TERITORIAL.COM, JAKARTA – Kabar duka datang dari Lebanon selatan setelah sebuah serangan rudal menghantam markas pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) di wilayah Aadshit al-Qusayr, distrik Marjayoun, pada Minggu (29/3/2026). Insiden ini menyebabkan satu prajurit TNI gugur, sementara sejumlah personel lainnya mengalami luka-luka.
Laporan dari Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) menyebutkan bahwa serangan artileri yang dilancarkan Israel menghantam langsung posisi pasukan perdamaian. Ledakan proyektil menimbulkan kerusakan besar di area pangkalan, bahkan menghancurkan sebagian fasilitas pertahanan.
Proses evakuasi korban dilakukan dalam situasi yang penuh tekanan. Helikopter medis terlihat bolak-balik mengangkut korban luka ke fasilitas kesehatan terdekat. Kondisi di lapangan dilaporkan sangat kacau, dengan puing-puing bangunan dan sisa ledakan yang masih berserakan di sekitar lokasi.
Juru bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, membenarkan kejadian tersebut. “Seorang penjaga perdamaian gugur secara tragis saat proyektil meledak di posisi UNIFIL dekat Adchit Al Qusayr,” ujarnya.
Evakuasi Terhambat, Korban Luka Dirawat Intensif
Pasca serangan, personel yang selamat langsung berlindung di bunker bawah tanah guna mengantisipasi kemungkinan serangan lanjutan. Situasi keamanan di sektor timur tempat pasukan TNI bertugas dilaporkan masih sangat rawan.
Salah satu prajurit TNI yang mengalami luka serius saat ini berada dalam kondisi kritis dan tengah mendapatkan penanganan intensif di Rumah Sakit St George Beirut. Tim medis terus berupaya memberikan perawatan terbaik untuk menyelamatkan nyawanya.
Sementara itu, proses evakuasi jenazah prajurit yang gugur belum dapat dilakukan. Kondisi di lokasi yang masih berbahaya membuat tim penyelamat harus menunda langkah tersebut hingga situasi lebih aman.
Di sisi lain, laporan media lokal menyebutkan bahwa proses evakuasi korban luka dilakukan dengan kecepatan tinggi mengingat kondisi korban yang membutuhkan penanganan segera. Setiap detik menjadi sangat krusial dalam upaya penyelamatan.
UNIFIL juga telah menyatakan akan melakukan investigasi mendalam terkait insiden ini. “Kami melakukan penyelidikan untuk mengetahui semua keadaan seputar asal-muasal proyektil tersebut,” ungkap juru bicara UNIFIL.
Ketegangan Memuncak, Risiko Konflik Kian Besar
Insiden ini kembali menegaskan tingginya risiko yang dihadapi pasukan penjaga perdamaian di wilayah konflik. Lebanon selatan selama ini dikenal sebagai salah satu titik panas akibat ketegangan antara Israel dan kelompok bersenjata setempat.
UNIFIL memiliki mandat untuk menjaga stabilitas di Jalur Biru, namun kenyataannya para personel di lapangan tetap menghadapi ancaman serius setiap saat. Serangan terhadap fasilitas PBB pun dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional.
” Kami menyerukan semua faksi untuk menjunjung kewajiban hukum internasional dan memastikan keamanan personel PBB,” tegas Kandice Ardiel.
Situasi semakin memanas setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memberikan sinyal untuk memperluas operasi militer di kawasan tersebut. Kebijakan ini dikhawatirkan akan memperburuk kondisi keamanan dan memicu konflik yang lebih luas.
“Saya baru saja menginstruksikan untuk memperluas zona penyangga keamanan yang ada saat ini,” ucap Benjamin Netanyahu.
Dalam beberapa waktu terakhir, serangan militer di Lebanon dilaporkan telah menelan banyak korban jiwa dan menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur sipil. Ribuan warga terpaksa mengungsi akibat meningkatnya intensitas konflik.
Dengan kondisi yang terus memburuk, dunia internasional kini menaruh perhatian besar terhadap keselamatan pasukan perdamaian serta dampak kemanusiaan yang semakin meluas di kawasan tersebut.

