TERITORIAL.COM, JAKARTA – Pemerintah Indonesia mulai menyusun langkah strategis guna menjaga ketersediaan plastik kemasan pangan yang saat ini terancam akibat gangguan pasokan bahan baku global. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, disebut berdampak langsung terhadap distribusi nafta—bahan utama dalam produksi plastik berbasis minyak bumi.
Kondisi ini mendorong pemerintah untuk mencari solusi alternatif agar rantai pasok industri kemasan tetap terjaga. Salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan adalah impor plastik kemasan dari Malaysia.
Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pemerintah, Sam Herodian, mengungkapkan bahwa peluang kerja sama dengan Malaysia sedang dijajaki, seiring dengan pembahasan potensi ekspor beras ke negara tersebut.
“Plastik ternyata saya peluang (impor) dari Malaysia. Tawaran itu ada, kita lagi nyari peluang (impor) ya, kita kan bahan bakunya (nafta) dari minyak bumi,” ujar Sam Herodian.
Diversifikasi Pasokan dan Teknologi Penyimpanan
Upaya pemerintah tidak hanya terbatas pada impor plastik kemasan konvensional, tetapi juga mencakup pengembangan teknologi penyimpanan yang lebih modern. Salah satunya adalah penggunaan hermetic bag, yaitu kantong penyimpanan yang mampu menjaga kualitas beras dalam jangka panjang tanpa tambahan bahan kimia.
“Bahkan bukan hanya plastik untuk kemasan yang 5 kilogram, termasuk namanya hermetic bag untuk bisa menyimpan beras sampai 2-3 tahun tanpa harus dikasih obat dan seterusnya,” tambahnya.
Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa penjajakan ini masih berada pada tahap awal. Untuk menghindari ketergantungan terhadap satu negara, opsi kerja sama dengan berbagai produsen global juga terus dibuka.
Dampak ke Harga Pangan dan Respons Industri
Dampak dari krisis bahan baku ini mulai dirasakan di dalam negeri, terutama pada sektor pengemasan pangan. Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan dari Badan Pangan Nasional, I Gusti Ketut Astawa, menyebut bahwa pihaknya telah melakukan simulasi terkait potensi kenaikan harga jika biaya plastik meningkat.
Menurut perhitungan awal, kenaikan biaya produksi plastik sebesar 10 persen dapat memicu kenaikan harga beras sekitar Rp300 per kilogram. Sementara untuk komoditas lain seperti gula, dampaknya diperkirakan lebih kecil, berkisar antara Rp100 hingga Rp150.
Ketut juga menegaskan bahwa pelaku industri dalam negeri tidak tinggal diam. Mereka aktif mencari alternatif pasokan bahan baku dari berbagai negara, termasuk Rusia, guna menjaga stabilitas produksi.
“Langkah daripada pelaku usaha kan gak diam, dia akan mencari, dan sudah akan mencari peluang-peluang apakah di seberang, apakah dari Rusia, apakah dari produsen-produsen pasokan plastik itu. Itulah sebenarnya sumber-sumber pasokan plastik yang akan hitung,” tegasnya.
Pemerintah berharap langkah diversifikasi ini dapat segera terealisasi agar dampak kenaikan biaya produksi tidak berujung pada lonjakan harga pangan di tingkat konsumen. Upaya ini juga menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global.

