TERITORIAL.COM, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Selasa (18/11/2025) secara resmi menandatangani perjanjian pertahanan strategis yang menetapkan Arab Saudi sebagai Major Non-NATO Ally (MNNA).
Keputusan ini diumumkan saat Trump menerima Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dalam jamuan makan malam resmi di Gedung Putih.
Pengumuman tersebut secara signifikan meningkatkan hubungan pertahanan antara Washington dan Riyadh, menempatkan Arab Saudi dalam kelompok elite 20 negara yang memiliki status istimewa tersebut.
“Malam ini, saya senang mengumumkan bahwa kita membawa kerja sama militer kita ke tingkat yang lebih tinggi lagi dengan secara resmi menetapkan Arab Saudi sebagai sekutu utama non-NATO,” kata Trump, yang sempat merahasiakan keputusan ini.
Keuntungan Status MNNA
Status MNNA memberi Saudi akses prioritas dan pembiayaan untuk pengadaan peralatan militer AS melalui Foreign Military Sales (FMS).
Selain itu, status ini membuka jalan bagi kerja sama militer yang lebih dalam, latihan gabungan yang intensif, dan transfer teknologi untuk meningkatkan interoperability antara sistem pertahanan kedua negara.
Penunjukan ini juga berfungsi sebagai pengakuan formal AS atas peran vital Arab Saudi bagi kepentingan keamanan nasional AS di Timur Tengah, mengirimkan sinyal komitmen yang kuat kepada para rival regional.
Kesepakatan Lanjutan
Penunjukan MNNA datang bersamaan dengan serangkaian kesepakatan bilateral besar yang memperkuat kemitraan strategis AS–Saudi.
Pada hari yang sama, MBS mengumumkan janji Arab Saudi untuk meningkatkan investasi di AS, dari $600 miliar menjadi hampir $1 triliun.
Selain itu, para pejabat administrasi AS mengisyaratkan kesepakatan untuk ekspor cip semikonduktor ke Arab Saudi dapat terwujud segera.
Trump juga menyinggung potensi kesepakatan kerja sama sipil nuklir yang dibangun berdasarkan standar non-proliferasi yang kuat di masa depan.
Kritik terhadap Kebijakan Trump
Namun, overture diplomatik besar ini tidak lepas dari kontroversi karena kunjungan Putra Mahkota MBS ke Washington merupakan yang pertama kalinya sejak pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi pada tahun 2018.
CIA sebelumnya menyimpulkan bahwa MBS kemungkinan besar memerintahkan pembunuhan itu. Trump pun menerima kritik keras dari berbagai pihak karena “menggelar karpet merah” bagi MBS.
Saat menghadapi pertanyaan dari wartawan mengenai isu hak asasi manusia dan peran Saudi dalam serangan 11 September 2001, Trump membela MBS.
Ia bahkan menuduh seorang reporter dari ABC News yang menanyakan topik sensitif itu bahwa ia “memalukan tamu kita.”
Menanggapi hal tersebut, MBS turut angkat bicara dan menyatakan ia merasakan “kepedihan bagi keluarga korban 9/11 di Amerika.”
Penetapan Arab Saudi sebagai Sekutu Utama Non-NATO ini menggarisbawahi upaya pemerintahan Trump untuk memperkuat aliansi keamanan dan ekonomi di Timur Tengah, meskipun harus menanggung kontroversi atas isu hak asasi manusia dan sejarah kedua negara.

