Jakarta, TERITORIAL.COM – Industri hilirisasi baterai litium Indonesia mulai memperluas pasar ekspornya. Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mencatat nilai ekspor bahan baku dan komponen baterai litium meningkat dari US$92 juta pada 2024 menjadi US$887 juta pada 2025. Nilainya diproyeksikan mencapai US$3,1 miliar sepanjang 2026.
Anggota sekaligus Sekretaris Eksekutif DEN Septian Hario Seto mengatakan, pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa industri pengolahan di Indonesia mulai berkembang melampaui komoditas nikel.
Produk yang diekspor kini mencakup berbagai material baterai, seperti litium hidroksida dan litium karbonat, prekursor, material anoda, katoda lithium iron phosphate (LFP), foil tembaga, hingga sel baterai.
“Ekspor naik dari US$92 juta pada 2024 menjadi US$887 juta pada 2025, dan diproyeksikan mencapai US$3,1 miliar pada 2026,” kata Seto, sebagaimana dikutip CNBC Indonesia pada Oktober 2026.
Proyeksi tersebut menunjukkan potensi peningkatan nilai ekspor yang signifikan. Namun, angka US$3,1 miliar masih merupakan perkiraan untuk sepanjang 2026, bukan realisasi ekspor yang sudah tercatat hingga akhir tahun.
Amerika Serikat hingga Korea Selatan Jadi Pasar Ekspor
Menurut data DEN yang disampaikan Seto, pasar ekspor material dan komponen baterai Indonesia tersebar di sejumlah negara.
Amerika Serikat menjadi tujuan terbesar dengan porsi sekitar 39 persen, terutama untuk produk anoda dan katoda LFP. China menyerap sekitar 38 persen, terutama produk berbasis litium, sedangkan Korea Selatan menyerap sekitar 16 persen, khususnya prekursor baterai.
Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa produk hilirisasi Indonesia mulai memasuki beberapa bagian penting dalam rantai pasok baterai global.
Anoda dan katoda merupakan komponen utama baterai yang berperan dalam proses penyimpanan dan pelepasan energi. Sementara itu, prekursor merupakan bahan antara yang diolah lebih lanjut untuk menghasilkan material aktif, terutama untuk katoda baterai.
Perluasan pasar ekspor menjadi penting karena industri baterai tidak hanya membutuhkan bahan mineral, tetapi juga material olahan dengan spesifikasi tertentu untuk memenuhi kebutuhan produsen baterai dan kendaraan listrik.
Ekspor Sel Baterai Sudah Tembus US$600 Juta
Selain material baterai, Indonesia juga mulai meningkatkan ekspor sel baterai. DEN mencatat nilai ekspor produk tersebut telah mencapai sekitar US$600 juta hingga Agustus 2026, dengan Korea Selatan sebagai tujuan utama.
Seto memperkirakan nilai ekspor sel baterai dapat melampaui US$900 juta hingga akhir 2026. Nilai itu diperkirakan meningkat lebih dari 50 persen dibandingkan 2024.
Pertumbuhan ekspor sel baterai menjadi perkembangan penting karena produk ini berada pada tahap manufaktur yang lebih lanjut dibandingkan bahan mentah mineral. Sel baterai merupakan unit dasar penyimpan energi yang kemudian dapat dirangkai menjadi modul dan paket baterai untuk kendaraan listrik maupun kebutuhan lainnya.
Meski demikian, nilai ekspor sel baterai tersebut merupakan kategori produk tersendiri dalam paparan DEN. Angka itu tidak boleh langsung dijumlahkan dengan proyeksi ekspor komponen baterai US$3,1 miliar tanpa memastikan terlebih dahulu apakah kedua kategori tersebut saling terpisah atau terdapat penghitungan yang tumpang tindih.
Indonesia Bisa Mengolah Litium Meski Tidak Memiliki Tambangnya
Salah satu perkembangan yang disoroti DEN adalah kemampuan Indonesia mengolah bahan baku yang sumber daya alamnya tidak tersedia secara memadai di dalam negeri.
Seto menjelaskan, Indonesia telah mampu memproduksi litium hidroksida dan litium karbonat serta material anoda. Padahal, bahan baku utama untuk produk tersebut, seperti konsentrat litium dari mineral spodumene dan grafit, tidak menjadi komoditas tambang utama Indonesia.
Kemampuan tersebut menunjukkan bahwa industrialisasi tidak harus terbatas pada pengolahan mineral yang ditambang di dalam negeri. Industri nasional juga dapat mengolah bahan baku yang diperoleh dari luar negeri menjadi produk bernilai tambah untuk kemudian dipasarkan ke negara lain.
Model ini memungkinkan Indonesia mengambil bagian lebih jauh dalam rantai pasok global, mulai dari pengolahan material hingga pembuatan komponen baterai.
Namun, kemampuan mengolah bahan baku impor juga berarti industri tetap perlu menjaga kepastian pasokan, biaya produksi, dan daya saing harga. Faktor-faktor tersebut menjadi tantangan yang perlu diperhitungkan agar peningkatan kapasitas produksi dapat diikuti pertumbuhan ekspor yang berkelanjutan.
Hilirisasi Indonesia Tak Lagi Bertumpu pada Nikel
Perkembangan industri baterai litium sejalan dengan perluasan agenda hilirisasi pemerintah. Dalam pemaparan kepada Presiden Prabowo Subianto pada 20 Oktober 2026, DEN menyampaikan bahwa pertumbuhan industri pengolahan Indonesia tidak hanya berasal dari nikel, tetapi juga aluminium dan komponen baterai litium.
Secara keseluruhan, DEN memperkirakan ekspor produk hilirisasi dari ketiga sektor tersebut mencapai sekitar US$50 miliar pada 2026. Nilai ini diproyeksikan meningkat hampir 45 persen dibandingkan capaian 2024 yang sekitar US$34,5 miliar.
Angka US$50 miliar tersebut merupakan gabungan dari beberapa sektor hilirisasi, sehingga tidak dapat disamakan dengan ekspor komponen baterai litium saja.
Pemerintah menilai perkembangan ini dapat menjadi sumber tambahan devisa sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam industri manufaktur berbasis mineral.
Ke depan, tantangannya bukan hanya meningkatkan nilai ekspor, tetapi juga memastikan industri memiliki pasokan bahan baku yang stabil, teknologi yang kompetitif, serta kemampuan menghasilkan produk sesuai kebutuhan pasar internasional.
Dengan demikian, keberhasilan hilirisasi baterai litium perlu dilihat bukan semata-mata dari besarnya nilai ekspor, melainkan juga dari kemampuan industri dalam negeri memperluas penguasaan teknologi dan meningkatkan nilai tambah secara berkelanjutan.

