Campuz Headline

Mahasiswa RI di China Ingin Kembangkan STEM di Industri

TERITORIAL.COM, JAKARTA – Seorang mahasiswa asal Indonesia yang menempuh pendidikan di China, Muhammad Apri Yansyah, memiliki cita-cita untuk berkontribusi dalam pengembangan teknologi di tanah air setelah menyelesaikan studinya. Ia berharap ilmu yang diperoleh selama belajar di luar negeri dapat dimanfaatkan untuk membantu kemajuan industri Indonesia, khususnya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Apri saat ini tengah menjalani program magister teknik metalurgi di Central South University yang berada di Kota Changsha, Provinsi Hunan. Kampus tersebut dikenal memiliki reputasi kuat di bidang teknik, terutama metalurgi, transportasi rel, serta ilmu kedokteran.

“Selama delapan tahun kuliah di China, keinginan terbesar saya setelah lulus S2 adalah menjembatani kesenjangan. Saya ingin membawa keahlian teknis STEM yang diperoleh di China untuk diterapkan di industri Indonesia,” kata Apri di Changsha, Selasa (10/3).

Apri menilai pengalaman akademik di China memberikan kesempatan luas untuk membangun jaringan internasional yang berpotensi membantu perkembangan teknologi di Indonesia. Hal ini menjadi penting mengingat banyak proyek industri di Indonesia saat ini memanfaatkan teknologi yang berasal dari China.

Perjalanan Studi dan Pengalaman Akademik

Perjalanan pendidikan Apri di China dimulai dari program diploma (D3) yang ia tempuh di wilayah Guangxi. Setelah itu, ia melanjutkan studi sarjana di China University of Petroleum di Kota Beijing melalui program beasiswa pemerintah China.

Setelah menyelesaikan pendidikan S1, Apri kemudian memutuskan melanjutkan studi magister di Central South University. Menurutnya, universitas tersebut memiliki fasilitas laboratorium yang lengkap serta lingkungan riset yang mendukung penelitian di bidang teknik metalurgi.

Ia menjelaskan bahwa pada jenjang magister, kebutuhan terhadap fasilitas laboratorium menjadi sangat penting untuk menunjang penelitian yang dilakukan mahasiswa. Infrastruktur riset yang tersedia di kampus tersebut memungkinkan mahasiswa melakukan eksperimen dengan standar teknologi yang tinggi.

Selain fasilitas akademik, hubungan universitas dengan perusahaan-perusahaan besar di China juga menjadi keunggulan tersendiri. Kerja sama ini membuat materi yang dipelajari di kelas lebih relevan dengan kebutuhan industri global.

Tantangan Belajar di China

Meski mendapatkan banyak pengalaman berharga, Apri mengaku juga menghadapi berbagai tantangan selama menjalani pendidikan di China. Salah satu kendala utama adalah bahasa, terutama dalam memahami istilah ilmiah yang digunakan dalam bidang fisika dan kimia.

Menurutnya, istilah teknis dalam karakter Hanzi memiliki tingkat kesulitan tersendiri bagi mahasiswa asing. Selain itu, standar akademik yang tinggi juga menuntut mahasiswa untuk menghasilkan data penelitian yang sangat presisi.

Apri mengatakan bahwa perkembangan teknologi di China berlangsung sangat cepat sehingga materi dalam buku teks kadang tertinggal dibanding penelitian terbaru yang sedang dilakukan di laboratorium.

Namun di sisi lain, lingkungan akademik yang kompetitif membuat mahasiswa terbiasa bekerja keras. Fasilitas kampus yang memadai seperti perpustakaan modern, transportasi umum terintegrasi, serta lingkungan kampus yang tertata rapi turut mendukung kegiatan belajar mahasiswa.

Harapan untuk Kolaborasi Teknologi

Apri berharap pemerintah dan sektor industri di Indonesia dapat menyediakan mekanisme yang jelas untuk menyalurkan keahlian para lulusan luar negeri. Dengan demikian, ilmu yang diperoleh selama studi dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk pembangunan nasional.

Ia juga menilai pentingnya membangun wadah kolaborasi antara mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri dengan peneliti di dalam negeri. Kolaborasi tersebut dapat mempercepat transfer teknologi sekaligus membuka akses terhadap jaringan riset internasional.

Kerja sama pendidikan antara Indonesia dan China juga terus berkembang. Central South University diketahui menjalin kemitraan dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia serta perusahaan nikel asal China CNGR Advanced Material.

Perusahaan tersebut bahkan telah membangun fasilitas pengolahan nikel di Morowali. Program kerja sama ini mencakup pelatihan teknis bagi pegawai dan mahasiswa Indonesia di bidang metalurgi serta material industri.

Duta Besar Indonesia untuk China dan Mongolia, Djauhari Oratmangun, menilai bahwa potensi kerja sama pendidikan antara Indonesia dan China masih sangat besar. Ia juga mengusulkan pembentukan rumah budaya Indonesia di Central South University sebagai pusat pertukaran budaya antara kedua negara di Changsha.

Rizki Aminulloh

About Author

You may also like

Campuz Nasional

KPK Tinjau Ulang Kasus Pencucian Uang Setya Novanto Pasca Bebas Bersyarat

TERITORIAL.COM, JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kini meminta perkembangan terbaru dari Bareskrim Polri terkait kasus dugaan Tindak Pidana Pencucian
Campuz Dunia

Hamas Setujui Usulan Gencatan Senjata Gaza dan Pembebasan Sandera

TERITORIAL.COM, JAKARTA – Hamas mengumumkan menerima usulan gencatan senjata Gaza selama 60 hari, yang mencakup pembebasan setengah dari sekitar 20