TERITORIAL.COM, JAKARTA — Penutupan pemerintahan federal Amerika Serikat yang berlangsung lebih dari sebulan mulai menimbulkan dampak serius terhadap industri penerbangan nasional.
Menjelang liburan Thanksgiving, Federal Aviation Administration (FAA) membatasi jadwal penerbangan, yang memicu pembatalan massal dan menunda ribuan penerbangan di AS.
FAA mengumumkan pemangkasan progresif hingga 10% penerbangan di 40 bandara besar di seluruh negeri.
Pemerintah mengambil kebijakan ini karena lumpuhnya sebagian layanan selama shutdown yang menimbulkan kekhawatiran keselamatan dan kekurangan staf.
Latar Belakang dari Penutupan Pemerintah AS
Penutupan pemerintah AS berawal sejak 1 Oktober 2025 saat Kongres gagal mengesahkan rancangan anggaran tahunan maupun resolusi sementara untuk menjaga pendanaan lembaga federal.
Hal ini berakibat pada sejumlah instansi yang kehilangan akses dana, sehingga harus menghentikan sebagian besar operasi non-esensial serta memberhentikan pegawai tanpa bayaran.
Selain itu, perbedaan antara dua partai utama juga turut memperburuk situasi. Partai Demokrat menuntut agar subsidi asuransi kesehatan diperpanjang, sementara Partai Republik menuntut pemangkasan anggaran dan pengurangan belanja pemerintah.
Karena kedua pihak menolak untuk kompromi, shutdown akan terus berlanjut hingga memengaruhi layanan publik serta perekonomian nasional.
Beberapa Penerbangan Maskapai Dibatalkan
Dalam beberapa hari terakhir, maskapai membatalkan lebih dari 8.000 penerbangan, naik dua kali lipat dari sekitar 4.000 pembatalan antara 1 Oktober hingga 5 November.
Kondisi ini memicu kekacauan logistik besar, di mana kru penerbangan kehabisan jam kerja, pesawat tertahan di bandara yang salah, dan jadwal rotasi terganggu.
Beberapa maskapai besar seperti United Airlines dan American Airlines bahkan harus membayar tarif premium bagi pilot dan awak kabin untuk mengaktifkan kru cadangan.
Lebih lanjut, industri maskapai juga diperkirakan dapat kehilangan sekitar US$45 juta per hari jika pemotongan kapasitas tetap berlaku hingga Thanksgiving.
Penurunan permintaan turut menambah kekhawatiran, karena penjualan tiket turun 10% dibanding tahun lalu, dan pertumbuhan pemesanan hanya 1% sejak akhir Oktober.
Efek pada Kepercayaan Konsumen dan Pendapatan Maskapai
Kondisi ini menunjukkan bagaimana faktor eksternal, seperti penutupan pemerintahan, dapat memicu rantai risiko operasional yang berdampak langsung pada kepercayaan konsumen dan pendapatan maskapai.
Maskapai berbiaya rendah seperti Spirit Airlines dan Frontier menjadi pihak yang paling tertekan karena mengandalkan frekuensi tinggi dan margin keuntungan yang tipis.
Sebaliknya, maskapai besar dengan jaringan global seperti Delta Air Lines atau United masih memiliki peluang untuk menyeimbangkan kerugian melalui rute internasional.
Efek Domino Global dari Pembatalan Penerbangan
Gangguan penerbangan AS juga berdampak global, terutama di bandara besar seperti JFK, LAX, dan Chicago O’Hare yang menjadi penghubung utama internasional.
Penundaan di AS menyebabkan keterlambatan dan kehilangan slot jadwal terbang di Eropa dan Asia. Tak hanya itu, permintaan bahan bakar jet juga menurun sehingga menekan pasar energi.
Meski pembukaan kembali pemerintahan diperkirakan akan segera terjadi, para analis memperingatkan bahwa pemulihan operasional tidak akan cepat.
Maskapai diprediksi masih akan menghadapi backlog penerbangan, kekurangan kru, dan penurunan minat penumpang hingga akhir tahun.
Dengan tekanan biaya yang meningkat dan pendapatan yang melemah, industri maskapai AS menghadapi tantangan besar tepat di puncak musim perjalanan paling vital dalam setahun.

