TERITORIAL.COM, JAKARTA – Pakistan tengah memulihkan hubungan diplomatik dengan Bangladesh setelah lebih dari 10 tahun berjalan dingin.
Langkah ini dilihat sebagai strategi penting Islamabad untuk memanfaatkan perubahan politik di Dhaka sekaligus memperkuat posisinya dalam dinamika regional Asia Selatan.
Kunjungan Perdana dalam 13 Tahun
Kunjungan Wakil Perdana Menteri serta Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, ke Dhaka pada 23 Agustus kemarin menjadi petunjuk kunjungan perdana dari Pakistan ke Bangladesh dalam 13 tahun terakhir.
Dar menyebut pertemuannya dengan otoritas Bangladesh sebagai “awal dari kemitraan yang diperbarui.”
“Kita harus bekerja sama menciptakan lingkungan di mana pemuda dari Karachi ke Chittagong, Quetta ke Rajshahi, Peshawar ke Sylhet, dan Lahore ke Dhaka dapat bersatu mengahadapi tantangan dan mewujudkan mimpi bersama mereka,” kata Dar, menyebut nama kota-kota di kedua negara.
Perubahan Politik & Hubungan yang Kian Intens
Peluang ini muncul setelah lengsernya pemerintahan Sheikh Hasina pada Agustus 2024.
Hasina, yang memiliki kedekatan politik dengan India, terpaksa mundur usai gelombang aksi mahasiswa yang meluas.
Kepemimpinan sementara kemudian diambil alih oleh peraih Nobel Ekonomi, Muhammad Yunus, yang dimanfaatkan Pakistan untuk kembali menjalin hubungan dengan Dhaka.
Pada tahun ini, intensitas hubungan kedua negara terus meningkat. Beberapa pejabat tinggi Dhaka, termasuk dari unsur militer, melakukan kunjungan ke Islamabad dan berlaku sebaliknya.
Rangkaian pertemuan tersebut bukan hanya memperkuat jalur komunikasi, tetapi juga membuka ruang kerja sama strategis, khususnya di sektor pertahanan dan ekonomi.
Fokus Geopolitik dan Bayang-Bayang India
Langkah Pakistan dinilai lebih berfokus pada kepentingan geopolitik daripada menyelesaikan persoalan sejarah.
Islamabad berupaya untuk menahan pengaruh dominan India di kawasan, dengan menjalin kedekatan dengan Dhaka.
Namun, tanpa menghadirkan solusi atas isu masa lalu, hubungan kedua negara bisa rapuh dan berisiko kembali memanas.
Di sisi lain, India terus mencermati perkembangan ini dengan seksama. New Delhi khawatir jika hubungan Pakistan dan Bangladesh bertransformasi menjadi kemitraan strategis yang mampu mengubah dinamika keamanan regional.
Tantangan Rekonsiliasi ke Depan
Pakistan harus menentukan sikap untuk menghadapi warisan sejarah secara terbuka atau tetap mengabaikannya.
Bagi Bangladesh, kedekatan dengan Islamabad dapat menjadi modal politik di tengah hubungan tegang dengan India, namun bisa menjadi bumerang jika isu tragedi 1971 tidak diselesaikan.
Saat ini, hubungan kedua negara berada di titik krusial, di mana rekonsiliasi dengan komitmen nyata dapat membuka peluang besar, tetapi tanpa penyelesaian masalah mendasar, hubungan tetap bisa rapuh.

