TERITORIAL.COM, JAKARTA – Kita jarang menyebutnya secara formal, tetapi banyak ibu di Indonesia memiliki peran penting dalam keluarga, terutama dalam kesehatan anak. Peran ibu dalam keluarga tidak hanya sebagai pengasuh, tetapi juga sebagai pengambil keputusan berbasis pengetahuan dalam sistem kesehatan informal keluarga. Mereka tidak hanya merawat, tetapi juga aktif mencari informasi, memahami arahan medis, dan mengambil keputusan penting terkait kesehatan anak—tanpa menggantikan peran tenaga kesehatan profesional.
Di lingkungan sosial, ibu sering kali masih dipandang dalam peran tradisional—mengurus rumah tangga, membesarkan anak, dan mendukung keluarga. Namun, realitas di lapangan menunjukkan gambaran yang jauh lebih kompleks. Peran ibu dalam keluarga tidak hanya menjadi pengasuh , tetapi juga aktor penting dalam ketahanan sosial di tingkat lokal. Ketika ibu diberdayakan, keluarga menjadi lebih adaptif, dan pada akhirnya masyarakat menjadi lebih tangguh.
Memberdayakan ibu bukan sekadar isu kesetaraan gender, tetapi tentang bagaimana sistem sosial mengakui pengalaman hidup perempuan sebagai bentuk pengetahuan yang valid. Dalam banyak kasus, ibu justru berada paling dekat dengan realitas sehari-hari yang kompleks, terutama ketika menghadapi situasi kesehatan anak dan tantangan pengasuhan yang tidak sederhana.
Dalam pengalaman saya melalui Biruni Foundation, saya bertemu dengan banyak ibu yang memperjuangkan kualitas hidup anak-anak mereka yang sakit atau memiliki kebutuhan khusus. Mereka tidak hanya hadir secara fisik 24 jam untuk mendampingi anak, tetapi juga berusaha memahami kondisi medis anak mereka dengan sangat serius. Meskipun sebagian tidak memiliki latar belakang pendidikan formal yang tinggi, mereka menunjukkan ketekunan luar biasa dalam memahami dan mengelola kondisi anaknya.
Mereka tidak hanya mengandalkan penjelasan dari tenaga medis, tetapi juga secara aktif mencari informasi tambahan melalui internet—membaca artikel kesehatan, mengikuti penjelasan dokter di berbagai platform media sosial, hingga mencoba memahami istilah medis yang sebelumnya asing bagi mereka. Proses ini tidak selalu terlihat besar dari luar, tetapi menjadi bagian penting dalam keberlangsungan perawatan anak sehari-hari.
Dalam proses tersebut, ada situasi-situasi yang sangat nyata dan penuh tekanan. Ada ibu yang harus memutuskan apakah anaknya cukup stabil untuk kontrol ke rumah sakit, sambil mempertimbangkan kondisi ekonomi dan kondisi fisik anak pada hari itu. Keputusan seperti ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga emosional dan berbasis pengalaman yang terus mereka bangun dari waktu ke waktu.
Sering kali, kerja ini dianggap sebagai hal yang “wajar dilakukan seorang ibu”. Namun pada kenyataannya, ini adalah bentuk kerja emosional, intelektual, dan fisik yang sangat besar. Mereka harus mengambil keputusan setiap hari, menyesuaikan perawatan, sekaligus menjaga stabilitas emosional keluarga di tengah tekanan yang tidak ringan.
Dari pengalaman tersebut, saya melihat bahwa para ibu ini adalah pembelajar yang aktif dan mandiri. Mereka membangun pengetahuan bukan hanya dari sistem formal, tetapi juga dari pengalaman langsung, lingkungan sosial, dan sumber digital. Sayangnya, peran ini sering kali tidak dipandang sebagai kontribusi sosial yang bernilai tinggi.
Dalam konteks Indonesia, pengalaman ibu dalam merawat anak juga beririsan dengan berbagai ruang interaksi sosial dan layanan kesehatan dasar di tingkat lokal. Namun yang lebih penting bukanlah strukturnya, melainkan bagaimana pengetahuan yang dibangun ibu melalui pengalaman sehari-hari ini diakui sebagai bagian dari kapasitas dan kontribusi yang sah dalam kehidupan sosial.
Ketika ibu dilibatkan dalam proses pendampingan, diskusi, dan pengambilan keputusan terkait kesehatan atau kesejahteraan anak, hasil yang muncul sering kali lebih tepat dan berkelanjutan. Mereka memiliki pemahaman yang sangat dekat dengan kebutuhan anak—sesuatu yang tidak selalu dapat ditangkap sepenuhnya oleh sistem formal.
Selain itu, perkembangan teknologi digital membuka ruang baru bagi ibu untuk belajar dan saling menguatkan. Banyak dari mereka kini menggunakan internet sebagai sumber pengetahuan utama, meskipun dengan tantangan literasi digital yang beragam. Dengan dukungan yang tepat, hal ini dapat menjadi kekuatan besar dalam meningkatkan kualitas hidup keluarga.
Kesimpulannya, memberdayakan ibu bukan hanya isu gender, tetapi strategi sosial yang nyata dan berdampak. Pengalaman saya menunjukkan bahwa ketika ibu diberdayakan, mereka menjadi pusat pengetahuan, ketahanan, sekaligus penggerak perubahan di lingkungannya.
Ibu yang berdaya akan melahirkan keluarga yang lebih kuat. Keluarga yang lebih kuat akan membentuk masyarakat yang lebih tangguh. Dan masyarakat yang tangguh akan membangun masa depan yang lebih baik bagi semua.

