TERITORIAL.COM, JAKARTA — Menjelang perayaan Hari Thanksgiving, sebuah penembakan terhadap dua anggota Garda Nasional AS terjadi pada Rabu sore (26/11/2025).
Kejadian ini memicu penyelidikan terorisme federal atas serangan mendadak (ambush) yang terjadi hanya beberapa blok dari Gedung Putih.
Oleh karena itu, FBI kini memfokuskan upaya mereka untuk mengungkap motif di balik penyerangan yang sangat keji ini.
Detail Serangan dan Kondisi Korban
Jaksa AS Jeanine Pirro menjelaskan kronologi insiden tersebut, kemudian mengidentifikasi korban sebagai Spesialis Sarah Beckstrom (20) dan Staf Sersan Andrew Wolfe (24).
Awalnya, tersangka mendekati kelompok Garda Nasional, lalu tanpa peringatan melepaskan tembakan beruntun menggunakan revolver 357.
Bahkan, setelah seorang penjaga terjatuh, penyerang dilaporkan menembak korban kedua berulang kali. Ia juga mencoba menggunakan senjata milik korban dan menusuk seorang prajurit Garda ketiga dengan pisau saku.
Saat ini, kedua prajurit tersebut menjalani perawatan di rumah sakit dan berada dalam kondisi kritis, sehingga memicu ungkapan simpati dan doa dari seluruh masyarakat.
Pengungkapan Tersangka dan Motif Belum Jelas
Pihak berwenang mengidentifikasi pelaku sebagai Rahmanullah Lakanwal (29), seorang warga Afghanistan dari Washington, yang melakukan perjalanan darat jauh-jauh ke ibu kota.
Meskipun Direktur FBI Kash Patel menyebut serangan ini sebagai “tindakan terorisme yang keji,” namun motifnya tetap belum jelas.
Maka dari itu, FBI menyelidiki beberapa kemungkinan, termasuk apakah Lakanwal mengalami paranoia atau masalah kesehatan mental, khususnya rasa takut akan deportasi.
Sebagai tindak lanjut, Lakanwal telah dijerat dengan tiga dakwaan penyerangan dengan maksud untuk membunuh.
Sementara itu, Direktur CIA John Ratcliffe membenarkan bahwa Lakanwal memiliki latar belakang sebagai anggota “pasukan mitra” AS di Afghanistan sebelum berimigrasi pada tahun 2021.
Trump Perketat Kebijakan Imigrasi
Menanggapi kejadian tersebut, Pemerintahan Trump memberikan reaksi keras. Presiden Donald Trump menggambarkan penembakan itu sebagai “tindakan jahat” dan secara langsung mengaitkan insiden ini dengan ancaman imigrasi.
Oleh karena itu, Presiden Trump memerintahkan penghentian segera dan “peninjauan kembali secara penuh” terhadap semua aplikasi imigrasi dan Kartu Hijau dari Afghanistan dan “negara-negara yang menjadi perhatian.”
Dengan kata lain, serangan tunggal ini telah memicu debat sengit mengenai kebijakan keamanan nasional dan kebijakan vetting imigran di Amerika Serikat. b

