Pemerintah Siapkan Kebijakan Khusus Hadapi Perang Dagang AS-China

0

Jakarta, Teritorial.Com – Atas dampak perang dagang yang berlangsung ataran Amerika Serikat dan China, kini salah satu strategi yang tengah disiapkan adalah memacu ekspor dan mengurangi impor. Kebijakan tersebut telahmenjadi acuan perekonomian bagi pemerintah tinggal bagaimana penerapan implementasinya.

Rencananya pemerintah membentuk task force untuk mengawal kebijakan ini. Antisipasi mau tidak mau harus dilakukan karena perang dagang antara AS vs China kali ini tidak main-main. Washington mulai memberlakukan tarif dagang senilai 25% terhadap USD34 miliar (Rp488 triliun) produk impor China.

Beijing pun tidak tinggal diam dan melakukan balasan. Perang dagang yang disebut terbesar dalam sejarah ekonomi dunia tersebut tentu ber dam pak pada terjadinya stagnasi ekonomi global dan memicu penurunan pasar saham.

Selain itu, banyak ekonomi negara lain secara langsung maupun tidak langsung, juga terkena dampak perang dagang tersebut, termasuk Indonesia. Secara spesifik, Indonesia juga telah menghadapi ancaman AS terkait dengan keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang tengah mengambil ancang-ancang untuk mencabut beberapa tarif khusus yang diberikan Amerika kepada Indonesia, diantaranya dengan mencabut Generalized System of Preferences (GSP) produk tekstil Indonesia.

Darmin mengaku sudah melakukan rapat koordinasi, termasuk dengan menteri pariwisata, untuk mengidentifikasi langkah apa saja yang perlu dilakukan untuk mempercepat kenaikan ekspor. Pemerintah juga mengidentifikasi impor yang bisa ditekan agar disparitas neraca perdagangan tidak terlalu besar.

Namun, pemerintah akan secara hati-hati agar perlambatan impor tidak menekan pertumbuhan ekonomi. “Impornya yang bisa agak diperlambat yang mana saja. Nanti kita akan ada rapat lagi setelah tadi fokus pada industri, pariwisata, mungkin minggu depan pertanian dan ESDM,” ungkapnya.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menegaskan, pemerintah perlu mengantisipasi perang dagang ini karena akan berdampak pada industri, terutama industri baja. “Sektor baja ini harus kita persiapkan agar tidak kebanjiran impor. Kalau dibanjiri produk impor, tentu sulit untuk bisa meningkatkan utilisasi pabrik,” ujarnya.

Industri keramik juga perlu diantisipasi agar tidak di banjiri produk impor. Apalagi, hargagas di dalam negeri belum sesuai yang diharapkan industri. “Oleh karena itu, kita perlu membuat working group, working level, bagaimana agar industri baja, industri keramik bisa memanfaatkan di dalam negeri. Cara penghematannya adalah substitusi impor. Substitusi impor bahan baku kita dorong untuk investasi,” jelas Airlangga.

Dia menandaskan, di tengah pelemahan kurs rupiah akibat gejolak global dan kenaikan tingkat suku bunga AS, pihaknya mendorong agar BI melakukan swap rate untuk jangka panjang. “Dengan swap rate yang jelas maka mereka yang punya devisa hasil ekspor bisa dengan cepat merupiahkan ekspor. Pada saat mereka butuh dolar, mereka bisa mencari dolar,” tuturnya.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menegaskan, pemerintah perlu mengantisipasi perang dagang ini karena akan berdampak pada industri, terutama industri baja. “Sektor baja ini harus kita persiapkan agar tidak kebanjiran impor. Kalau dibanjiri produk impor, tentu sulit untuk bisa meningkatkan utilisasi pabrik,” ujarnya.

Industri keramik juga perlu diantisipasi agar tidak di banjiri produk impor. Apalagi, hargagas di dalam negeri belum sesuai yang diharapkan industri. “Oleh karena itu, kita perlu membuat working group, working level, bagaimana agar industri baja, industri keramik bisa memanfaatkan di dalam negeri. Cara penghematannya adalah substitusi impor. Substitusi impor bahan baku kita dorong untuk investasi,” jelas Airlangga.

Dia menandaskan, di tengah pelemahan kurs rupiah akibat gejolak global dan kenaikan tingkat suku bunga AS, pihaknya mendorong agar BI melakukan swap rate untuk jangka panjang. “Dengan swap rate yang jelas maka mereka yang punya devisa hasil ekspor bisa dengan cepat merupiahkan ekspor. Pada saat mereka butuh dolar, mereka bisa mencari dolar,” tuturnya.

Dalam catatan Bank of America, Merrill Lynch menyatakan prediksi adanya eskalasi skala menengah pada perang dagang musim panas kali ini. “Kita tidak bisa membeberkan tekanan penuh, termasuk dampak resesi akibat perang dagang,” demikian laporan mereka. Ketegangan perang dagang mengacaukan pasar keuangan, termasuk saham, mata uang, dan komoditas perdagangan khu susnya kedelai hingga batu bara pada beberapa pekan terakhir.

Mata uang yuan terus melemah terhadap dolar. Saham di pasar China juga terus bergejolak karena perang dagang. “Ini bukan kiamat ekonomi. Kita tidak akan memburu makanan kita dengan tongkat,” kata ekonomi di ING, Rob Carnell.

Adapun analisis Pictet Asset Management menyebutkan, sejumlah negara akan terkena dampak ekonomi terhadap eskalasi perang dagang. Luksemburg, Taiwan, Republik Slovakia, Hungaria, dan Republik Ceko merupakan ne gara yang paling rawan dalam perang dagang tersebut. (SON)

Share.

Comments are closed.