TERITORIAL.COM, JAKARTA – Qatar mengecam pelanggaran gencatan senjata di Jalur Gaza yang kembali memicu kekerasan dan menimbulkan banyak korban jiwa.
Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, menyampaikan rasa kecewa dan frustrasinya atas pelanggaran gencatan senjata yang terjadi pada Rabu (29/10).
Ia menilai, meskipun sejak gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober sempat terjadi beberapa insiden kecil, pelanggaran terbaru kali ini tergolong serius dan berpotensi menggagalkan seluruh proses perdamaian.
Menurut Al Thani, serangan yang menewaskan seorang tentara Israel di Kota Rafah, Gaza bagian selatan, diduga berasal dari pihak Palestina meski Hamas menyangkalnya.
“Kami belum dapat memastikannya. Kami belum memiliki verifikasi apakah ini benar atau tidak,” kata Al Thani sekaligus menekankan bahwa Qatar tetap fokus untuk memastikan gencatan senjata tetap berlaku.
Serangan Israel Tewaskan Ratusan Warga Palestina
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa serangan udara Israel sejak Selasa malam menewaskan lebih dari 100 warga Palestina, termasuk 46 anak-anak.
Serangan itu melanggar kesepakatan gencatan senjata yang seharusnya menciptakan masa tenang bagi kedua pihak.
Data terbaru menunjukkan, sejak 10 Oktober, sedikitnya 211 warga Palestina tewas dan 597 orang terluka akibat serangan Israel.
Sementara sejak konflik pecah pada Oktober 2023, lebih dari 68.000 warga Palestina kehilangan nyawa akibat kekerasan militer di Gaza.
AS Ikut Berperan, Qatar Perkuat Mediasi
Setelah insiden tersebut, Qatar segera berkoordinasi dengan Amerika Serikat untuk meredakan ketegangan.
Pemerintah AS mulai mengambil langkah diplomatik untuk memastikan gencatan senjata tetap berjalan, sekaligus menegaskan pengaruh besarnya dalam dinamika konflik Israel–Palestina.
Di sisi lain, Qatar terus memperkuat posisinya sebagai aktor mediator di Timur Tengah dengan memanfaatkan diplomasi dan bantuan kemanusiaan untuk menengahi berbagai konflik, termasuk isu Gaza.
Melalui pendekatan damai, Qatar berupaya menjadi penengah yang dipercaya kedua pihak sekaligus mencerminkan strategi politik luar negeri Doha untuk membangun citra sebagai negara kecil berpengaruh di tingkat global.
Perdamaian Masih Rawan Gagal
Gencatan senjata di Gaza menunjukkan betapa sulitnya menjaga stabilitas tanpa pengawasan internasional yang efektif. Qatar mendesak semua pihak untuk menahan diri dan menghormati kesepakatan yang ada.
Namun, tingginya jumlah korban sipil, terutama anak-anak, memperbesar tekanan dunia internasional terhadap Israel dan Palestina.
Beberapa negara Arab mendesak komunitas global untuk menegakkan hukum humaniter dan melakukan penyelidikan independen atas pelanggaran yang terjadi.
Qatar menegaskan komitmennya untuk terus mendorong proses perdamaian dan memastikan gencatan senjata tidak runtuh. Meski demikian, tanpa komitmen dari kedua pihak, upaya diplomasi berisiko kembali gagal.

