Dunia Headline

AS Sita Kapal Tanker Rusia di Atlantik Utara, Ketegangan Meningkat

Kapal tanker berbendera Rusia di perairan Atlantik Utara
Citra tangkapan layar memperlihatkan operasi militer di laut yang dikaitkan dengan penyitaan kapal tanker di perairan internasional Atlantik Utara, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Rusia. (Sumber: Sky News Australia)

TERITORIAL.COM, JAKARTA – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia kembali meningkat setelah militer AS sita kapal tanker Rusia di Samudra Atlantik Utara. Insiden ini menjadi sorotan internasional karena terjadi di tengah upaya Washington memperketat tekanan terhadap Venezuela melalui penegakan sanksi energi global.

Kapal Tanker Bella-1 dihentikan dan dinaiki pasukan Amerika Serikat dalam sebuah operasi gabungan bersama militer Inggris sekitar pukul 07.00 waktu setempat. Operasi tersebut berlangsung di perairan internasional antara Skotlandia dan Islandia. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa kapal tersebut sempat berada di bawah pengawalan kapal selam Rusia sebelum akhirnya disita.

Pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa penyitaan dilakukan sebagai bagian dari kebijakan penegakan sanksi terhadap jaringan perdagangan minyak yang dinilai membantu Venezuela menghindari embargo internasional. Washington menuding kapal tersebut menjadi bagian dari jaringan kapal tanker tidak resmi atau armada gelap yang beroperasi untuk mengangkut minyak secara terselubung.

Kementerian Transportasi Rusia mengecam keras langkah tersebut. Moskow menegaskan bahwa tidak ada negara yang berhak menggunakan kekuatan militer terhadap kapal yang terdaftar secara sah di bawah yurisdiksi negara lain, terlebih di perairan internasional. Rusia menilai tindakan itu sebagai pelanggaran serius terhadap hukum maritim internasional.

Di Amerika Serikat sendiri, penyitaan kapal tanker Rusia ini memicu perdebatan politik. Sejumlah senator menyampaikan kekhawatiran bahwa langkah tersebut berpotensi meningkatkan risiko konfrontasi langsung antara Washington dan Moskow. Senator Richard Blumenthal menyebut tindakan ini dapat memperburuk ketegangan geopolitik yang sudah tinggi, terutama di tengah konflik global yang masih berlangsung.

Rusia diketahui merupakan salah satu sekutu utama rezim mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Kedua negara disebut memiliki kepentingan bersama dalam menjaga ekspor minyak tetap berjalan meskipun menghadapi sanksi internasional. Jaringan kapal tanker yang sulit dilacak menjadi salah satu cara untuk mempertahankan aliran perdagangan energi tersebut.

Pengejaran terhadap Bella-1 dilaporkan telah dimulai sejak pertengahan Desember sebagai bagian dari kampanye Amerika Serikat untuk menghentikan kapal-kapal pembawa minyak Venezuela yang terkena sanksi. Rusia kemudian mengonfirmasi bahwa kapal tersebut mulai mengibarkan bendera Rusia pada 24 Desember, di tengah proses pengejaran yang masih berlangsung.

Mantan pejabat tinggi Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Tom Shannon, menilai langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintahan Presiden Donald Trump dalam memblokade perdagangan minyak ilegal Venezuela. Namun, ia juga mengingatkan bahwa pendekatan agresif ini berisiko memicu ketegangan dengan negara-negara besar lain yang terlibat atau diuntungkan dari perdagangan minyak tersebut.

Pada hari yang sama, Amerika Serikat juga menyita satu kapal tanker lain di kawasan Karibia. Dengan demikian, jumlah kapal tanker yang disita dalam beberapa bulan terakhir bertambah menjadi empat unit. Gedung Putih menyatakan awak kapal Bella-1 berpotensi diadili sesuai hukum Amerika Serikat, sementara Rusia mendesak agar seluruh awak diperlakukan secara manusiawi.

Data pelacakan kapal menunjukkan Bella-1 sempat menghilang dari radar selama hampir dua pekan sebelum kembali terdeteksi pada awal Januari. Kapal itu diduga tengah menuju pelabuhan di kawasan Arktik Rusia sebelum akhirnya dihentikan.

Penyitaan kapal tanker berbendera Rusia ini menandai eskalasi serius dalam konflik sanksi energi global. Langkah tersebut tidak hanya menargetkan Venezuela, tetapi juga berpotensi memperluas ketegangan antara Amerika Serikat dan Rusia, dengan dampak yang dapat dirasakan pada stabilitas keamanan serta pasar energi internasional.

taradea

taradea

About Author

You may also like

Dunia

Menteri pertahanan Indonesia dan Amerika Serikat kembali bertemu

Jakarta teritorial.com – Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, kembali bertemu dengan koleganya, Menteri Pertahanan Amerikat Serikat, James Mattis, di akhir acara
Dunia

Arab Saudi Gagalkan Serangan Rudal yang Targetkan Bandara

Jakarta territorial.com- Pasukan pertahanan Arab Saudi berhasil menggagalkan serangan rudal yang diluncurkan dari wilayah konflik di Yaman, Sabtu (4/11/2017) malam