London, TERITORIAL.COM – Harga minyak dunia melonjak hampir 4% pada perdagangan Kamis (8/10/2026). Kenaikan ini dipicu meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, ancaman gangguan produksi minyak dan gas di Amerika Serikat (AS) akibat Badai Isaias, serta penurunan persediaan minyak mentah AS yang lebih besar dari perkiraan pasar.
Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap ketersediaan pasokan energi global. Risiko gangguan distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah turut memperkuat tekanan kenaikan harga.
Pada pukul 10.19 waktu setempat atau 07.19 GMT, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember 2026 naik 3,7% menjadi USD103,93 per barel. Angka ini meningkat dari harga penutupan sebelumnya sebesar USD100,20 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), yang menjadi acuan harga minyak AS, untuk pengiriman November 2026 menguat 2,6% menjadi USD91,29 per barel. Pada perdagangan sebelumnya, WTI ditutup di level USD89,01 per barel.
Ketegangan Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan Minyak
Salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga minyak adalah meningkatnya risiko keamanan di kawasan Teluk. Sebuah kapal tanker dilaporkan terkena beberapa proyektil di perairan utara Qatar pada Rabu (7/10/2026). Insiden tersebut dilaporkan menimbulkan korban jiwa dan kini tengah diselidiki pihak berwenang.
United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), lembaga yang memantau keamanan pelayaran komersial, menyebut insiden itu terjadi sekitar 51 mil laut atau 94 kilometer di utara Madinat ash Shamal, Qatar.
Peristiwa tersebut menambah kekhawatiran terhadap keselamatan kapal-kapal yang mengangkut minyak dan produk energi di kawasan Teluk. Jika gangguan keamanan meluas, pengiriman minyak berpotensi mengalami hambatan, sementara biaya pengangkutan dan asuransi kapal dapat meningkat.
Pasar juga mencermati perkembangan hubungan antara AS dan Iran. Sejumlah laporan menyebut pemerintah AS tengah mempertimbangkan opsi militer terhadap Iran. Namun, rencana tersebut belum dapat dipastikan sebagai keputusan untuk melancarkan serangan baru.
Di tengah ketegangan itu, Presiden AS Donald Trump menyampaikan adanya perkembangan dalam komunikasi dengan Iran melalui utusan khususnya, Steve Witkoff. Meski demikian, arah perundingan dan kemungkinan tercapainya kesepakatan masih menjadi perhatian pelaku pasar.
Ketidakpastian geopolitik tersebut membuat harga minyak rentan mengalami perubahan tajam. Pasalnya, gangguan terhadap produksi maupun jalur pelayaran utama dapat memengaruhi pasokan energi yang tersedia di pasar internasional.
Stok Minyak Mentah AS Turun di Luar Perkiraan
Tekanan kenaikan harga minyak juga datang dari data persediaan energi AS. Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah komersial negara tersebut turun sekitar 3,2 juta barel menjadi 424,1 juta barel pada pekan yang berakhir 2 Oktober 2026.
Penurunan itu berlawanan dengan perkiraan pasar yang sebelumnya memperkirakan persediaan minyak mentah akan bertambah sekitar 1,7 juta barel. Data tersebut menunjukkan bahwa stok minyak komersial AS justru menyusut ketika pasar memperkirakan adanya penambahan pasokan.
Selain persediaan komersial, stok minyak dalam Cadangan Minyak Strategis AS atau Strategic Petroleum Reserve (SPR) juga berkurang sekitar 800 ribu barel menjadi sekitar 283 juta barel.
Persediaan minyak menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor untuk menilai keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan energi. Penurunan stok yang lebih besar dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi bahwa pasar sedang menghadapi tekanan pasokan, terutama ketika muncul risiko gangguan produksi dari wilayah lain.
Meski demikian, perubahan persediaan mingguan tidak serta-merta menunjukkan bahwa dunia mengalami kekurangan minyak. Pelaku pasar juga memperhitungkan tingkat produksi, ekspor, impor, aktivitas kilang, dan permintaan energi sebelum menentukan arah harga.
Badai Isaias Ancam Produksi Minyak dan Gas AS
Faktor lainnya adalah Badai Isaias yang berkembang menjadi badai kategori hurricane pertama pada musim Atlantik 2026. Badai tersebut mengancam kawasan pesisir Teluk AS, salah satu wilayah penting bagi industri minyak dan gas negara itu.
Sebagai langkah antisipasi, sejumlah perusahaan energi menghentikan sementara sebagian kegiatan produksi lepas pantai dan mengevakuasi pekerja dari fasilitas yang berpotensi terdampak.
Data otoritas terkait menunjukkan sekitar 25,08% produksi minyak dan 16,37% produksi gas alam di Teluk Meksiko AS telah dihentikan sementara hingga Rabu (7/10/2026). Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko keselamatan sekaligus mengantisipasi dampak cuaca ekstrem terhadap fasilitas produksi.
Selain mengganggu produksi lepas pantai, badai juga berpotensi memengaruhi operasional kilang di kawasan pesisir Teluk. Jika fasilitas pengolahan minyak harus mengurangi atau menghentikan kegiatan, pasokan bahan bakar olahan juga berpotensi terdampak.
Besarnya dampak terhadap pasar akan bergantung pada jalur pergerakan badai, lamanya penghentian produksi, serta seberapa cepat fasilitas energi dapat kembali beroperasi secara normal.
Pasar Minyak Dibayangi Risiko Gangguan Pasokan
Kenaikan harga minyak pada Kamis mencerminkan respons pasar terhadap sejumlah risiko yang muncul secara bersamaan. Ketegangan geopolitik meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak dari Timur Tengah, sementara penurunan persediaan AS dan penghentian sementara produksi akibat badai menambah tekanan dari sisi pasokan.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar terus memantau perkembangan keamanan di kawasan Teluk, hasil perundingan AS-Iran, data persediaan energi, serta dampak Badai Isaias terhadap industri minyak dan gas.
Ke depan, arah harga minyak dunia akan sangat bergantung pada apakah risiko-risiko tersebut berkembang menjadi gangguan pasokan yang berkepanjangan atau justru mereda. Selama ketidakpastian masih tinggi, pergerakan harga minyak berpotensi tetap bergejolak.

