Dunia

Perdana Menteri Israel Netanyahu, Di Balik Perang Iran yang Menguncang Dunia

Perdana Menteri Israel Netanyahu, Di Balik Perang Iran yang Menguncang Dunia

TERITORIAL.COM, JAKARTA – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kini menjadi sosok paling diperbincangkan di panggung geopolitik global. Bukan tanpa alasan — di bawah komandonya, Israel dan Amerika Serikat baru saja melancarkan operasi militer paling berani dalam sejarah Timur Tengah modern, langsung menyasar jantung kekuasaan Iran.

Konflik ini bukan sekadar perang biasa. Ini adalah puncak dari ambisi bertahun-tahun yang kini akhirnya terbuka di hadapan dunia.

Operation Epic Fury: Ketika Ambisi Bertemu Aksi

Pada 28 Februari 2026, dunia dikejutkan oleh Operation Epic Fury — serangan militer gabungan Israel-AS yang menghantam Iran secara serentak. Dalam hitungan jam sejak operasi dimulai, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan yang menargetkan kediamannya.

Netanyahu langsung angkat bicara. Ia menegaskan bahwa tujuan serangan adalah untuk “menghilangkan ancaman eksistensial yang ditimbulkan oleh rezim teroris Iran,” dan menambahkan bahwa “tindakan bersama kita akan menciptakan kondisi bagi rakyat Iran yang pemberani untuk mengambil nasib mereka di tangan mereka sendiri.”

Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Ini adalah sinyal terang bahwa target Israel jauh lebih besar dari sekadar fasilitas nuklir.

Mengapa Netanyahu Memilih Momen Ini?

Banyak pihak bertanya-tanya: apa yang membuat perdana menteri Israel ini memutuskan untuk bertindak sekarang?

Baca juga : Media Iran Klaim Netanyahu Tewas atau Terluka

Menurut analisis Foreign Policy, Netanyahu secara terbuka mengakui bahwa konfrontasi dengan Iran adalah sesuatu yang ia “rindukan selama 40 tahun.” Namun ancaman nuklir bukanlah satu-satunya pemicu. Ada sejumlah “jendela peluang” yang tengah menutup bersamaan:

  • Kalender politik di Israel dan Amerika yang kian mepet
  • Pergeseran opini publik AS terhadap Israel yang mulai melemah
  • Kedekatan personal Netanyahu dengan Presiden Trump yang mungkin tidak bertahan selamanya

Fakta bahwa Netanyahu telah enam kali mengunjungi Gedung Putih dalam setahun terakhir — sebuah rekor untuk pemimpin asing mana pun — menggambarkan betapa intensifnya koordinasi di balik layar.

Tekanan Hukum yang Membayangi

Di sisi lain, Netanyahu juga tidak lepas dari pusaran masalah hukum di dalam negeri. Pada November 2025, ia secara resmi meminta pengampunan kepada Presiden Israel Isaac Herzog terkait dakwaan pidana yang masih berjalan. Kemudian pada Februari 2026, Jaksa Agung Israel memanggilnya untuk memberikan keterangan dalam penyelidikan dugaan kebocoran dokumen rahasia ke media Jerman.

Bagi sejumlah analis, timing perang ini bukan sekadar strategi militer — ada dimensi politik domestik yang sulit diabaikan.

Rencana yang Dirancang Jauh Sebelum Perang Meletus

Serangan ini bukan keputusan yang lahir dalam semalam. Berbagai laporan media internasional mengungkap rangkaian perencanaan yang panjang dan terstruktur.

Netanyahu dilaporkan menghubungi Trump pada 23 Februari 2026, menyarankan serangan dijadwalkan pada hari Sabtu. Alasannya: intelijen menunjukkan Khamenei akan berada di lokasi terbuka bersama sejumlah koleganya. Dua hari berselang, CIA mengkonfirmasi data intelijen tersebut. Bersamaan dengan itu, perundingan nuklir di Jenewa buntu — dan Trump pun memberi lampu hijau.

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz bahkan mengungkap bahwa rencana serangan ke Iran awalnya dijadwalkan pertengahan 2026, namun dipercepat. Yang lebih mengejutkan: Katz menyebut Netanyahu sendiri yang menetapkan target pembunuhan Khamenei sejak November 2025.

Eskalasi Tanpa Rem: Korban Terus Berjatuhan

Dampak humaniter dari konflik ini sudah terasa luas dan berat.

