TERITORIAL.COM, JAKARTA – Ketegangan antara Rusia dan Ukraina kembali memuncak menyusul klaim Moskow mengenai serangan besar-besaran 91 pesawat tak berawak (drone) yang menyasar salah satu kediaman Presiden Vladimir Putin di wilayah Novgorod. Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Ukraina dengan tegas membantah dan menyebut tuduhan itu sebagai provokasi yang tidak berdasar.
Wakil Menteri Luar Negeri Ukraina, Andriy Sybiga, menyatakan bahwa Rusia hingga kini gagal menunjukkan bukti konkret atas klaim serangan yang disebut terjadi pada Minggu (28/12/2025) malam hingga Senin (29/12/2025) dini hari tersebut.
“Sudah hampir sehari berlalu dan Rusia masih belum bisa memberikan bukti masuk akal. Mereka tidak akan pernah bisa memberikannya karena serangan itu memang tidak pernah ada,” ujar Sybiga melalui platform X, Selasa (30/12/2025).
Saling Lempar Tuduhan di Tengah Proses Damai Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, tetap bersikukuh bahwa sistem pertahanan udara mereka telah menjatuhkan 91 drone jarak jauh milik Ukraina. Tanpa memberikan bukti visual kepada publik, Lavrov justru menuding Kyiv telah bertransformasi menjadi “rezim teroris”.
Imbas dari insiden ini, Rusia mengisyaratkan akan mengevaluasi ulang posisi mereka dalam meja perundingan. “Mengingat kemerosotan rezim Kyiv yang kini mengadopsi kebijakan terorisme negara, posisi negosiasi Rusia akan dipertimbangkan kembali,” tegas Lavrov.
Senada dengan Lavrov, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyebut bantahan dari Ukraina dan media Barat sebagai sesuatu yang “gila”. Ia menegaskan bahwa militer Rusia sudah menyiapkan langkah respons yang tepat atas kejadian ini.
Ancaman Terhadap Gencatan Senjata Tudingan serangan ini muncul di saat yang sangat sensitif. Saat ini, proses perdamaian yang difasilitasi oleh Amerika Serikat sedang berada di tahap krusial. Ukraina dikabarkan telah menyetujui sekitar 90 persen draf kesepakatan damai, termasuk poin-poin mengenai jaminan keamanan.
Namun, Moskow dinilai masih enggan melunak jika tuntutan maksimalis mereka tidak terpenuhi. Banyak pihak khawatir bahwa isu serangan drone ke rumah Putin ini sengaja diembuskan oleh pihak Rusia sebagai alasan untuk memperkeras posisi tawar atau bahkan membatalkan komitmen damai yang tengah dibangun.
Hingga saat ini, perang yang telah memasuki tahun keempat tersebut masih menyisakan ketidakpastian, terutama dengan adanya eskalasi retorika terbaru dari kedua belah pihak.
(*)

