TERITORIAL.COM, JAKARTA — Pemerintah Thailand secara resmi membeli sistem rudal pertahanan udara Barak MX dari Israel Aerospace Industries (IAI) setelah pecahnya konflik bersenjata dengan Kamboja. Untuk modernisasi pertahanan ini, Bangkok mengalokasikan sekitar 3,44 miliar baht (sekitar Rp1,8 triliun).
Langkah tersebut menandai pengadaan sistem pertahanan udara jarak menengah pertama yang dilakukan oleh Angkatan Udara Kerajaan Thailand (RTAF) dalam beberapa dekade terakhir.
Kapabilitas Teknologi Mendesak Perubahan
RTAF juga menilai bahwa sistem pertahanan yang ada seperti VADS dan Stinger, sudah tidak lagi memadai untuk menghadapi masalah modern. Oleh karena itu, Barak MX dianggap mampu dalam menghadapi ancaman modern.
Presiden dan CEO IAI Boaz Levy mengatakan bahwa keputusan ini berperan penting bagi perusahaan Asia Tenggara, mengingat pengaruh besar Thailand di kawasan.
“Barak MX dipilih setelah berhasil memenuhi dan melebihi persyaratan ketat Angkatan Udara Thailand, menawarkan kemampuan jaringan canggih dan interoperabilitas dengan sistem komando dan pengendalian lokal,” jelas Levy.
Lebih lanjut, ia juga mengatakan bahwa IAI merasa bangga dapat bekerja sama dengan Thailand dalam mendukung arsitektur pertahanan.
RTAF memilih Barak MX karena sistem ini memenuhi persyaratan ketat mereka. Terlebih lagi, IAI merancang sistem ini dengan kemampuan jaringan canggih dan interoperabilitas tinggi.
Sistem ini mampu memberikan perlindungan udara hingga 150 km dan dirancang untuk menanggapi berbagai ancaman, termasuk UAV, rudal jelajah, hingga rudal balistik. Fleksibilitas dan mobilitasnya memungkinkan pasukan melakukan penyebaran cepat di berbagai kondisi..
Implikasi Regional
Pembelian ini mengirim sinyal kuat bahwa Thailand memiliki ambisi untuk memperkuat kedaulatan udaranya di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
Di satu sisi, modernisasi besar-besaran ini memperlebar kesenjangan kapabilitas militer dengan Kamboja. Namun, sistem ini juga menciptakan tolok ukur baru di ASEAN yang menjadikan Thailand sebagai operator pertama Barak MX.
Para analis memprediksi adanya potensi perlombaan senjata di Asia Tenggara. Negara-negara tetangga memiliki kemungkinan untuk mengimbangi kapabilitas baru Thailand.
Konflik yang melatarbelakangi pengadaan ini juga menjadi ujian bagi stabilitas kawasan dan membuka kembali diskusi serius di ASEAN mengenai pentingnya pengembangan sistem pertahanan udara terpadu.

