Kisah Si Radja Cendol di Sequis Talk

0

Jakarta, Teritorial.com –  Berawal dari sebuah gerobak cendol sederhana terbuat dari kayu, Danu Sofwan mengawali bisnisnya dengan berjualan cendol yang kemudian tumbuh pesat dan berhasil menjadi menu kuliner tradisonal yang digemari  kalangan muda dan tua.

Melihat kesuksesan pemilik si Radja Cendol, mengaku sebagai pengusaha muda yang memulai karirnya by accident kepada para peserta mengatakan bahwa “masa muda adalah waktu berharga untuk mengawali sebuah usaha, butuk kerja keras pastinya, kreatif, inofatif, strategik dan spontanitas” Jelasnya

Berbicara saat diskusi Sequis Talk dengan tema Millenials Business Forum : Better Finance, Better Tomorrow di Gedung Energy Tower, Jakarta  Rabu (6/12) . Dirinya  mengajak kepada para pengusaha muda untuk melirik berbagai peluang usaha sekecil apapun. “Keberhasilan tidak selalu karena peluang yang besar, tapi tentang bagaimana kita memanfaatkan peluang sekecil apapun untuk menghasilkan keuntungan yang besar. ujarnya.

Membuka bisnis sendri adalah usaha yang paling menjanjikan, karena selain dapat mengatur hari libur jam kerja sesuai dengan kebutuhan dan aktivitas sehari-hari yang kita lakukan, ini juga membuka lapangan pekerjaan. “usaha menjadi pilihan yang mungkin bagi orang-orang seperti saya yang males bangun pagi, males disuruh pokonya lebih leluasa kalo mengatur segalanya sendiri”. tambahnya.

Sebagai penutup, Danu yang memulai bisnis usaha Cendol sejak usia 27 tahun tersebut, menegaskan dengan berani mengambil peluang usaha dan investasi, maka kesuksesan sendiri yang akan mendatangi kita bukan sebaliknya. “Diawal butuh usaha keras pastinya dan yang utama adalah keberanian, jika kita bisa memulainnya dan sukses di usia muda kenapa harus menunggu nanti-nanti” tutupnya.

Poniman director PT Sequis Aset Mengemen, menekankan pentingnya bagaimana membangun semangat memulai bisnis sejak muda dan mulailah sesuatu dengan investasi menambung sedini Mungkin.”mulailah sesuatu dengan investasi menambung sedini Mungkin, dan apa yang bisa kita lakukan walaupun terkesan sederhana” ujarnya.

Poniman juga mengatakan kesadaran masyarakat Indonesia terhadap pentingnya literasi keuangan saat ini masih rendah terutama DI generasi milenial yang konsumtif, dan tidak memiliki menejemen keuangan yg baik. “spending apa yang tersisah setelah menambung, bukan menambung apa yang tersisah dari apa yang telah kita spendingkan ” jelasnya.

“investasi sendiri masih dianggap berat dan tabu bagi sebagai generasi milenial kebanyakan anak muda cenderung berfikir bahwa investasi membutuhkan dana yang besar, mahal” tuturnya.(SON)

Share.

Leave A Reply

%d blogger menyukai ini: