TERITORIAL.COM, JAKARTA – Batik bukan sekadar kain bermotif yang dikenakan saat acara resmi atau hari Jumat di kantor maupun sekolah. Sebagai generasi hari ini, Gen Z memaknai batik sebagai bagian dari gaya hidup dan identitas budaya yang terus berkembang. Di balik pola-pola geometris, garis lengkung, hingga titik-titik kecil yang tampak estetik di media sosial, batik menyimpan filosofi panjang tentang kehidupan, nilai, dan cara pandang masyarakat Indonesia.
Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat, batik justru menemukan momentumnya kembali—terutama di kalangan generasi muda. Dari outfit harian, konser musik, hingga konten fashion di TikTok dan Instagram, batik tampil lebih fleksibel, lebih santai, dan jauh dari kesan kuno.
Perubahan ini juga dirasakan Bevan Catra Septiawan (14), siswa SMP BIAS Boarding School Yogyakarta. Ia menilai batik kini semakin mudah diterima anak muda karena desainnya tidak lagi kaku dan terasa dekat dengan gaya hidup mereka. Mengenakan batik, baginya, bukan soal kewajiban atau aturan sekolah, melainkan pilihan yang memberi rasa percaya diri sekaligus kebanggaan terhadap budaya sendiri.
Namun, di balik popularitas tersebut, muncul pertanyaan penting: sejauh mana batik dipahami sebagai simbol budaya, bukan sekadar tren visual?
Batik sebagai Bahasa Simbolik
Sejak awal, batik diciptakan bukan tanpa makna. Seperti halnya setiap karya yang lahir dari proses tradisi dan budaya, batik dalam setiap torehannya sarat makna yang merefleksikan nilai hidup masyarakat pada zamannya. Motif parang, misalnya, melambangkan kekuatan, kesinambungan, dan perjuangan tanpa henti. Sementara kawung merepresentasikan kesucian, pengendalian diri, dan keseimbangan.
Di masa lalu, motif tertentu bahkan hanya boleh dikenakan oleh kalangan tertentu, seperti bangsawan atau keluarga kerajaan. Batik berfungsi sebagai penanda status sosial sekaligus identitas kultural.
Kini, batas-batas itu telah mencair. Batik bisa dikenakan siapa saja, kapan saja, dan dalam berbagai gaya. Meski konteks sosialnya berubah, filosofi di baliknya tetap relevan—terutama di tengah kehidupan modern yang sering kali kehilangan makna.
Relevansi Batik di Era Modern
Bagi masyarakat modern, khususnya Gen Z, batik tidak lagi dilihat sebagai simbol formalitas semata. Batik justru menjadi medium ekspresi diri. Potongannya lebih berani, warnanya lebih eksperimental, dan cara memakainya jauh lebih bebas.
Pandangan tersebut juga tercermin dari cara Bevan memaknai batik. Ia melihat batik sebagai ruang negosiasi antara tradisi dan modernitas—tempat anak muda bisa tetap tampil relevan tanpa harus meninggalkan akar budaya.
“Batik sekarang nggak lagi terkesan kuno. Justru lagi skena dan cocok dipakai anak muda,” ujar Bevan yang mengaku kerap menggunakan batik baik untuk acara informal maupun formal; saat kumpul santai bersama teman hingga momen formal seperti ketika ia mengikuti lomba-lomba antarsekolah.
“Modelnya sekarang lebih beragam dan bisa dipakai ke banyak situasi, nggak cuma buat acara resmi. Saya senang pakai batik karena rasanya bisa tampil stylish, tapi tetap punya makna. Pakai batik bikin saya merasa lebih dekat sama identitas budaya sendiri, bukan cuma ikut tren,” pungkasnya.
Yang diungkapkan Bevan menunjukkan pergeseran cara generasi muda memaknai budaya. Batik tidak harus selalu hadir dalam bentuk tradisional untuk tetap bermakna. Adaptasi justru menjadi kunci agar warisan budaya tetap hidup.
Antara Estetika dan Kesadaran Makna
Popularitas batik di ruang digital membawa dampak ganda. Di satu sisi, batik semakin dikenal dan digunakan. Di sisi lain, ada risiko batik direduksi menjadi sekadar motif cantik tanpa pemahaman konteks.
Banyak konten fashion menampilkan batik sebagai bagian dari gaya hidup, namun jarang membahas makna di balik motif yang dikenakan. Padahal, memahami filosofi batik dapat memperkaya pengalaman personal saat mengenakannya.
Batik bukan hanya tentang “looks good”, tetapi juga tentang nilai-nilai seperti kesabaran, harmoni dengan alam, hingga refleksi perjalanan hidup manusia—nilai yang justru relevan di tengah tekanan hidup modern.
Batik dan Identitas Generasi Muda
Bagi Gen Z, identitas adalah sesuatu yang cair dan terus dibentuk. Dalam proses ini, batik dapat menjadi jangkar budaya—pengingat bahwa modernitas tidak harus menghapus akar tradisi.
Menggunakan batik hari ini bukan berarti kembali ke masa lalu, melainkan membawa nilai-nilai lama ke konteks yang lebih segar. Batik bisa hadir di ruang kreatif, panggung musik, hingga keseharian urban.
Lebih dari itu, batik juga menjadi simbol perlawanan halus terhadap homogenisasi global. Di tengah dominasi fast fashion dan tren internasional, batik menawarkan narasi lokal yang autentik—tenang, personal, dan berakar.
Menjaga Makna di tengah Dinamika Zaman
Pelestarian batik tidak cukup hanya dengan memproduksi dan memakainya. Pemahaman terhadap makna dan prosesnya—mulai dari filosofi motif hingga teknik pembuatannya—menjadi bagian penting dari menjaga warisan budaya ini.
Edukasi berbasis digital, kolaborasi dengan kreator muda, hingga narasi budaya yang dikemas ringan dapat menjadi jembatan antara tradisi dan generasi baru.
Batik telah membuktikan kemampuannya bertahan lintas zaman. Tantangan ke depan bukan soal eksistensi, melainkan bagaimana makna filosofisnya tetap hidup di tengah perubahan gaya hidup.
Di era modern, batik bukan sekadar kain warisan. Ia adalah cerita tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan nilai apa yang ingin kita bawa ke masa depan. Bagi Bevan dan generasinya, memahami batik bisa menjadi cara sederhana untuk tetap terhubung dengan identitas di tengah dunia yang terus bergerak cepat.

