Kumasi, Teritorial.Com – Kabar duka datang dari Mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Kofi Annan, dilaporkan beliau telah tutup usia pada usia 80 tahun akibat sakit sejak jummat (17/8/2018) lalu.
Annan meninggalkan banyak warisan dan jejak kemanusiaan yang patut dilanjutkan generasi baru. PBB dan Yayasan Kofi Annan telah mengonfirmasi kabar duka tersebut. “Annan meninggal dunia secara damai pada pagi ini (kemarin) setelah tidak lama menderita sakit.
Istrinya Nane dan ketiga anaknya berada di samping Annan saat maut menjemputnya,” ungkap Yayasan Kofi Annan di media sosial Twitter seperti dikutip cnn.com kemarin. Annan terlahir di Kumasi, Ghana, pada 8 April 1938. Dia menjabat sebagai sekjen ketujuh PBB pada 1997-2006.
Annan merupakan orang pertama yang meraih jabatan tinggi dari posisi staf. Sejak 2007, dia juga menjadi anggota The Elders, kelompok kemanusiaan ternama di dunia yang dibentuk Nelson Mandela.
Saat menjabat sebagai sekjen PBB, Annan yang dikenal sebagai sosok visioner sangat peduli terhadap korban penindasan, baik akibat perang saudara ataupun pembantaian etnis. Dia mendesak PBB untuk melindungi seluruh warga sipil di dunia atas nama kemanusiaan dan perdamaian.
Namun Annan kecewa dengan PBB karena kurang aktif melakukan aksi. Pada Februari 2012, PBB menunjuk Annan memimpin utusan khusus menuju Suriah. Berselang enam bulan, dia langsung mundur dari jabatannya karena kurangnya persatuan di Dewan Keamanan PBB saat meningkatnya militerisasi.
Annan yang meraih Nobel Perdamaian pada 2001 bersama PBB juga menjadi satu-satunya orang yang menyelidiki langsung kasus penindasan Rohingya. Sikap ramahnya juga membuat setiap orang yang pernah bertemu dengannya merasa terkesan.
Annan juga dikenal sebagai negarawan global yang berkomitmen tinggi untuk memperjuangkan keadilan dan perdamaian di dunia. “Dia merupakan juara perdamaian, pembangunan berkelanjutan, hak asasi manusia, dan aturan hukum,” ungkap Yayasan Annan.
Sekjen PBB Antonio Guterres mengakui, Annan merupakan tokoh besar yang menginspirasi. “Dia memiliki komitmen tinggi dalam menjaga prinsip dan nilai yang dia anut sekalipun harus menelan pertaruhan yang besar,” ujar Guterres.
Selain itu ucapan belasungkawa juga datang dari Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Mike Pompeo menyatakan turut berduka cita atas meninggalnya mantan Sekretaris Jenderal PBB, Kofi Annan. Pompeo menyebut Annan sebagai pejuang perdamaian sejatinya.
“Saya sedih mendengar tentang meninggalnya mantan Sekretaris Jenderal PBB, Kofi Annan dan menyampaikan belasungkawa saya kepada keluarga Annan dan kepada orang-orang di negara asalnya, Ghana,” kata Pompeo dalam sebuah sebuah pernyataan.
Pompeo, seperti dilansir Sputnik pada Minggu (19/8), kemudian menyatakan bahwa Annan adalah sosok yang telah menghabiskan hidupnya untuk mengadvokasi perdamaian dan meningkatkan martabat manusia.
Perasaan yang sama juga dialami oleh Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi menyatakan turut beduka cita atas meninggalkanya mantan Sekertaris Jenderal PBB, Kofi Annan. Annan, yang pernah memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian untuk pekerjaan kemanusiaan, telah meninggal dunia pada usia 80 tahun, Sabtu kemarin.
Melalui akun Twitternya, Retno mmenyebut, Annan sebagai seorang humanis sejati. Dia mengatakan telah bekerja dengan erat bersama Annan dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Komunikasi keduanya cukup intens saat terjadi eksodus besar-besaran etnis Rohingya ke Bangladesh, yang disebabkan tindakan keras tentara Myanmar.
“Duka cita saya yang dalam atas meninggalnya Kofi Annan, mantan Sekjen PBB. Kita kehilangan seorang pegiat perdamaian hebat dan humanis sejati,” kicau Retno pada akun twitternya, Minggu (19/8/2018).