Arab Saudi, Teritorial.com – Pada Senin, 6 Januari 2025, kota suci Mekah dilanda banjir bandang yang disebabkan oleh hujan deras akibat badai. Fenomena ini mengakibatkan kerusakan di berbagai wilayah, termasuk kota-kota utama lainnya di Arab Saudi.
Hujan lebat yang mengguyur selama beberapa hari terakhir telah memicu banjir besar di berbagai area, termasuk Mekah dan Madinah. Situasi ini menjadi salah satu dampak serius dari cuaca ekstrem yang melanda kawasan tersebut.
Mengutip laman info-umroh, Departemen Meteorologi Arab Saudi (NCM) mengeluarkan peringatan merah untuk sejumlah kota besar, seperti Mekah, Madinah, dan Jeddah, pada hari Senin 6 Januari 2024. Peringatan ini mengindikasikan risiko tinggi terhadap keselamatan warga karena kondisi cuaca yang sangat berbahaya.
Banjir yang melanda kawasan tersebut menyebabkan genangan besar di jalan-jalan utama, menciptakan kemacetan lalu lintas, dan memerangkap kendaraan dalam air. Rekaman video di media sosial menunjukkan mobil terseret arus deras, bus wisata yang terlantar, serta pohon-pohon yang tumbang. Selain itu, kerusakan pada infrastruktur, seperti jalan raya dan jaringan listrik, turut dilaporkan.
Media seperti Al Arabiya dan Saudi Gazette melaporkan bahwa sekolah-sekolah di Riyadh, Provinsi Timur, dan beberapa wilayah lainnya telah beralih ke sistem pembelajaran daring. Langkah ini diambil untuk melindungi keselamatan siswa dan tenaga pendidik di tengah kondisi cuaca yang ekstrem.
Keputusan untuk menghentikan aktivitas normal dilakukan setelah otoritas setempat menilai bahwa cuaca yang tidak bersahabat membuat situasi terlalu berisiko untuk melanjutkan kegiatan sehari-hari.
Banjir menyebabkan mobil-mobil tersapu air. Kekacauan melanda kota ini, menurut laporan Saudi Gazette.
Selain Mekah, sebagian besar wilayah Madinah juga diguyur hujan lebat. Banyak jalan dan alun-alun tergenang air hujan, yang menyebabkan kemacetan lalu lintas di jalan raya dan jalan-jalan di kota Mekah, Jeddah dan Madinah. Hujan sedang hingga lebat terjadi di beberapa wilayah lain di Arab Saudi.
Al-Shafiyah di provinsi Badr di wilayah Madinah mencatat tingkat curah hujan tertinggi dengan 49,2 mm sementara distrik Al-Basateen di kota Jeddah mencatat curah hujan tertinggi kedua dengan 38 mm. Badan Lingkungan Hidup di bawah kementerian tersebut mengatakan bahwa wilayah-wilayah di wilayah Madinah mencatat jumlah hujan tertinggi.
Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah meminta para pelancong untuk menghubungi maskapai penerbangan masing-masing sebelum menuju ke bandara untuk memeriksa pembaruan jadwal penerbangan, karena situasi hujan di Jeddah.
Dilansir dari Newsweek, Pusat Meteorologi Nasional negara itu telah mengeluarkan peringatan merah. Hujan lebat di beberapa wilayah termasuk Al Qunfudhah, Al Ardiyat dan Adam. Hujan di Mekah diperkirakan terus berlanjut hingga Jumat dan Minggu.
Banjir di Mekah dan juga kota-kota lain di Arab Saudi cukup signifikan karena wilayah tersebut memiliki iklim gurun yang panas. Biasanya wilayah Arab Saudi hanya mendapat sedikit atau tidak ada curah hujan. Banjir di Mekah merupakan perubahan cuaca yang signifikan, menurut Climate Data.
Para ilmuwan sebelumnya meramalkan bahwa para jemaah umrah akan menghadapi suhu yang lebih tinggi di masa mendatang akibat perubahan iklim. Peristiwa cuaca buruk ini dapat mengindikasikan pola yang tidak terduga di wilayah tersebut akan terjadi.
Mekah adalah kota suci bagi umat Islam yang dikenal dengan Masjidil Haram. Selain Mekah, para jemaah juga mengunjungi Masjid Nabawi di Madinah.
Sebelumnya, hujan lebat di Mekkah terjadi pada Agustus 2023. Saat itu hujan lebat menyebabkan sekolah ditutup dan jalanan terendam banjir.
Jeddah juga pernah dilanda banjir besar sebelumnya. Banjir pada 2009 menyebabkan lebih dari 100 orang meninggal, menurut media Arab News. Banjir di Madinah juga terjadi pada 2005 selama hari-hari terakhir ibadah haji tahunan dan mengakibatkan 29 orang meninggal, menurut Earth Observatory milik NASA.