TERITORIAL.COM, YOGYAKARTA – Memiliki keistimewaan yang membuat siapa saja ingin kembali, itulah Yogyakarta. Kehangatan, keramahan dan kesederhanaan menjadi magnet tersendiri. Banyak wisatawan nusantara yang datang ke Yogya bukan hanya berlibur, tetapi juga untuk merasakan atmosfernya.
Yogya sering disebut kota budaya karena budaya yang mengakar dalam kehidupan masyarakat. Tradisi dan modernitas berjalan beriringan. Upacara adat, kesenian rakyat, hingga karya-karya kontemporer hidup berdampingan, membentuk sebuah identitas yang unik sekaligus memesona.
Namun, pesona terbesar Yogya sesungguhnya ada pada jejak sejarahnya. Keberadaan Keraton Yogyakarta hingga deretan candi tersebar di berbagai wilayah Yogya. Bukti kejayaan peradaban masa lalu yang membentuk wajah dan karakter kota Yogya saat ini.
Salah satu candi yang menarik untuk dikunjungi adalah Candi Sari, peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang dibangun sekitar abad ke-8 hingga ke-9 Masehi, lebih tepatnya pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran dari Wangsa Syailendra.
Berbeda dengan banyak candi lain yang biasanya merupakan tempat pemujaan, Candi Sari merupakan wihara atau asrama bagi para bhiksu. Hal ini terlihat dari adanya ruangan-ruangan di dalam candi yang diyakini sebagai tempat tinggal, belajar, sekaligus bermeditasi.
Yang membuat Candi Sari semakin unik adalah strukturnya yang terdiri dari dua lantai. Lantai bawah berisi ruang-ruang dengan pintu masuk yang langsung menghadap ke halaman depan. Lantai atas digunakan untuk kegiatan belajar agama dan meditasi dalam suasana yang lebih tenang.
Candi ini memiliki relief serta ornamen detail di dindingnya yang menunjukkan perpaduan nilai fungsi dan artistik yang memesona. Pada bagian atapnya terdapat sembilan stupa, mirip dengan stupa di Candi Borobudur. Dindingnya juga dihiasi ukiran relief, arca, dan motif-motif Buddhisme.
Kesakralan dan kesunyian Candi Sari masih sangat terasa saat meniti susunan tangga dari bebatuan kuno yang mengarah ke lantai utama. Seperti melintasi zaman yang berbeda, Candi Sari bagai menarik masuk setiap jiwa untuk ikut merasakan kehidupan para bhiksu pada ribuan tahun silam.
Meskipun sebagian strukturnya telah termakan usia dan tertempa alam, Candi Sari masih berdiri gagah untuk dinikmati pengunjung. Letaknya yang tidak jauh dari kompleks Candi Prambanan membuatnya mudah dijangkau, sekaligus memberi kesempatan bagi para pengunjung untuk melihat lebih dekat salah satu bukti kemajuan arsitektur Jawa kuno. Dengan dua lantai yang sarat makna, Candi Sari menjadi saksi kesakralan dan kejayaan pada masa itu.
Candi Sari yang berada di dusun Bendan, desa Tirtomartani, kecamatan Kalasan, kabupaten Sleman bisa menjadi alternatif bagi para wisatawan yang ingin berwisata candi di Yogya dengan cukup nyaman.
Walaupun berada di tengah pemukiman warga, aksesnya cukup mudah karena pengunjung dapat memarkir kendaraannya tepat di gerbang (pagar) masuk area candi tanpa berjalan jauh.
Harga tiket masuk yang sangat terjangkau yaitu Rp.10.000,- untuk umum serta Rp. 4.000,- untuk pelajar. Sementara untuk wisatawan mancanegara hanya perlu membayar tiket Rp. 20.000,-.
Pengunjung yang tidak terlalu ramai dibandingkan dengan candi-candi lainnya, sehingga dapat menikmati candi dengan khidmat dan tanpa tergesa-gesa.

