Figurin Headline

Ini Dia 2 Sosok Kartini Dalam Sejarah Pendidikan Kaltim

TERITORIAL.COM, JAKARTA – Pada 21 April 1970, Samarinda menjadi saksi sebuah prosesi penghormatan bagi sosok perempuan berjasa. Jenazah Aminah Syukur dipindahkan dari Jakarta untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa. Tanggal tersebut sengaja dipilih bertepatan dengan Hari Kartini sebagai simbol penghargaan atas dedikasinya di bidang pendidikan.

Selama ini, setiap 21 April masyarakat Indonesia identik mengenang R.A. Kartini sebagai tokoh emansipasi perempuan. Namun, di Kalimantan Timur, tanggal tersebut juga memiliki makna tersendiri. Sejarah lokal mencatat adanya tokoh-tokoh perempuan yang turut berperan penting dalam membangun fondasi pendidikan di wilayah tersebut.

Kajian sejarah yang dihimpun oleh Muhammad Sarip dan Alisya Anastasya menunjukkan bahwa kiprah perempuan di Kalimantan Timur tidak hanya terpusat pada satu figur. Selain Aminah Syukur, terdapat pula Dorinawati (Nyonya Lo Beng Long), yang berkontribusi dalam pengembangan pendidikan tinggi. Keduanya mencerminkan bagaimana peran perempuan turut membentuk perkembangan intelektual di Benua Etam.

Perintis Pendidikan dari Akar hingga Perguruan Tinggi

Aminah Syukur dikenal sebagai sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan sejak awal abad ke-20. Ia mendirikan sekolah khusus perempuan di Samarinda pada 1928, di tengah kondisi pendidikan yang masih terbatas dan cenderung berpihak pada kalangan tertentu. Sekolah tersebut membuka peluang bagi anak-anak perempuan untuk memperoleh pendidikan formal.

Metode pengajaran yang diterapkannya tidak berhenti di ruang kelas. Ia juga memberikan bimbingan tambahan di luar jam belajar, menunjukkan komitmennya dalam mencerdaskan generasi muda. Dari didikannya, lahir tokoh-tokoh yang kemudian berperan dalam pembangunan daerah.

Sementara itu, Dorinawati hadir sebagai sosok penting dalam perkembangan pendidikan tinggi. Ia tidak hanya mendukung gerakan sosial pada masa perjuangan kemerdekaan, tetapi juga terlibat langsung dalam pendirian lembaga pendidikan. Pada awal 1960-an, ia berperan dalam pembentukan Yayasan Perguruan Tinggi Mulawarman, yang menjadi cikal bakal Universitas Mulawarman.

Kontribusinya tidak sebatas gagasan. Ia bersama keluarganya menyumbangkan properti untuk dijadikan kampus pertama. Bangunan tersebut kemudian menjadi pusat aktivitas akademik dan intelektual generasi muda pada masanya.

Warisan Emansipasi yang Terus Hidup

Kisah Aminah Syukur dan Dorinawati menggambarkan bahwa semangat emansipasi di Kalimantan Timur tidak hanya bersifat simbolik, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata. Pendidikan menjadi medium utama dalam memperjuangkan kesetaraan dan kemajuan masyarakat.

Warisan mereka kini masih terasa melalui institusi pendidikan yang terus berkembang. Ribuan generasi muda Kalimantan Timur memperoleh manfaat dari fondasi yang telah dibangun oleh kedua tokoh tersebut. Perjuangan mereka menjadi bukti bahwa perubahan besar dapat dimulai dari kepedulian terhadap pendidikan.

Ilhamsyah Putra

About Author

You may also like

Figurin

Mengenal Sepak Terjang Sjafrie Sjamsoeddin (Part 1)

Jakarta, Teritorial.Com – Siapa yang tidak kenal dengan sosok Letjen (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin, Wakil Menteri Pertahanan Republik Indonesia di era
Figurin Nasional

Rektor UNHAN Dikukuhkan Menjadi Profesor

Jakarta, Universitas Pertahanan (Unhan) RI menyelenggarakan Sidang Senat Terbuka Pengukuhan Guru Besar Tetap dan memberikan gelar profesor kepada Laksamana Madya