Jakarta, TERITORIAL.COM – Museum Keris Indonesia resmi dibuka kembali setelah menjalani revitalisasi di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Jumat (16/10/2026). Museum yang sebelumnya bernama Museum Pusaka ini memiliki 6.021 koleksi, mulai dari keris, tombak, dan pedang hingga sejumlah koleksi keramik.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, revitalisasi tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat peran museum sebagai pusat edukasi, informasi, dan pelestarian budaya Indonesia.
Menurut Fadli, keris tidak seharusnya hanya dipandang sebagai senjata, benda pusaka, atau objek yang berkaitan dengan hal mistis. Keris juga menyimpan nilai seni, sejarah, teknologi tradisional, serta pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun.
“Kita harapkan museum-museum ini bisa menjadi pusat edukasi, pusat budaya, pusat informasi, dan juga menjadi cultural enclave atau kantong budaya,” kata Fadli dalam keterangan yang disampaikan pada Sabtu (17/10/2026).
Ia berharap keberadaan museum juga dapat mendorong perkembangan ekonomi berbasis kebudayaan sekaligus memperkuat identitas bangsa.
Revitalisasi Museum Keris Indonesia Tak Hanya Pembenahan Fisik
Fadli menjelaskan, revitalisasi museum tidak cukup dilakukan dengan memperbaiki bangunan dan fasilitas. Pembaruan juga perlu mencakup tata kelola, kurasi koleksi, penelitian, digitalisasi, penyusunan narasi sejarah, hingga perluasan akses masyarakat terhadap pengetahuan kebudayaan.
Melalui pembaruan tersebut, museum diharapkan tidak hanya menjadi tempat menyimpan benda bersejarah, tetapi juga ruang belajar yang dapat memberikan pengalaman baru kepada pengunjung.
Perubahan nama dari Museum Pusaka menjadi Museum Keris Indonesia menjadi salah satu bagian dari upaya mempertegas identitas museum. Penamaan baru itu sekaligus menempatkan keris sebagai fokus utama dalam penyajian koleksi dan informasi.
Fadli berharap identitas tersebut dapat tercermin dalam penataan koleksi, penyusunan alur cerita pameran, narasi kuratorial, serta program edukasi yang lebih menarik, terutama bagi generasi muda.
Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan, Restu Gunawan, mengatakan perubahan nama tersebut dilakukan untuk memperjelas arah pengelolaan museum.
Menurut Restu, penekanan pada keris akan membantu pengunjung memahami koleksi dan informasi yang disajikan secara lebih terarah. Ia juga berharap museum dapat dikelola secara profesional serta terbuka terhadap kerja sama dengan berbagai pihak.
Menampilkan Keragaman Tradisi Keris Nusantara
Museum Keris Indonesia memiliki 6.021 koleksi yang mencerminkan kekayaan tradisi perkerisan di Nusantara. Keris bukan hanya berkembang di Jawa, melainkan juga ditemukan dalam tradisi budaya di Sumatra, Bali, Lombok, Sumbawa, Sulawesi, Kalimantan, hingga wilayah timur Indonesia.
Tradisi keris juga dikenal di sejumlah negara Asia Tenggara, seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Filipina.
Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa keris memiliki hubungan erat dengan sejarah dan kehidupan masyarakat di berbagai daerah. Bentuk bilah, motif pamor, serta teknik pembuatannya menyimpan pengetahuan dan keterampilan yang berkembang dari generasi ke generasi.
Selain melihat koleksi, pengunjung juga dapat mengenal proses pembuatan keris melalui demonstrasi penempaan atau besalen. Museum yang telah direvitalisasi ini turut menghadirkan tayangan imersif untuk membantu masyarakat memahami keris dan tradisi yang menyertainya.
Dengan pendekatan tersebut, museum diharapkan dapat memperkenalkan keris secara lebih dekat kepada masyarakat, termasuk pengunjung yang belum banyak mengetahui sejarah dan proses pembuatannya.
Keris Diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda
Keris Indonesia telah mendapatkan pengakuan UNESCO sebagai warisan budaya takbenda. Keris diproklamasikan sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada 2005, kemudian dimasukkan ke dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2008.
Pengakuan tersebut menegaskan pentingnya menjaga tradisi perkerisan, termasuk pengetahuan, keterampilan, dan praktik budaya yang melekat di dalamnya.
Pelestarian keris tidak hanya berkaitan dengan perawatan benda fisik, tetapi juga keberlanjutan pengetahuan para empu serta proses pewarisan keterampilan kepada generasi berikutnya.
Pemerintah juga menetapkan 19 April sebagai Hari Keris Nasional pada 2025. Penetapan ini diharapkan menjadi momentum untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap keris sebagai bagian dari identitas dan warisan budaya Indonesia.
Pemerintah Dorong Kolaborasi Pelestarian Budaya
Dalam peresmian Museum Keris Indonesia, Fadli Zon menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang terlibat dalam proses revitalisasi, termasuk pengelola TMII, para empu, maestro keris, budayawan, dan komunitas perkerisan.
Restu Gunawan berharap museum tersebut terus dikembangkan melalui kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat.
Kerja sama itu dinilai penting agar museum dapat menjalankan fungsinya secara berkelanjutan, baik dalam pelindungan koleksi maupun penyebaran pengetahuan tentang kebudayaan Indonesia.
Sejumlah pejabat turut hadir dalam peresmian tersebut, antara lain Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo, Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan Bambang Wibawarta, serta jajaran pejabat di lingkungan Kementerian Kebudayaan.
Melalui revitalisasi dan perubahan nama ini, Museum Keris Indonesia diharapkan menjadi ruang untuk mengenal lebih jauh sejarah, filosofi, dan keterampilan di balik pembuatan keris. Dengan begitu, warisan budaya tersebut tidak hanya tersimpan sebagai koleksi museum, tetapi juga terus dipahami dan diwariskan kepada generasi mendatang.

