Dunia Headline

AS Kerahkan Kapal Induk & THAAD Untuk Serang Iran

Illustrasi: AS kerahkan dua kelompok serang kapal induk, yang membawa jet tempur siluman F-35 dan F-22. (Doc. Pinterest)

TERITORIAL.COM, JAKARTA – Amerika Serikat meningkatkan kehadiran militernya secara signifikan di kawasan Timur Tengah dalam beberapa pekan terakhir. Selain puluhan jet tempur dan sistem pertahanan udara untuk mengantisipasi ancaman rudal maupun drone Iran, Washington juga mengirim sedikitnya 10 kapal perang tambahan ke kawasan tersebut. Armada itu akan memperkuat kelompok tempur yang dipimpin kapal induk USS Gerald R. Ford beserta enam kapal perusak pendamping.

Langkah ini dinilai sebagai sinyal bahwa AS tengah bersiap menghadapi kemungkinan gagalnya jalur diplomasi dengan Teheran. Jika perundingan menemui jalan buntu, bukan tidak mungkin terjadi eskalasi militer yang melibatkan operasi gabungan Amerika dan Israel.

Brigadir Jenderal (Purn.) Yuval Eylon, peneliti senior di Institute for National Security Studies (INSS), menilai pengerahan besar-besaran ini memberi fleksibilitas penuh bagi Washington.

“Amerika telah memutuskan untuk membuka semua kartu sehingga mereka dapat bertindak sesuai keinginan mereka. Tetapi pada akhirnya, ini bukan tentang berapa banyak aset yang ada di wilayah tersebut, tetapi tentang tujuan dan kemampuan gugus tugas.”

Ia mengingatkan bahwa pada Perang Irak, AS pernah mengoperasikan enam kapal induk sekaligus dengan ribuan sorti udara dalam hitungan minggu.

“Saat itu, mereka mengatakan ‘semuanya’—kita akan maju sampai akhir,” katanya. “Jika Amerika diharuskan bertindak sekarang, kampanye tersebut tidak akan berlangsung satu atau dua hari,” lanjut dia.

“Pertanyaannya sekarang adalah apa yang diinginkan Amerika,” papar Eylon.

“Waktu ada di pihak mereka. Jika mereka datang hanya untuk melakukan serangan sinyal atau menyerang beberapa target kunci secara terbatas, itu adalah satu jenis peristiwa. Tetapi jika mereka menginginkan kampanye yang lebih kompleks, itu adalah hal lain. Anda perlu membangun bank target dan membawa kekuatan yang signifikan,” imbuh dia.

Kapal Induk, Kapal Selam, dan Sistem Aegis

Di antara armada yang telah berada di kawasan adalah kapal induk USS Abraham Lincoln beserta kapal perusak pengawalnya seperti USS Michael Murphy, USS Frank E. Petersen Jr., dan USS Spruance yang beroperasi di Laut Arab bagian utara.

Sementara itu, USS Gerald R. Ford membawa sekitar 75 pesawat dan helikopter, termasuk F-35C, F/A-18E Super Hornet, serta EA-18G Growler untuk peperangan elektronik. Sayap udara USS Abraham Lincoln bahkan terdiri dari sekitar 90 unit pesawat berbagai fungsi, mulai dari tempur, intelijen, hingga dukungan logistik.

Eylon menjelaskan bahwa kapal induk memang raksasa—panjangnya melebihi tiga lapangan sepak bola—namun pertahanan dirinya relatif terbatas dan sangat bergantung pada sistem perlindungan gugus tugasnya.

“Ada ribuan awak kapal, dek penerbangan, sistem komunikasi, amunisi yang ekstensif untuk pesawat terbang, dan banyak kemampuan serta aset lainnya,” katanya. “Oleh karena itu, di antara alasan lainnya, pertahanan diri kapal induk relatif terbatas dan terutama untuk perlindungan jarak dekat.”

Kelompok tempur ini dilengkapi kemampuan intersepsi rudal melalui sistem Aegis, serta daya serang jarak jauh menggunakan rudal Tomahawk yang dapat diluncurkan dari kapal permukaan maupun kapal selam. Kapal selam seperti USS South Dakota dan USS Georgia turut dikerahkan untuk misi intelijen, perang bawah laut, serta serangan presisi jarak jauh.

Jet Tempur dan Baterai THAAD

Di sektor udara, AS memperkuat pangkalan regional dengan puluhan jet tempur tambahan. Pesawat seperti F-22 Raptor, F-35 Lightning II, dan F-16 Fighting Falcon dilaporkan telah diposisikan mendekati kawasan operasi. Pesawat tanker KC-135 dan KC-46A mendukung jangkauan tempur yang lebih panjang.

Untuk pertahanan rudal, sistem THAAD dan Patriot ditempatkan di sejumlah negara seperti Qatar, Yordania, Kuwait, Bahrain, dan Arab Saudi. THAAD dirancang mencegat rudal balistik di luar atmosfer, sedangkan Patriot efektif melawan ancaman ketinggian rendah.

Seluruh pengerahan ini menunjukkan bahwa Washington tidak hanya menyiapkan kekuatan ofensif, tetapi juga pertahanan berlapis guna mengantisipasi berbagai skenario eskalasi di kawasan yang sudah lama menjadi titik panas geopolitik global.

Kayla Dikta Alifia

About Author

You may also like

Dunia

Menteri pertahanan Indonesia dan Amerika Serikat kembali bertemu

Jakarta teritorial.com – Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, kembali bertemu dengan koleganya, Menteri Pertahanan Amerikat Serikat, James Mattis, di akhir acara
Dunia

Arab Saudi Gagalkan Serangan Rudal yang Targetkan Bandara

Jakarta territorial.com- Pasukan pertahanan Arab Saudi berhasil menggagalkan serangan rudal yang diluncurkan dari wilayah konflik di Yaman, Sabtu (4/11/2017) malam