Washington, Teritorial.Com – Peristiwa 9/11 menandakan awal istilah terorisme mengglobal, hal tersebut sejalan dengan politik global Amerika Serikat (AS) Global War On Terror (GWOT) yang dipelopori oleh Presiden Goerge W. Bush.
Predikat terorisme langsung melekat pada Al-Qaeda yang dituding sebagai dalang dari peristiwa 9/11, walaupun Al-Qaeda sendiri jauh lebih dahulu hadir sebelum istilah terorisme ramai diperbincangkan.
Namun dibalik framing media barat saat itu, banyak yang tidak sadar bahwa jika ditelusuri, fakta sejarah menunjuan bahwa ada interaksi kuat antara AS dengan sejumlah nama kelompok yang dewasa ini disudutkan dengan istilah teroris.
Adalah sebuah fakta sejarah bahwa AS melalui CIA telah menggunakan kelompok teroris untuk kepentingan mereka menghadapi Uni Soviet ketika Perang Dingin. Mengandalkan strategi perang proxy negara-negara Barat dibawah komando AS sengaja mengunakan tangan Islam militan sebagai sekutu untuk melawan Uni Soviet.
Di tahun 1970-an CIA telah menggunakan Ikhwanul Muslimin di Mesir sebagai penghalang, baik untuk menggagalkan ekspansi Soviet dan mencegah penyebaran ideologi komunis di dunia Arab. AS juga secara terbuka mendukung Sarekat Islam (SI) melawan Soekarno di Indonesia, dan mendukung kelompok teror Jamaat-e-Islami melawan Zulfiqar Ali Bhutto di Pakistan.
CIA juga melahirkan Osama Bin Laden dan membesarkan organisasinya selama tahun 1980-an. Mantan Menteri Luar Negeri Inggris, Robin Cook, mengatakan kepada House of Commons bahwa Al-Qaeda tidak diragukan lagi adalah produk dari badan-badan intelijen Barat.
Dalam bahasa Arab, Al Qaeda secara harfiah berarti singkatan dari “database” – yang pada mulanya adalah database komputer berisikan ribuan ekstremis Islam, yang dilatih oleh CIA dan didanai oleh Saudi, untuk mengalahkan Rusia di Afghanistan.
Bahkan ketika pembuat kebijakan luar negeri AS mengklaim menentang ekstremisme Muslim, mereka dengan sengaja menjadikannya sebagai senjata kebijakan luar negeri. Sekarang ISIS adalah senjata terbaru yang paling terkenal di dunia internasional.
ISIS tumbuh dan berkembang sangat cepat karena akibat invasi dan pendudukan AS di Irak pada 2003 yang menciptakan pra-kondisi bagi kelompok-kelompok radikal Sunni, seperti ISIS, untuk mengakar. Bahkan AS dengan sengaja menghancurkan mesin negara sekuler Saddam Hussein dan menggantinya dengan pemerintahan yang didominasi Syiah.
Di bawah rezim Syiah baru yang didukung AS, kelas pekerja Sunni kehilangan ratusan ribu pekerjaan. Secara sistematis aset mereka juga dirampas dan mulai kehilangan pengaruh politik. Kebijakan AS berhasil memperburuk perpecahan sektarian dan menciptakan lahan subur bagi ketidakpuasan kelompok sunni di mana Al-Qaeda mengakar.
ISIS adalah nama lain dari Al-Qaeda untuk menaklukkan dan memecah Suriah. Bila dilihat secara mendalam sebetulnya ada tiga perang di Suriah. Pertama antara pemerintah dengan pemberontak dan teroris; kedua antara Iran dan Arab Saudi dan ketiga Perang Dingin baru antara AS dan Rusia. Faktor ketiga inilah yang menyebabkan AS mempersenjatai para pemberontak dan teroris – karena Presiden Suriah, Bashar al-Assad, adalah sekutu utama Rusia.
Namun sebagaimana pribahasa mengatakan bahwa sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh jua. Pribahasa inilah yang bisa dibilang tepat dalam mengambarkan kebingungan politik global AS dalam menyikapi peta konflik di Timur Tengah saat ini. Adapun bantuan militer serta akses yang diberikan lambat laun dimanfaatkan oleh sejumlah kolompok-kelompok militan Islam tersebut untuk mencapai kepentingan politik mereka.
Banyak dari kolompok militan Islam tersebut melahirkan seorang ahli-ahli atau tokoh karishmatik yang banyak menyita perhatian dunia Islam. Tak jarang dari mereka yang menjadi tokoh revolusi pergerakan perjuangan umat disejumlah negara.
Contohnya seperti Dr Ayman Al-Zawahiri yang sampai saat ini terus memusuhi dan menentang segala bentuk kebijakan barat yang bermain mata dengan pemerintah Mesir, hal yang sama terjadi di Tunisia, Maroko, hingga Suriah. Hanya saja kasus Suriah lebih kompleks dengan banyaknya negara-negara besar yang beradu kepentingan di negara para Mullah tersebut. (SON)