Data korban jiwa hingga awal Maret 2026:

  • 🇮🇷 Iran: lebih dari 1.230 orang tewas
  • 🇱🇧 Lebanon: lebih dari 290 orang tewas
  • 🇮🇱 Israel: 11 orang tewas
  • 🇺🇸 Tentara AS: 6 orang tewas

Selain korban jiwa, serangan terhadap Isfahan pada 9 Maret 2026 turut merusak sejumlah situs warisan dunia UNESCO, termasuk Alun-alun Naqsh-e Jahan dan Masjid Shah yang berusia ratusan tahun. Israel sendiri merespons ancaman balasan dengan mengumumkan keadaan darurat nasional, menutup sekolah, tempat kerja, dan seluruh kegiatan publik.

Di tengah semua itu, Netanyahu justru tampil tenang dan penuh keyakinan. Dalam pernyataan terbarunya, ia berjanji akan ada “banyak kejutan” di fase berikutnya.

Ketika Netanyahu Berbicara Farsi kepada Rakyat Iran

Salah satu momen paling dramatis terjadi tepat setelah kematian Khamenei dikonfirmasi. Netanyahu muncul di layar televisi dan — secara mengejutkan — menyampaikan pesannya langsung dalam bahasa Farsi.

Ia menyerukan kepada rakyat Iran untuk “turun ke jalanan, keluarlah berjuta-juta, untuk menyelesaikan pekerjaan, untuk menggulingkan rezim ketakutan yang membuat hidup kalian pahit.”

Langkah ini memperjelas satu hal: perdana menteri Israel tidak hanya ingin menghancurkan infrastruktur militer Iran. Ia menginginkan pergantian rezim secara total.

Dalam wawancara terpisah bersama Fox News, Netanyahu menepis anggapan bahwa ini akan menjadi konflik panjang tanpa ujung. Ia menyatakan: “This is not an endless war. This is in fact something that will usher in an era of peace that we haven’t even dreamed of.”

Dukungan Domestik Melonjak — Tapi Ada Tanda Tanya Besar

Di dalam negeri, Netanyahu justru sedang menikmati popularitas tertingginya dalam bertahun-tahun.

Survei terbaru dari Israel Democracy Institute (IDI) pada Maret 2026 mencatat bahwa 82 persen warga Israel mendukung operasi militer yang sedang berlangsung. Di kalangan warga Yahudi Israel, angkanya bahkan mencapai 93 persen. Tokoh-tokoh oposisi sekaliber Yair Lapid dan Naftali Bennett pun melepas perbedaan dan menyatakan dukungan mereka.

Namun satu pertanyaan kritis terus menggantung: apakah Israel benar-benar punya rencana untuk Iran pasca-rezim?

Mantan penasihat pemerintah Israel, Daniel Levy, meragukan hal itu. Ia menegaskan bahwa Israel tidak memiliki minat nyata terhadap transisi kekuasaan yang mulus di Iran. “Saya rasa ada kekaburan publik soal tujuan perang Israel,” ujarnya kepada Al Jazeera.

Apa yang Menanti di Depan?

Perang ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Iran terus melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Kepala Angkatan Darat Israel Jenderal Eyal Zamir secara terbuka menyatakan bahwa konflik ini diperkirakan masih akan berlangsung dalam waktu yang panjang.

Netanyahu kini menghadapi tiga medan tekanan sekaligus: pertempuran di lapangan, proses hukum di dalam negeri, dan tekanan internasional yang terus membesar.

Satu hal yang sudah pasti: perdana menteri Israel ini telah mengubah wajah Timur Tengah — dan mungkin dunia — secara permanen. Apakah ini akan tercatat sebagai keputusan paling berani dalam sejarah Israel, atau sebagai kesalahan kalkulasi terbesar abad ini, masih terlalu dini untuk dijawab.

Donnydev

Donnydev

About Author

You may also like

Dunia

Menteri pertahanan Indonesia dan Amerika Serikat kembali bertemu

Jakarta teritorial.com – Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, kembali bertemu dengan koleganya, Menteri Pertahanan Amerikat Serikat, James Mattis, di akhir acara
Dunia

Arab Saudi Gagalkan Serangan Rudal yang Targetkan Bandara

Jakarta territorial.com- Pasukan pertahanan Arab Saudi berhasil menggagalkan serangan rudal yang diluncurkan dari wilayah konflik di Yaman, Sabtu (4/11/2017) malam