TERITORIAL.COM, JAKARTA – Operasi militer Amerika Serikat di Venezuela kembali memantik kemarahan dunia internasional. Di tengah duka mendalam akibat puluhan korban jiwa, Washington justru melangkah lebih jauh dengan mengumumkan penguasaan puluhan juta barel minyak Venezuela—langkah yang dinilai memperlihatkan wajah sesungguhnya dari intervensi tersebut.
Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, menetapkan masa berkabung nasional selama tujuh hari untuk menghormati para pemuda, perempuan, dan laki-laki yang gugur dalam serangan militer AS. Mereka disebut sebagai martir yang mempertahankan kedaulatan negara dari agresi eksternal.
“Saya telah memutuskan masa berkabung selama tujuh hari sebagai penghormatan dan kemuliaan bagi mereka yang mengorbankan nyawa demi membela Venezuela dan Presiden Nicolas Maduro,” ujar Rodriguez. Ia menegaskan pentingnya menjaga stabilitas internal, sembari mengulang seruan agar tekanan dan serangan terhadap republik Bolivarian itu dihentikan.
Gelombang duka tidak hanya menyelimuti Venezuela. Pemerintah Kuba mengonfirmasi bahwa 32 pejuang Kuba yang menjalankan tugas keamanan di Caracas atas permintaan resmi otoritas Venezuela turut tewas. Mereka gugur akibat pertempuran langsung maupun pengeboman oleh pasukan AS. Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel pun menetapkan 5 dan 6 Januari sebagai hari berkabung nasional, sementara nama-nama para korban resmi dirilis oleh Kementerian Angkatan Bersenjata Revolusioner Kuba.
Di tengah tragedi kemanusiaan tersebut, Presiden AS Donald Trump mengakui bahwa banyak orang tewas akibat operasi militer Washington di Venezuela, termasuk warga Kuba. Namun, pengakuan itu tak diiringi refleksi atau penyesalan atas eskalasi kekerasan yang terjadi.
Alih-alih meredakan ketegangan, Trump justru mengumumkan bahwa otoritas sementara di Venezuela telah menyetujui pengalihan antara 30 juta hingga 50 juta barel minyak bernilai tinggi—yang sebelumnya terkena sanksi—ke Amerika Serikat untuk dijual di pasar. Trump bahkan menyebut hasil penjualan minyak tersebut akan berada di bawah kendalinya sebagai Presiden AS.
Pengumuman itu disampaikan hanya beberapa hari setelah serangan udara besar-besaran Washington yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Keduanya kemudian dibawa ke New York untuk menghadapi persidangan atas tuduhan narkoba dan senjata—tuduhan yang oleh Caracas dianggap sebagai kriminalisasi politik.
Pemerintahan Trump membingkai operasi tersebut sebagai bagian dari penegakan Doktrin Monroe dan perang melawan “narko-terorisme.” Namun, bagi banyak pihak, rangkaian peristiwa ini justru memperkuat dugaan bahwa agenda utama Washington adalah mempertegas dominasinya atas cadangan minyak besar Venezuela.
Bagi Venezuela dan Kuba, darah yang tertumpah dan sumber daya yang dialihkan menjadi bukti bahwa intervensi militer AS bukan sekadar penegakan hukum, melainkan bentuk agresi dan penguasaan ekonomi yang mengorbankan nyawa serta kedaulatan negara lain.

