Headline Nasional

SBY Desak PBB Hentikan UNIFIL Usai 3 Prajurit TNI Gugur

Prabowo dan Sby Memberikan Penghormatan Terakhir Untuk Prajurit yang Gugur di UNIFIL Lebanon. (Doc. Tangkapan Layar Youtube MetroTV)

TERITORIAL.COM, JAKARTA – Mantan Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, menyampaikan kritik tajam terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa menyusul insiden tewasnya tiga anggota terbaik TNI dalam misi perdamaian di Lebanon Selatan. Lewat pernyataan yang ia sampaikan di platform X pada Minggu (5/4/2026), SBY menilai situasi yang dihadapi pasukan perdamaian saat ini sudah jauh dari prinsip awal penugasan.

Ia mendesak PBB untuk segera mengambil keputusan strategis, baik dengan menghentikan misi United Nations Interim Force in Lebanon maupun menarik pasukan dari wilayah yang kini telah berubah menjadi area konflik terbuka. Pernyataan ini muncul setelah SBY menghadiri prosesi penghormatan terakhir bagi tiga prajurit yang gugur, yakni Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan, dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadon.

Zona Damai Berubah Jadi Medan Perang

SBY menyoroti kondisi di lapangan yang dinilainya tidak lagi sesuai dengan mandat awal pasukan penjaga perdamaian. Ia menjelaskan bahwa wilayah yang seharusnya menjadi garis pemisah aman atau “Blue Line” antara Israel dan Lebanon kini justru berubah menjadi zona berbahaya akibat eskalasi konflik.

Menurutnya, pasukan Israel dilaporkan telah bergerak masuk hingga beberapa kilometer dari garis tersebut, sehingga membuat posisi pasukan perdamaian berada di tengah baku tembak antara Israel dan kelompok Hizbullah. Dalam kondisi seperti ini, SBY menilai para peacekeeper berada dalam situasi yang sangat rentan.

Ia juga mengingatkan bahwa berdasarkan Chapter 6 Piagam PBB, pasukan perdamaian tidak dirancang untuk terlibat dalam pertempuran aktif. Mereka tidak memiliki mandat untuk melakukan serangan atau membalas secara ofensif, sehingga keberadaan mereka di wilayah konflik aktif dinilai tidak tepat.

“Dengan argumentasi ini, seharusnya PBB segera mengambil keputusan dan langkah yang tegas untuk menghentikan penugasan UNIFIL dan atau memindahkan lokasi mereka ke luar medan pertempuran yang masih membara saat ini,” tegas SBY dalam unggahannya.

Dukung Pemerintah dan Soroti Standar Ganda

Dalam pernyataannya, SBY juga menyatakan dukungannya terhadap langkah Presiden Prabowo Subianto yang meminta PBB melakukan investigasi menyeluruh atas insiden tersebut. Ia menekankan pentingnya transparansi dan penjelasan yang masuk akal terkait penyebab gugurnya prajurit Indonesia.

Selain itu, SBY mengingatkan agar PBB tidak menerapkan standar ganda dalam menangani konflik global. Ia mengaitkan hal ini dengan pengalamannya di masa lalu ketika harus menghadiri sidang Dewan Keamanan PBB terkait insiden kemanusiaan di Atambua pada tahun 2000.

“PBB tidak boleh pilih kasih dan menggunakan standar ganda. Secara pribadi, saya juga merasa punya kewajiban moral untuk ikut memperjuangkan keadilan bagi prajurit-prajurit TNI yang menjadi korban di Lebanon ini,” imbuhnya.

Pesan untuk Kontingen Garuda

Sebagai tokoh yang berperan dalam pengiriman awal pasukan Indonesia ke Lebanon pada 2006, SBY turut menyampaikan pesan khusus kepada Kontingen Garuda yang saat ini masih bertugas. Hingga kini, Indonesia telah mengirimkan puluhan rotasi pasukan sebagai bagian dari misi perdamaian internasional.

Ia mengingatkan para prajurit untuk tetap menjaga semangat sekaligus meningkatkan kewaspadaan di tengah situasi yang tidak menentu. SBY juga menyampaikan harapan agar seluruh personel dapat kembali ke Tanah Air dengan selamat.

“Do your best dan jaga diri baik-baik. Keluarga yang mencintai kalian menunggu kehadiran kembali di Tanah Air,” pungkasnya.

Rizki Aminulloh

About Author

You may also like

Nasional

Munas NU Sepakat Tingkatkan Kontribusi Memperkokoh Nilai Kebangsaan

Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Musyawarah Besar NU dari waktu ke waktu selalu memberi kontribusi penting bagi bangsa Indonesia. Tema
Nasional

Kedubes AS sampaikan penolakan Panglima TNI kesalahan administratif

Jakarta, Teritorial.com- Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Jakarta menyampaikan bahwa penolakan masuk Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo ke wilayah AS