JAKARTA, Teritorial.com – Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) berpotensi menjadi salah satu sumber listrik rendah karbon untuk memenuhi kebutuhan energi Indonesia yang terus meningkat. Namun, pemanfaatan PLTN rendah karbon membutuhkan persiapan menyeluruh, mulai dari investasi dan penguasaan teknologi hingga jaminan keselamatan serta pengelolaan limbah radioaktif.
Potensi tersebut mengemuka dalam diskusi Economic Frontline di Jakarta pada Rabu (14/10/2026). Peneliti nuklir Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Topan Setiadipura, menilai energi nuklir dapat mendukung upaya mengurangi emisi gas rumah kaca sekaligus menjaga kestabilan pasokan listrik nasional.
Kebutuhan listrik diperkirakan terus berkembang seiring pertumbuhan industri, elektrifikasi transportasi, dan perluasan ekonomi digital. Kondisi ini mendorong Indonesia mempertimbangkan beragam sumber energi yang mampu memasok listrik secara andal tanpa meningkatkan emisi secara berlebihan.
Meski demikian, PLTN bukan satu-satunya jawaban untuk menghadapi tantangan transisi energi. Pengembangannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan sistem kelistrikan nasional, kesiapan infrastruktur, kemampuan pendanaan, serta kondisi setiap wilayah.
PLTN Rendah Karbon untuk Menjaga Pasokan Listrik
Salah satu keunggulan PLTN terletak pada kemampuannya menghasilkan listrik dalam jumlah besar secara berkelanjutan. Selama siklus hidupnya, pembangkit nuklir juga menghasilkan emisi gas rumah kaca yang relatif rendah dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil.
Karakteristik tersebut membedakan PLTN dari pembangkit listrik tenaga surya dan angin yang produksinya dipengaruhi kondisi alam serta waktu. Untuk memaksimalkan pemanfaatan energi surya dan angin, sistem kelistrikan membutuhkan dukungan jaringan, penyimpanan energi, interkoneksi, dan pengaturan pasokan yang memadai.
Karena itu, PLTN dapat menjadi pelengkap bagi energi terbarukan lainnya dalam bauran energi nasional. Kombinasi sejumlah sumber energi berpotensi membantu menjaga keandalan pasokan sekaligus mendukung upaya menekan emisi karbon.
Namun, manfaat tersebut tidak berarti Indonesia harus bergantung pada energi nuklir. Diversifikasi energi tetap diperlukan agar sistem kelistrikan tidak terlalu rentan terhadap gangguan pasokan, perubahan harga bahan bakar, maupun persoalan operasional pada satu jenis pembangkit.
Investasi dan Keselamatan Jadi Tantangan Utama
Di balik potensinya, pembangunan PLTN membutuhkan investasi besar dan perencanaan jangka panjang. Pemerintah serta pihak terkait perlu memperhitungkan biaya pembangunan, waktu pengerjaan, kesiapan infrastruktur, dan kemampuan industri dalam negeri untuk mendukung operasional pembangkit.
Perwakilan Dewan Energi Nasional (DEN), M. Khalid Syeirazzi, menilai PLTN berpotensi memperkuat ketahanan energi karena dapat menghasilkan listrik dalam jumlah besar dengan kebutuhan bahan bakar relatif kecil dibandingkan batu bara.
Meski begitu, Indonesia tetap perlu mengantisipasi tantangan rantai pasok bahan bakar nuklir, ketergantungan pada teknologi dan komponen tertentu, serta pembiayaan proyek. Selain itu, pengelolaan limbah radioaktif dan proses penghentian operasi pembangkit atau decommissioning harus masuk dalam perencanaan sejak awal.
Aspek keselamatan juga menjadi perhatian utama. Pengembangan PLTN membutuhkan sistem pengawasan, standar operasional, dan kesiapan menghadapi risiko yang dirancang secara ketat. Di samping itu, penerimaan masyarakat perlu dibangun melalui penyampaian informasi yang terbuka dan berbasis kajian ilmiah.
Dengan demikian, keputusan membangun PLTN tidak cukup hanya berangkat dari kebutuhan menambah pasokan listrik. Pemerintah perlu memastikan seluruh tahapan proyek memperhatikan keselamatan masyarakat, perlindungan lingkungan, dan keberlanjutan pembiayaan.
Penguasaan Teknologi Perlu Diperkuat
Selain aspek teknis dan ekonomi, kesiapan sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam pengembangan energi nuklir. Topan menekankan perlunya investasi pada pendidikan, penelitian, serta peningkatan kompetensi tenaga ahli dalam negeri agar Indonesia mampu mengelola teknologi nuklir secara berkelanjutan.
Penguatan kemampuan nasional juga dapat membantu mengurangi ketergantungan pada teknologi dan komponen dari luar negeri. Jika direncanakan secara matang, pengembangan PLTN berpeluang mendorong tumbuhnya ekosistem penelitian dan industri berteknologi tinggi.
Pada akhirnya, pemanfaatan PLTN rendah karbon perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi energi yang lebih luas. Pemerintah perlu menimbang manfaat penyediaan listrik yang stabil bersama risiko keselamatan, kebutuhan investasi, pengelolaan limbah, dan kesiapan teknologi.
Dengan perencanaan yang komprehensif, energi nuklir dapat dipertimbangkan sebagai salah satu pilihan untuk memperkuat ketahanan listrik Indonesia. Namun, keberhasilannya akan bergantung pada kemampuan negara memastikan aspek keselamatan, tata kelola, dan kepentingan masyarakat berjalan beriringan dengan target transisi energi.

