Manila, Teritorial.com – Terkait dengan keberadaan pangkalan Angkatan Udara Tiongkok di Laut Teritorial Filipina, Amerika Serikat (AS) mengusung kembali freedom of navigation di Laut Cina Selatan guna mengakhiri dominasi Tiongkok yang tengah melakukan upaya militerisasi sejumlah karang dikepulauan perairan LCS.
Menyusul rencana Presiden Filipina yang hendak membuka dialog bilateral maupun multilateral dengan Tiongkok atas permasalahan tersebut. Brian Hook, penasihat senior bidang Asia Menteri Pertahanan AS melalui saluran telepon melaporkan bahwa AS tetap pada pendirian untuk menolak aksi unilateral Tiongkok yang berupaya menjadikan LCS sebagai bagian dari kedaulatannya.
Dilansir dari cbn.com (9/1/2018), dalam laporan foto satelit Angkatan Udara AS bulan desember 2017 lalu, Tiongkok dilaporkan telah menuntaskan sejumlah proyek pulau buatan di gugusan karang kepulauan Paracel. Mengetahui maksud Tiongkok tersebut, AS saat ini tengah mengusung upaya jangka panjang untuk menindaklanjuti hal yang justru semakin meningkatkan eskalasi konflik tersebut.
Berstatus sebagai negara adidaya tunggal dunia, militer AS bertanggungjawab dan memiliki posisi sebagai penjaga stabilitas keamanan kawasan termasuk di wilayah LCS. Hal yang sama juga dilakukan terhadap negara-negara dibawah aliansi pertahanan AS. “Apa yang kita lakukan di LCS adalah mendesak kembali freedom of navigation dan overflight yang selama ini terhalang oleh agresifitas militer Tiongkok. Adapun hal tersebut sudah ditetapkan dalam hukum laut internasional United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS)”, tegas Hook.
Hook menggambarkan upaya militerisasi Tiongkok atas LCS jelas merupakan tindak provokatif dan akan menimbulkan masalah dikemudian hari, dan sudah menjadi komitmen AS untuk menegakan kembali UNCLOS, ketika pengakuan Tiongkok atas Nine Dashed Line juga tidak dapat dibenarkan dalam UNCLOS.
“Kebangkitan Tiongkok merupakan hal yang tidak terbantahkan bagi dunia sekarang ini, namun ketika hal tersebut harus bersinggungan dengan hukum internasional, maka AS dalam hal ini tidak dapat membenarkan prilaku Tiongkok yang tidak sesuai dan mengancam stabilitas keamanan kawasan”, pandangan Hook atas fenomena kebangkitan Tiongkok.
“AS menganggap Tiongkok selama ini dengan sengaja melakukan show of force untuk menekan negara-negara Asia Tenggara dan menghadirkan ketegangan di tengah sengketa kepemilikan atas wilayah LCS”, tambahnya.
Overclaim yang terjadi di LCS, Tiongkok bersama dengan negara Asia Tenggara lainnya yaitu Malaysia, Filipina, Vietnam, Brunei, dan Singapura selain itu di wilayah Laut Timur juga ada Taiwan. (SON)