JAKARTA,– Di tengah gelombang protes anti-pemerintah yang terus mengguncang Republik Islam Iran, sebuah figur dari masa lalu tiba-tiba tampil ke permukaan, memberikan respons keras terhadap krisis nasional. Reza Pahlavi, putra terakhir Shah Iran yang digulingkan pada Revolusi Islam 1979, secara mendadak muncul dan menyampaikan seruan yang ditujukan langsung kepada rakyat Iran, mendesak mereka untuk mengintensifkan upaya menuju perubahan rezim.
Kemunculan Pahlavi yang telah lama hidup di pengasingan ini sontak menjadi sorotan, menandakan potensi pergeseran dinamika oposisi terhadap Tehran. Seruan ini datang di saat rezim ulama menghadapi salah satu tantangan domestik terbesar dalam beberapa dekade terakhir.
Dinamika Protes yang Memanas
Iran telah menjadi lokasi demonstrasi massal yang dipicu oleh berbagai isu, mulai dari kemarahan atas kondisi ekonomi yang memburuk, korupsi endemik, hingga pembatasan sosial dan politik yang ketat di bawah pemerintahan ulama. Protes, yang sering kali dimulai secara sporadis, kini telah mencapai skala yang mengancam stabilitas internal Republik Islam.
Massa, yang didominasi oleh generasi muda yang frustrasi, menyuarakan tuntutan yang melampaui reformasi; mereka menyerukan diakhirinya sistem teokrasi yang berkuasa sejak 1979.
Dalam kondisi inilah, Reza Pahlavi, yang mewakili garis keturunan monarki yang dibenci oleh para pendiri Republik Islam namun diingat oleh sebagian pihak sebagai masa sekulerisasi dan modernisasi, memilih untuk angkat bicara.
Seruan Pahlavi: Fokus pada Persatuan Nasional
Melalui platform publiknya, Reza Pahlavi tidak hanya memberikan dukungan moral bagi para demonstran, tetapi juga mengeluarkan seruan spesifik yang berfokus pada dua pilar utama: persatuan faksi oposisi dan perencanaan transisi politik yang terstruktur.
Pahlavi, yang sering dipandang sebagai simbol alternatif sekuler dan pro-demokrasi bagi Iran, mendesak seluruh warga Iran—terlepas dari etnis, agama, atau afiliasi politik—untuk mengesampingkan perbedaan dan bersatu di bawah bendera gerakan nasional untuk kebebasan.
“Ini adalah momen persatuan. Musuh terbesar kita adalah perpecahan di antara kita sendiri,” seru Pahlavi.
Ia menekankan bahwa fokus utama saat ini haruslah pada penggulingan total sistem Republik Islam, dan kemudian menyusun dewan transisi yang akan mengawasi pembentukan pemerintahan yang benar-benar demokratis dan sekuler. Seruan ini secara implisit menolak solusi setengah hati atau reformasi parsial dari struktur kekuasaan saat ini.
Warisan Dinasti dan Tantangan Legitimasi
Reza Pahlavi (63 tahun) adalah pewaris terakhir Dinasti Pahlavi, yang berkuasa di Iran dari tahun 1925 hingga Revolusi Islam 1979. Meskipun ia tidak secara aktif menyerukan pemulihan monarki secara harfiah, keberadaannya di tengah wacana politik oposisi menimbulkan perdebatan penting.
Bagi beberapa faksi oposisi, terutama di diaspora, Pahlavi menawarkan simbol persatuan dan kesinambungan sejarah Iran sebelum dominasi ulama. Namun, bagi yang lain, terutama kelompok kiri dan republiken, warisan ayahnya, Shah Mohammad Reza Pahlavi (yang dituduh otoriter dan didukung Barat), menimbulkan keraguan atas klaim legitimasinya untuk memimpin gerakan demokratisasi.
Meskipun demikian, seruan Pahlavi memiliki dampak signifikan karena ia memiliki pengikut yang substansial di media sosial dan di kalangan ekspatriat Iran. Kemunculannya memberikan opsi ideologis yang jelas di tengah kekosongan kepemimpinan oposisi domestik yang terorganisasi.
Implikasi dan Prospek ke Depan
Kemunculan Reza Pahlavi menandai upaya serius untuk mengkoordinasikan gerakan protes yang tersebar dan tidak terpusat. Jika ia berhasil memobilisasi faksi-faksi oposisi yang berbeda—mulai dari monarkis, sekuler, hingga minoritas etnis—maka tekanan terhadap rezim ulama akan meningkat secara eksponensial.
Seruan untuk persatuan ini menjadi krusial karena pemerintah Iran sering memanfaatkan perpecahan di antara para penentangnya untuk meredam protes. Dengan adanya figur yang menantang dan menyerukan visi pasca-rezim yang jelas, Pahlavi menempatkan dirinya sebagai salah satu suara terkemuka dalam perdebatan mengenai masa depan politik Iran.
Namun, tantangan terbesar Pahlavi tetap pada kemampuannya untuk mempengaruhi peristiwa secara nyata di dalam perbatasan Iran, di mana tindakan oposisi di pengasingan sering kali dianggap kurang relevan oleh Teheran. Meskipun demikian, seruan terbarunya ini telah berhasil menyuntikkan energi baru dan fokus ke dalam gerakan anti-pemerintah yang semakin berani.
Kesimpulan
Kemunculan mendadak Reza Pahlavi dan seruannya untuk persatuan dan transisi politik menjadi perkembangan kunci dalam krisis Iran yang sedang berlangsung. Ini tidak hanya memberikan dukungan simbolis bagi para demonstran yang menuntut kebebasan dan keadilan, tetapi juga memaksa perdebatan mengenai arsitektur politik Iran di masa depan. Seruan ini menjadi uji coba penting apakah warisan sejarah dapat diubah menjadi alat efektif untuk memimpin revolusi demokratis yang menantang kekuatan klerikal yang telah berkuasa selama lebih dari empat dekade.

