta. Wacana ini sebelumnya muncul atas arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang meminta agar opsi tersebut dikaji lebih lanjut.

Usulan penerapan kerja dari rumah ini tidak lepas dari upaya pemerintah dalam mengantisipasi dampak yang mungkin timbul akibat konflik geopolitik, khususnya perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Salah satu tujuan utama dari kebijakan ini adalah untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.

Meski kondisi nasional saat ini masih tergolong stabil, Aris menilai langkah antisipatif tetap perlu dilakukan. Ia menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi ketidakpastian global yang sewaktu-waktu dapat berdampak pada sektor energi dan ekonomi.

“Jadi secara umum sudah disampaikan ke beberapa menteri terkait ya, toh itu Pak Presiden juga sudah menyampaikan kita dalam kondisi aman,” kata Aris.

Efisiensi Energi Jadi Prioritas Pemerintah

Aris mengungkapkan bahwa pemerintah tengah mendorong efisiensi dalam berbagai sektor, termasuk penggunaan energi dan sumber daya lainnya. Ia menilai bahwa situasi konflik yang belum jelas kapan berakhir membuat langkah penghematan menjadi sangat penting.

“Namun, karena ‘sampai kapan sih perang ini?’ kan kita enggak ngerti.”

“Oleh karena itu kita harus save semua resources yang kita punya, baik itu energi, baik itu pangan, dan semua kekuatan yang bisa kita efisiensi, kita efisiensi.”

“Kata orang kan sedia payung sebelum hujan.”

Menurutnya, kebijakan seperti WFH merupakan salah satu bentuk strategi preventif agar Indonesia tetap berada dalam kondisi aman meskipun terjadi gejolak global. Ia juga menilai bahwa langkah tersebut mencerminkan perencanaan jangka panjang yang dilakukan oleh Presiden.

Kondisi Dalam Negeri Masih Stabil, Pemerintah Tetap Waspada

Aris menambahkan bahwa hingga saat ini kondisi di dalam negeri masih relatif terkendali. Aktivitas masyarakat, termasuk arus mudik Lebaran 2026, berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Selain itu, belum ditemukan indikasi kelangkaan BBM di berbagai daerah.

Namun, ia mengingatkan bahwa situasi global dapat berubah dengan cepat. Ia mencontohkan beberapa negara yang sudah mulai terdampak konflik, seperti adanya penutupan bandara akibat keterbatasan pasokan energi, termasuk bahan bakar pesawat.

“Jangan sampai nanti begitu perang berlarut, entah kapan akhirnya, kita sekarang sudah ada beberapa negara, yang bandaranya tutup ya kan karena kekurangan energi avtur dan lain sebagainya,” ucap Aris.

“Nah kita kan belum dalam konteks seperti itu, kita masih bagus saja, ini semuanya pulang, mudik, dalam keadaan lancar ya. Bahkan, ini jauh lebih bagus.”

“Saya enggak pernah mendengar kemacetan-kemacetan atau kekurangan BBM di mana pun kan. Nah, hal seperti ini, Pak Presiden sudah memikirkan panjang ke depan.”

Ia menegaskan bahwa kebijakan yang sedang dikaji bukan karena kondisi darurat, melainkan sebagai langkah preventif agar Indonesia tetap siap menghadapi berbagai kemungkinan ke depan.

Rizki Aminulloh

About Author

You may also like

Nasional

Munas NU Sepakat Tingkatkan Kontribusi Memperkokoh Nilai Kebangsaan

Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Musyawarah Besar NU dari waktu ke waktu selalu memberi kontribusi penting bagi bangsa Indonesia. Tema
Nasional

Kedubes AS sampaikan penolakan Panglima TNI kesalahan administratif

Jakarta, Teritorial.com- Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Jakarta menyampaikan bahwa penolakan masuk Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo ke wilayah AS