Geopolitik Timur Tengah, Pertarungan Aktor Kekuasaan dan Konflik Identitas

0

Istambul, Teritorial.com – Belum meredah sepenuhnya aksi demonstrasi yang melanda Iran di penghujung tahun 2017 lalu, kerenggangan hubungan diplomatik Iran – Arab Saudi kembali memanas dan diprediksikan menjadi salah satu sumber konflik terbesar di kawasan Timur Tengah khususnya di sepanjang tahun 2018. Dengan ini praktis geopolitik Timur Tengah tidak lagi hanya didominasi oleh konflik Israel-Palestina.

Baru-baru ini dilansir dari theguardian.com kamis, (4/1/2018) Kareem Shaheen seoarang pengamat geopolitik Timur Tengah asal Turki mengatakan Pangeran Muda Saudi Mohammed bin Salman dilaporkan tengah menjalin konsolidasi kekuatan.  Mengusung sebuah revolusi budaya dan reformasi ekonomi. Putra Saja Salman tersebut berambisi untuk menjadikan Kerajaan Saudi semakin tersohor di tanah Arab.

Konflik dengan pemberontak Yaman Houthi berujung pada perang Proxy dengan Iran. Bermuara pada kepentingan  sumber daya alam terkait perebutan wilayah yang kaya akan minyak dengan pemberontak di Yaman akan terus menjadi sorotan publik. Dimana ke dua belah pihak hingga saat ini belum sakalipun menunjukan inisiatif untuk berdamai.

Namun kali ini Iran sendiri juga tengah menghadapi pusaran konflik domestik dimana banyak masyarakat yang merasa kecewa kepada Syaid Ali Khamenei yang terlalu sibuk mengurusi persoalan di luar hingga berujung pada stagnase perekonomian Iran.

Ratusan orang telah ditangkap dan setidaknya 21 orang tewas dalam protes terbesar terhadap ulama yang berkuasa di Iran. Dalam satu minggu terakhir ini demonstrasi tidak hanya bertujuan menyuarakan atas kenaikan harga-harga namun sudah mengarah kepada pergerakan politik kekuasaan.

Ketegangan Iran-Saudi ternyata juga berdampak kepada Suriah dan pendukungnya Rusia, hal ini dimungkinkan karena selama ini baik Suriah maupun Rusia merupakan negara terdekat Iran. Dengan demikian tidak heran jika poros yang terbentuk selanjutnya adalah koalisi Saudi, Israel dan Barat dalam menghadapi Iran.

Shaheen juga menjelaskan mengenai kelanjutan hubungan tiga negara antara Rusia, Iran dan Turki terkait kesepakatan bersama dalam upaya pemulihan situasi konflik di Suriah, dan mencoba menjembatani  sayap-sayap militer Muslim Sunni yang salama ini berkepentingan atas perang sipil di Suriah dalam melakukan perlawanan terhadap rezim Bashar Al-Assad.

“Timur Tengah menghadapi situasi yang sangat sulit, ketegangan hubungan Iran – Saudi dapat menyulut konflik yang lebih besar, dan pusaran konflik akan jauh lebih sulit dikendalilkan dimana kepentingan setiap entitas yang ada akan saling berbenturan satu sama lain”, tegas Shaheen.

Polemik yang muncul selanjutnya dapat terlihat bahwa konflik dari perang sipil Suriah, dimanfaatkan oleh Komunitas Kurdi yang mendesak agar diberikan hak secara otonom layaknya sebuah negara merdeka. Di saat yang sama perang melawan kelompok terorisme ISIS dibawah pimpinan koalisi Amerika Serikat sampai hari juga tidak kunjung terselesaikan.

Dok Theguardian.com

“Sejauh ini dibawah Presiden Recep Tayyip Erdoğan Turki tetap memperkuat cengkeramannya atas perluasan pengaruh di daerah perbatasan dengan Suriah dan Lebanon.  Sebelum pemilihan presiden dan parlemen dijadwalkan pada 2019,  sikap Turki dalam menghadapi kondisi Timur Tengah  pastinya akan menjadi cerminan akan pergeseran identitas sekuler dan Islamis yang sekarang ini juga tengah menjadi perdebatan internal di publik Turki. Kecemasan pendukung  sekuler lebih didorong oleh hanyutnya Turki menjauh dari kepentingan AS, Eropa dan Nato”, pungkasnya.

Kuatnya pengaruh para pendukung kaum Islam konservatif yang menginginkan kembali tegaknya  sejarah kebesaran Truki Ustmani juga tengah melanda pemeintah Erdogan dan partai pendukungnya AKP. Dengan realitas tersebut pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah Turki mampu menjadi pemeran utama dalam situasi geopolitik Timur Tengah sekarang ini tengah berlamgsung. Dan apakah Turki mampu memanfaatkan momen tersebut sebagai peluang demi mencapai kembalinya kebesaran sejarah Turki. Kemudian diluar dari pada itu,  fenomena-fenomena mengenai politik identitas, tetap menjadi isu utama di kawasan Timur Tengah. (SON)

 

 

Share.

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: