Jakarta, TERITORIAL.COM – Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri mengungkapkan gangguan teknis pada kapal tanker menjadi salah satu penyebab kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Bali. Kendala saat memasang jangkar membuat proses bongkar muat kapal terlambat sehingga mengganggu kelancaran distribusi BBM ke sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Simon menjelaskan, kapal tanker tersebut mengalami kesulitan saat hendak melakukan pembongkaran muatan atau discharge. Akibatnya, jadwal bongkar muat yang semula direncanakan berlangsung pada pukul 06.30 Wita baru dapat dilakukan sekitar pukul 22.00 Wita.
Penjelasan itu disampaikan Simon di Depo Pertamina Sanggaran, Denpasar, pada Selasa (13/10/2026), di tengah antrean panjang kendaraan yang terjadi di sejumlah SPBU di Bali. Keterlambatan tersebut membuat proses penyaluran BBM tidak berjalan sesuai jadwal.
“Salah satu penyebab utama adalah salah satu kapal ketika kemarin pada saat untuk discharge kargo itu mengalami kesulitan di anchor, jangkarnya,” kata Simon, dikutip dari laporan yang dipublikasikan pada Rabu (14/10/2026).
Meski demikian, Simon menegaskan bahwa kendala teknis tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan gangguan pelayanan kepada masyarakat. Ia pun menyampaikan permohonan maaf kepada warga Bali yang terdampak antrean dan kesulitan mendapatkan BBM dalam beberapa hari terakhir.
“Namun sekali lagi, kejadian ini tidak untuk mencari pembenaran bagi kami. Bagaimanapun juga yang terpenting adalah pelayanan bagi masyarakat,” tutur Simon.
Tingginya Permintaan Pertalite Ikut Memengaruhi Pasokan
Selain keterlambatan bongkar muat kapal tanker, tingginya kebutuhan masyarakat terhadap BBM, terutama Pertalite, turut memengaruhi kondisi pasokan di Bali.
Simon memahami bahwa perbedaan harga antara Pertalite dan jenis BBM lainnya menjadi salah satu faktor yang mendorong tingginya permintaan masyarakat terhadap bahan bakar bersubsidi tersebut.
Ketika kebutuhan meningkat, keterlambatan distribusi dapat membuat pasokan di SPBU tertentu lebih cepat habis. Kondisi ini kemudian memicu antrean kendaraan, terutama di wilayah yang mengalami kekosongan stok.
Sebelumnya, antrean panjang dan kekosongan BBM dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Bali. Situasi tersebut mendorong Pertamina dan Pemerintah Provinsi Bali membahas langkah penanganan agar pasokan kembali lancar dan pelayanan kepada masyarakat dapat segera pulih.
Pertamina Siapkan Langkah Penanganan
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pertamina berkomitmen mempercepat penyaluran BBM ke SPBU. Dalam pertemuan dengan Gubernur Bali Wayan Koster pada Selasa (13/10/2026), Pertamina juga menyampaikan rencana penyaluran BBM secara bertahap untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Pemerintah Provinsi Bali menyebutkan bahwa stok BBM masih tersedia, tetapi kelancaran distribusi ke SPBU menjadi salah satu persoalan yang perlu segera ditangani. Sebagai langkah tambahan, depo BBM dan sejumlah SPBU di wilayah Denpasar serta Badung disiapkan beroperasi selama 24 jam untuk mempercepat pelayanan.
Langkah tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi antrean dan memulihkan distribusi BBM di Bali. Namun, kelancaran pasokan tetap bergantung pada kesesuaian antara ketersediaan stok, kecepatan distribusi, dan kebutuhan masyarakat di lapangan.

