Jakarta, TERITORIAL.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada awal perdagangan Kamis (15/10/2026), meski sehari sebelumnya berhasil ditutup menguat. Tekanan jual pada mayoritas saham membuat indeks bergerak di zona merah sejak pembukaan pasar.
Mengacu pada data RTI yang dikutip Liputan6.com, IHSG dibuka pada level 5.917,13, lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan Rabu (14/10/2026) di posisi 5.943,02.
Pada pukul 09.03 WIB, IHSG turun 0,75 persen ke level 5.898,74. Pelemahan berlanjut hingga pukul 09.08 WIB, ketika indeks berada di posisi 5.906,20 atau terkoreksi 0,64 persen.
Sebelumnya, IHSG ditutup menguat 0,29 persen pada perdagangan Rabu. Namun, penguatan tersebut belum cukup kuat untuk menjaga momentum positif pada awal sesi berikutnya.
Indeks LQ45 yang mencerminkan pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid juga melemah 0,77 persen ke level 590. Pada periode pengamatan tersebut, seluruh indeks saham acuan berada di zona merah.
IHSG sempat bergerak pada rentang 5.884,24 hingga 5.917,69 pada awal perdagangan.
Tekanan pasar terlihat dari jumlah saham yang melemah. Sebanyak 410 saham terkoreksi, sedangkan 117 saham menguat dan 174 saham tidak mengalami perubahan harga.
Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 115.044 kali, dengan volume perdagangan mencapai 3,4 miliar saham. Nilai transaksi sementara berada di kisaran Rp 1,1 triliun.
Pada saat yang sama, nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah berada di kisaran Rp 17.932.
Seluruh Sektor Saham Melemah, Teknologi Tertekan Paling Dalam
Pelemahan IHSG pada awal perdagangan turut diikuti penurunan di seluruh sektor saham. Sektor teknologi mencatat koreksi terdalam, yakni 1,77 persen.
Sektor transportasi menyusul dengan penurunan 1,60 persen. Sementara itu, sektor industri melemah 1,23 persen dan sektor properti terkoreksi 1,09 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan tekanan jual terjadi cukup luas, bukan hanya pada satu kelompok saham tertentu.
Meski demikian, pergerakan pada awal sesi belum menggambarkan hasil akhir perdagangan. Arah IHSG selanjutnya masih bergantung pada dinamika transaksi dan respons investor sepanjang hari.
MNC Sekuritas Waspadai IHSG Turun ke 5.744
Di tengah pelemahan pada awal perdagangan, analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memperkirakan IHSG masih berisiko mengalami koreksi pada perdagangan Kamis.
Dalam analisis teknikalnya, Herditya menilai pergerakan indeks berada pada fase yang berpotensi diikuti pelemahan lanjutan. Ia memperkirakan IHSG dapat terkoreksi menuju rentang 5.744–5.794.
Namun, terdapat skenario yang lebih optimistis apabila tekanan jual dapat tertahan di area support terdekat.
“Best case, koreksi IHSG hanya akan menguji 5.897–5.940 dan menguat kembali untuk menguji 5.989–6.014,” kata Herditya dalam risetnya.
MNC Sekuritas menetapkan level support IHSG di 5.887 dan 5.744. Adapun level resistance berada di 6.216 dan 6.296.
Support merupakan area harga yang berpotensi menahan penurunan, sedangkan resistance adalah area yang berpotensi menjadi hambatan ketika harga bergerak naik. Kedua level tersebut menjadi acuan teknikal untuk membaca kemungkinan pergerakan indeks, bukan jaminan arah pasar.
Sementara itu, PT Pilarmas Investindo Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi melemah secara terbatas. Sekuritas tersebut memproyeksikan area support dan resistance indeks berada pada rentang 5.840–6.000.
Rekomendasi Saham Hari Ini dari MNC Sekuritas dan Pilarmas
Di tengah potensi koreksi IHSG, kedua sekuritas tersebut turut menyampaikan sejumlah saham yang dapat dicermati investor pada perdagangan Kamis (15/10/2026).
Pilarmas Investindo Sekuritas memilih saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI).
Sementara itu, Herditya dari MNC Sekuritas menyoroti saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), serta PT Indosat Tbk (ISAT).
Berikut rincian rekomendasi teknikal MNC Sekuritas untuk tiga saham yang disertai level harga dalam riset tersebut.
1. ADMR – Buy on Weakness
Saham ADMR terkoreksi 3,09 persen ke level Rp 1.410 pada perdagangan sebelumnya, disertai tekanan jual.
Herditya memperkirakan pergerakan saham ini masih berada dalam fase koreksi berdasarkan analisis gelombang atau wave.
Rincian rekomendasi ADMR:
- Strategi: Buy on Weakness atau membeli ketika harga melemah di area yang dinilai menarik.
- Area beli: Rp 1.365–Rp 1.405.
- Target harga: Rp 1.525 dan Rp 1.575.
- Stop loss: di bawah Rp 1.330.
2. BRMS – Buy on Weakness
Berbeda dengan ADMR, saham BRMS menguat ke level Rp 555, meskipun volume transaksinya cenderung mengecil.
MNC Sekuritas memperkirakan BRMS masih berada dalam fase pergerakan naik berdasarkan analisis teknikal yang digunakan.
Rincian rekomendasi BRMS:
- Strategi: Buy on Weakness.
- Area beli: Rp 520–Rp 540.
- Target harga: Rp 615 dan Rp 655.
- Stop loss: di bawah Rp 505.
3. ENRG – Buy on Weakness
Saham ENRG melemah 1,06 persen ke level Rp 935 pada perdagangan sebelumnya. Pergerakan tersebut juga disertai tekanan jual.
Herditya memperkirakan saham ENRG berada pada fase awal koreksi berdasarkan pola gelombang harga yang dianalisis.
Rincian rekomendasi ENRG:
- Strategi: Buy on Weakness.
- Area beli: Rp 920–Rp 935.
- Target harga: Rp 1.010 dan Rp 1.045.
- Stop loss: di bawah Rp 905.
Rekomendasi tersebut merupakan proyeksi teknikal dari masing-masing sekuritas dan bukan kepastian keuntungan. Investor tetap perlu mempertimbangkan risiko, kondisi pasar, serta profil investasinya sebelum mengambil keputusan.

