TERITORIAL.COM, JAKARTA – Bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera pada akhir tahun lalu mulai memberikan dampak nyata pada ketahanan pangan nasional. Perum Bulog mengonfirmasi adanya potensi penurunan cadangan beras pemerintah akibat kerusakan luas pada lahan pertanian.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengungkapkan bahwa setidaknya 70.000 hektare sawah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terdampak banjir serta tanah longsor. Kondisi ini diprediksi akan menghambat target penyerapan beras dalam negeri.
“Lahan-lahan pertanian yang terdampak diperkirakan mencapai 70 ribu hektare. Karena luasannya cukup besar, otomatis ini akan berpengaruh pada hasil panen di tingkat provinsi maupun kabupaten yang sedianya kami serap,” ujar Rizal dalam media briefing, Jumat (2/1/2026).
Ancaman Puso di Depan Mata Berdasarkan tinjauan lapangan bersama Kementerian Pertanian, tidak semua lahan yang terdampak mengalami gagal panen total. Namun, data dari Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan.
Dari total 70.000 hektare yang terdampak, sekitar 15.000 hingga 20.000 hektare di antaranya dinyatakan puso atau gagal panen total. Sementara sisanya masih dikategorikan “terdampak”, seperti terendam air namun tanaman tidak mati, atau akses logistik yang terputus.
“Yang puso itu sekitar 15-20 ribu hektare. Itulah yang nantinya menjadi fokus intervensi pemerintah,” jelas Sudaryono di Kompleks Kementan beberapa waktu lalu.
Target Pemulihan 3 Bulan Pemerintah saat ini tengah berupaya melakukan perbaikan infrastruktur pertanian di wilayah-wilayah terdampak. Pihak Bulog berharap proses pemulihan lahan ini bisa berjalan cepat agar siklus tanam tidak terganggu terlalu lama.
“Kami berharap situasi segera pulih. Mudah-mudahan dalam waktu 2 hingga 3 bulan ke depan, lahan-lahan tersebut sudah bisa beroperasi kembali secara normal,” pungkas Rizal.
Upaya percepatan ini menjadi krusial mengingat stok beras nasional sangat bergantung pada stabilitas produksi di daerah-daerah lumbung pangan seperti Sumatera.
(*)

